30, 2026
Politik

Kapal Garibaldi Jadi KRI Sriwijaya, Prabowo Terima AL Italia di Istana

Presiden Prabowo Subianto mengundang perwakilan Angkatan Laut Italia ke Istana Kepresidenan, Jakarta.]]>

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kapal Garibaldi Jadi KRI Sriwijaya, Prabowo Terima AL Italia di Istana

Kapal Induk ITS Garibaldi Resmi Menjadi KRI Sriwijaya

Pemerintah Indonesia secara resmi mengakuisisi kapal induk ringan milik Italia, ITS Garibaldi, yang kini berganti nama menjadi KRI Sriwijaya. Pengalihan status kapal tersebut menjadi bagian dari kerja sama pertahanan strategis antara Indonesia dan Italia yang disepakati dalam pertemuan bilateral di Istana Kepresidenan.

Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan delegasi Angkatan Laut Italia di Istana Kepresidenan Jakarta untuk menandai proses serah terima kapal yang sebelumnya melayani Armada Angkatan Laut Italia sejak dekade 1980-an. Kapal dengan lambung nomor C551 itu menjadi kapal induk pertama yang dimiliki Indonesia dan menandai lompatan kemampuan TNI Angkatan Laut dalam proyeksi kekuatan laut.

Latar Belakang Kapal Eks Garibaldi

ITS Garibaldi merupakan kapal induk ringan yang dibangun galangan Fincantieri dan mulai bertugas pada 1985. Kapal dengan panjang sekitar 180 meter dan bobot penuh kurang lebih 13.850 ton tersebut dirancang untuk mengoperasikan pesawat jet Harrier, helikopter antikapal, serta mendukung operasi amfibi dan kemanusiaan.

Sepanjang pengabdiannya, Garibaldi terlibat dalam berbagai operasi internasional, termasuk misi di Somalia, Kosovo, Libya, serta operasi kemanusiaan di kawasan Mediterania. Italia memutuskan menggantinya dengan kapal induk generasi baru, sehingga Garibaldi dibuka untuk opsi pengalihan kepada negara mitra strategis, termasuk Indonesia.

Sejumlah kalangan menilai usia kapal yang menembus empat dekade menjadi perhatian tersendiri. Namun pemerintah menegaskan proses modernisasi dan pemeliharaan akan dilakukan menyeluruh sebelum kapal beroperasi penuh di perairan Indonesia. Penilaian teknis dilakukan bersama antara Kementerian Pertahanan, TNI AL, dan pihak Italia sebagai negara asal pembuat kapal.

Komitmen Kerja Sama Pertahanan Indonesia-Italia

Dalam pertemuan di Istana, kedua pihak membahas penguatan kemitraan pertahanan yang mencakup pengalihan kapal, pelatihan personel, alih teknologi, serta dukungan pemeliharaan jangka panjang. Kerja sama ini melengkapi kontrak sebelumnya antara Indonesia dan Italia, termasuk pengadaan kapal patroli lepas pantai kelas Paolo Thaon di Revel serta sistem senjata dan radar.

Pemerintah menyebut akuisisi KRI Sriwijaya sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan alat utama sistem senjata yang direncanakan dalam dokumen pembangunan pertahanan jangka menengah. Kapal induk dinilai memberi kemampuan baru dalam pengawasan wilayah laut, operasi bantuan bencana, evakuasi warga negara, dan penegakan kedaulatan di perairan yurisdiksi Indonesia.

Respons dan Tantangan Ke Depan

Pengamat pertahanan menyoroti sejumlah tantangan yang menyertai kepemilikan kapal induk, mulai dari biaya operasional harian, kebutuhan bahan bakar, pemeliharaan sistem propulsi, hingga penyediaan skuadron udara yang sesuai. Tanpa dukungan pesawat tempur berbasis kapal yang memadai, kapal induk berisiko hanya menjadi simbol kekuatan tanpa dampak operasional yang signifikan.

Selain itu, kebutuhan membangun doktrin, organisasi, dan pelatihan awak kapal menjadi pekerjaan besar yang harus disiapkan bertahun-tahun. TNI AL disebut tengah menyusun peta jalan pengoperasian kapal induk, termasuk pembentukan satuan tugas khusus serta skema kerja sama dengan negara sahabat untuk pelatihan penerbang dan kru dek.

Dari sisi anggaran, alokasi pemeliharaan kapal induk akan menjadi pos baru dalam belanja pertahanan. Dukungan industri dalam negeri, khususnya galangan PT PAL, diharapkan dapat mengambil peran dalam perawatan berkala agar ketergantungan pada pihak luar berkurang seiring waktu.

Dampak Strategis bagi Kawasan

Kehadiran KRI Sriwijaya menempatkan Indonesia dalam kelompok terbatas negara di Asia Tenggara yang mengoperasikan kapal induk. Langkah ini dipandang sebagai penegasan arah kebijakan pertahanan yang lebih mandiri dan berbasis kekuatan laut, sejalan dengan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

Indonesia menegaskan modernisasi alutsista dilakukan untuk kepentingan pertahanan dan bukan bagian dari aliansi militer tertentu. Kebijakan luar negeri bebas aktif tetap menjadi dasar, dengan penekanan pada diplomasi pertahanan, kerja sama latihan bersama, serta kontribusi pada misi perdamaian internasional.

Serah terima ini juga memperkuat hubungan bilateral Jakarta-Roma yang dalam beberapa tahun terakhir meningkat di sektor ekonomi, energi, dan industri pertahanan. Italia menempatkan Indonesia sebagai mitra penting di kawasan Indo-Pasifik, sementara Indonesia memanfaatkan hubungan tersebut untuk mempercepat transfer teknologi dan penguatan kapasitas industri pertahanan nasional.

Proses berikutnya mencakup penyelesaian administrasi, sertifikasi kelayakan laut, serta pengiriman kapal ke Indonesia. Pemerintah belum merinci jadwal pasti kedatangan KRI Sriwijaya di perairan Tanah Air, namun menyatakan seluruh tahapan akan berjalan sesuai kontrak dan ketentuan yang berlaku.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter