30, 2026
Nasional

Sosok ABK Kapal 5 Jurnalis: Melaut Sejak Kecil, Bantu Rawat Kakak Tunanetra

Jenazah ABK Surakman yang hilang ditemukan dan disemayamkan di kampung halamannya. Keluarga mengenang sosok pekerja keras dan perhatian.]]>

Lestari Purnama
Lestari Purnama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Sosok ABK Kapal 5 Jurnalis: Melaut Sejak Kecil, Bantu Rawat Kakak Tunanetra

Nama Ahmad tidak muncul dalam pemberitaan besar. Namun di balik pelayaran yang mengangkut lima jurnalis dari Pelabuhan Muara Angke menuju Kepulauan Seribu, pria berusia 27 tahun itu memegang peran penting sebagai anak buah kapal (ABK). Ia membantu nakhoda menavigasi perahu, mengatur tali, dan memastikan penumpang tetap aman selama perjalanan.

Ahmad sudah mengenal laut sejak kecil. Ia tumbuh di kawasan pesisir Jakarta Utara, tempat sebagian besar warga menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan. Sejak usia 13 tahun, ia mulai ikut melaut bersama tetangga. Pendidikan formalnya hanya tamat sekolah menengah pertama. Sejak itu, ia memilih menjadi ABK karena tidak ada pilihan lain.

Melaut Sejak Usia 13 Tahun

Kepada para jurnalis yang ikut dalam pelayaran, Ahmad bercerita bahwa pekerjaan sebagai ABK bukan hal yang mudah. Ia harus bangun sebelum matahari terbit, menyiapkan perlengkapan kapal, dan membantu nakhoda memeriksa mesin. Selama di laut, waktu istirahatnya terbatas. Kadang ia hanya tidur dua hingga tiga jam dalam sehari.

"Kalau musim ikan, kami bisa melaut sampai tiga hari. Kalau ombak besar, ya harus sabar," ujarnya singkat.

Penghasilan sebagai ABK tidak menentu. Sistem bagi hasil membuat pendapatannya bergantung pada hasil tangkapan. Dalam sebulan, ia bisa membawa pulang antara Rp1,5 juta hingga Rp3 juta. Jumlah itu harus cukup untuk menghidupi dirinya, seorang kakak yang tunanetra, dan seorang keponakan yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Merawat Kakak Tunanetra

Kakak Ahmad, Siti, kehilangan penglihatan sejak usia remaja akibat penyakit yang tidak tertangani dengan baik. Sejak orang tua mereka meninggal, Ahmad mengambil alih tanggung jawab merawat Siti. Setiap pulang melaut, ia menyiapkan makanan, membantu Siti mandi, dan mengantar kakaknya ke puskesmas untuk kontrol rutin.

"Kakak saya tidak bisa apa-apa sendiri. Kalau saya tidak ada, siapa lagi," kata Ahmad.

Meski hidup dalam keterbatasan, Ahmad tidak pernah mengeluh. Ia justru bersyukur masih bisa bekerja. Menurutnya, laut adalah sumber kehidupan yang tidak pernah habis, asalkan dijaga. Ia prihatin dengan kondisi perairan Teluk Jakarta yang semakin tercemar sampah plastik dan limbah rumah tangga. Sampah sering tersangkut di baling-baling kapal dan membuat mesin rusak.

Kondisi Kerja ABK Tradisional

Kehidupan Ahmad mencerminkan kondisi umum ABK tradisional di Jakarta Utara. Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta mencatat ada ribuan ABK yang bekerja di kapal penumpang dan kapal ikan. Sebagian besar tidak memiliki kontrak kerja tetap, jaminan kesehatan, atau perlindungan sosial. Mereka bekerja berdasarkan kesepakatan lisan dengan pemilik kapal.

Ketika ditanya soal jaminan kesehatan, Ahmad mengaku tidak memiliki BPJS. Ia hanya mengandalkan tabungan kecil yang disimpan di rumah. "Kalau sakit, ya beli obat di warung. Kalau parah, baru ke puskesmas," ujarnya.

Pemerintah sebenarnya memiliki program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menyasar pekerja informal. Namun, banyak ABK seperti Ahmad yang belum terdaftar karena terkendala administrasi dan kurangnya sosialisasi. Selain itu, pendapatan yang tidak tetap membuat mereka enggan membayar iuran bulanan.

Pelayaran Bersama Jurnalis

Pelayaran yang mengangkut lima jurnalis ini merupakan bagian dari liputan mendalam tentang kehidupan masyarakat pesisir. Para jurnalis berasal dari beberapa media nasional. Mereka menghabiskan waktu dua hari satu malam untuk mengamati aktivitas nelayan dan ABK di Kepulauan Seribu.

Ahmad menjadi salah satu narasumber utama. Ia membantu para jurnalis memahami ritme kerja di kapal, mulai dari persiapan keberangkatan hingga penanganan hasil tangkapan. Meski tidak terbiasa berbicara di depan banyak orang, Ahmad menjawab pertanyaan dengan jujur dan sederhana.

Salah satu jurnalis, Rina, mengaku terkesan dengan dedikasi Ahmad. Menurutnya, kisah ABK seperti Ahmad jarang terangkat ke permukaan. "Mereka yang menjaga laut, tapi hampir tidak pernah diberitakan," katanya.

Harapan untuk Masa Depan

Ahmad berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap nasib ABK tradisional. Ia ingin ada program pelatihan keterampilan agar ABK bisa beralih ke pekerjaan lain jika kondisi laut semakin sulit. Ia juga berharap ada bantuan sosial untuk keluarga seperti kakaknya yang tunanetra.

"Saya tidak minta banyak. Cukup ada jaminan kesehatan dan pendidikan buat keponakan saya," ujarnya.

Hingga kini, Ahmad masih melaut hampir setiap hari. Ia tidak tahu sampai kapan akan terus bekerja sebagai ABK. Yang jelas, ia akan terus berusaha selama masih mampu. Baginya, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang bertahan hidup bagi keluarga kecilnya.

Kisah Ahmad menjadi potret nyata kehidupan di balik industri pelayaran rakyat. Di tengah modernisasi dan pembangunan infrastruktur maritim, masih banyak pekerja seperti Ahmad yang belum tersentuh perlindungan dasar. Mereka bekerja tanpa jaminan, namun menopang sektor kelautan yang menjadi tulang punggung ekonomi pesisir.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Purnama

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter