Kapal Nelayan Kena Hujan Batu Erupsi Gunung Anak Krakatau di Lampung
Sebuah kapal nelayan di perairan Lampung menjadi korban hujan batu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Insiden ini terjadi pada Selasa (15/11) siang, membuat 10 awak kapal terpaksa dievakuasi kondisinya dalam keadaan panik. Kapal bernomer KM 001 tersebut sedang melaut di wilayah perairan antara Pulau Sumatra dan Pulau Anak Krakatau ketika tiba-tiba dilanda erupsi.
Kronologi Insiden
Menurut keterangan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi sekitar pukul 13.30 WIB. Erupsi tersebut disertai dengan guguran material batu vulkanik yang menjangkau area laut di sekitar gunung tersebut.
"Kapal nelayan KM 001 sedang melaut di koordinat 6.102 derajat lintang selatan dan 105.437 derajat buah timur ketika terkena hujan batu vulkanik. Material vulkanik tersebut mengenai bagian atas kapal dan membuat para awak kapal panik," jelas Sutopo dalam keterangannya, Rabu (16/11).
Setelah merasa kondisi tidak aman, para awak kapal segera menghubungi pusat koordinasi darurat di Pelabuhan Panjang, Lampung. Mereka melaporkan kondisi darurat dan meminta bantuan evakuasi segera.
Evakuasi dan Penanganan Darurat
Berdasarkan laporan yang diterima, tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI AL, dan Dishub Lampung segera diturunkan untuk melakukan evakuasi. Kapal patroli TNI AL KRI Singosari-990 dan KRI Rigel-933 segera berlayar menuju lokasi insiden.
"Kita mendapat laporan sekitar pukul 14.00 WIB dan langsung mengirimkan tim. Kapal KRI Singosari-990 tiba di lokasi sekitar pukul 16.00 WIB dan langsung melakukan evakuasi," ujar Komandan Lanal Lampung, Letnan Kolonel Laut (P) Andi Heriawan.
Proses evakuasi berlangsung selama sekitar satu jam. Seluruh 10 awak kapal berhasil diselamatkan dan dievakuasi ke daratan. Mereka kemudian dibawa ke RSUD Abdul Moeloek untuk diperiksa kondisinya.
"Kondisi 10 awak kapal selamat, tapi mengalami luka ringan akibat terkena serpihan batu vulkanik. Mereka juga masih dalam kondisi syok," jelas Kepala RSUD Abdul Moeloek, dr. H. Mursyid.
Respon Pemerintah dan Warga
Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi, langsung meninjau lokasi dan memimpin rapat darurat di kantor BPBD Lampung. Dalam rapat tersebut, pemerintah setempat memutuskan untuk mengimbau para nelayan untuk tidak melaut di sekitar wilayah Anak Krakatau.
"Kita akan menyiapkan dua posko darurat di Pelabuhan Panjang dan Labuhan. Selain itu, kita juga akan membagikan masker dan alat pelindung diri kepada warga yang tinggal di pesisir," ujar Arinal.
Sementara itu, warga di sekitar pesisir Lampung dan Banten yang merasakan getaran akibat erupsi pun mulai khawatir. Beberapa warga di Kecamatan Rajabasa dan Kalianda, Lampung, melaporkan mendengar suara gemuruh dan melihat awang-awang tebal dari arah Anak Krakatau.
Status Anak Krakatau dan Upaya Pencegahan
Menurut informasi dari PVMBG, aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam beberapa pekan terakhir memang meningkat. Erupsi terjadi secara frekwensi dengan tinggi kolom abu mencapai 500-800 meter dari puncak gunung.
Untuk mencegah korban lagi, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Selain mengimbau nelayan untuk menjauhi area berbahaya, pihak berwenang juga akan memantau aktivitas gunung secara rutin.
"Kita akan mengadakan koordinasi dengan BPBD Banten dan Lampung untuk memastikan semua persiapan sudah matang. Jika diperlukan, kita akan menaikkan status gunung," tambah Sutopo Purwo Nugroho.
Sementara itu, para nelayan yang selamat dari insiden tersebut masih trauma dan mengaku tidak akan segera melaut kembali. "Kondisi saat itu sangat mencekam. Batu-batu vulkanik hujan terus menerus, kami tak berdaya," ujar salah seorang awak kapal yang selamat.
Komentar (0)