17, 2026
Nasional

Karbon Monoksida Kepung Seluruh RI, Pakar BRIN: Dampaknya Mematikan

Warga RI dikejutkan penampakan karbon monoksida dari kebakaran lahan. Peneliti BRIN peringatkan potensi bahaya gas CO yang mematikan.]]>

Arief Pratama
Arief Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Karbon Monoksida Kepung Seluruh RI, Pakar BRIN: Dampaknya Mematikan

Karbon Monoksida Kepung Seluruh Indonesia, Pakar BRIN: Dampaknya Mematikan

Peningkatan kadar karbon monoksida (CO) di udara Indonesia menjadi perhatian serius akhir-akhir ini. Para ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa polusi gas beracun ini telah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia dengan dampak yang potensial mematikan bagi kesehatan masyarakat. Kondisi ini memicu kecemasan luas terkait kualitas udara yang semakin buruk di negara kita.

Sumber dan Penyebaran Polusi

Peneliti dari BRIN menjelaskan bahwa karbon monoksida terutama dihasilkan dari proses pembakaran tidak sempurna, baik secara alami maupun buatan. Sumber utama diantaranya adalah emisi kendaraan bermotor yang masih menggunakan bensin dengan kualitas buruk, aktivitas industri, hingga pembakaran hutan dan lahan secara liar. "Karbon monoksida adalah gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau, sehingga sangat berbahaya karena korban sering tidak menyadarinya sebelum terlambat," ujar Dr. Ahmad Fauzi, ahli kimia atmosfer dari BRIN.

Data monitoring yang dilakukan BRIN menunjukkan peningkatan signifikan kadar CO di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan. Kondisi ini terjadi seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi dan transportasi pasca pandemi, namun tanpa diimbangi dengan upaya kontrol emisi yang efektif. "Kita melompat ke arah industrialisasi tanpa mempersiapkan infrastruktur dan regulasi yang memadai untuk mengendalikan emisi," tambah Dr. Fauzi.

Dampak Terhadap Kesehatan

Karbon monoksida sangat berbahaya bagi kesehatan manusia karena mampu mengikat hemoglobin dalam darah lebih kuat daripada oksigen. Ketika terhirup, gas ini menggantikan oksigen dalam pembentukan oksihemoglobin, sehingga jaringan tubuh tidak mendapatkan pasokan oksigen yang memadai. Kondisi ini dikenal sebagai keracunan karbon monoksida.

Dampak akut dari keracunan CO bervariasi mulai dari sakit kepala, mual, pusing, hingga koma dan kematian jika terpapar dalam kadar tinggi dan lama. "Kita sering mengabaikan gejala seperti kelelahan atau sakit kepala saat berkendara di jalanan macet, padahal itu bisa menjadi tanda awal keracunan CO," kata dr. Siti Rahayu, spes.paru dari RSUD Cipto Mangunkusumo.

Risiko lebih besar dialami oleh kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta mereka yang menderita penyakit jantung dan paru-paru. Studi terbaru menunjukkan bahwa paparan CO jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, stroke, bahkan kanker paru.

Upaya Pencegahan dan Solusi

Menghadapi ancaman ini, BRIN bersama pemerintah sedang mengembangkan berbagai upaya pencegahan. Salah satunya melalui program pengendalian emisi kendaraan yang lebih ketat serta peningkatan kualitas bahan bakar. "Kita perlu transisi menuju kendaraan listrik dan meningkatkan efisiensi energi di sektor industri untuk mengurangi sumber emisi CO," jelas Dr. Budi Santoso, ahli lingkungan dari BRIN.

Pemerintah juga diminta untuk segera mengevaluasi dan memperketat regulasi mengenai emisi industri serta menambah ruang terbuka hijau di kota-kota. "Kita tidak bisa mengorbankan kesehatan masyarakat demi pertumbuhan ekonomi semata," tambah Dr. Budi.

Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk lebih waspada terhadap potensi keracunan CO, terutama saat berada di ruangan tertutup atau di area dengan lalu lintas padat. Penting juga untuk memeriksa sistem pembakaran pada kendaraan secara berkala dan memastikan ventilasi yang baik di ruangan tempat tinggal.

Kondisi ini menunjukkan perlunya kesadaran kolektif dalam menjaga kualitas udara. Dengan koordinasi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, diharapkan penyebaran karbon monoksida dapat dikendalikan dan dampak negatifnya terhadap kesehatan masyarakat dapat diminimalisir.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Arief Pratama

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter