20, 2026
Nasional

Kawasan Gunung Sumbing Wonosobo Kebakaran, 71 Pendaki Dievakuasi

Kebakaran melanda kawasan Gunung Sumbing, memaksa 71 pendaki turun dengan selamat. Tim gabungan berupaya memadamkan api di lokasi yang berbahaya.]]>

Farid Saputra
Farid Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kawasan Gunung Sumbing Wonosobo Kebakaran, 71 Pendaki Dievakuasi

Kebakaran melanda kawasan hutan dan lereng Gunung Sumbing di wilayah Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Sedikitnya 71 pendaki yang berada di jalur pendakian dievakuasi oleh tim gabungan karena api dan asap dinilai membahayakan keselamatan. Proses evakuasi berlangsung beberapa jam dengan melibatkan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo, personel TNI dan Polri, petugas SAR, pengelola jalur pendakian, serta relawan setempat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari petugas di lapangan, kebakaran pertama kali terlihat pada bagian lereng yang ditumbuhi rumput kering dan vegetasi semak. Api dengan cepat merambat karena tiupan angin cukup kencang di ketinggian. Asap tebal terlihat dari sejumlah titik pandang di bawah, termasuk dari arah pos pendaftaran dan permukiman terdekat, sehingga petugas memutuskan mengambil langkah pengamanan terhadap pendaki yang masih berada di jalur.

Kronologi dan Titik Kebakaran

Laporan mengenai munculnya asap dan api diterima petugas pada siang hingga sore hari. Tim pemadam dan tim penanganan kebakaran lahan langsung bergerak menuju lokasi dengan peralatan terbatas. Medan yang terjal, jalur sempit, serta minimnya sumber air di kawasan tersebut menjadi kendala utama dalam proses pemadaman. Petugas terpaksa menggunakan metode pemadaman manual dengan alat sederhana, antara lain dengan memukul api menggunakan ranting dan menyemprotkan air dari tabung portabel yang dibawa naik.

Hingga laporan ini disusun, luas kawasan yang terbakar belum dapat dipastikan. Petugas masih melakukan pendataan dan penghitungan di lapangan. Demikian pula penyebab kebakaran belum bisa disimpulkan secara pasti. Dugaan awal mengarah pada faktor cuaca kering dan bahan bakar alami berupa rumput serta dedaunan kering, namun kemungkinan keterlibatan aktivitas manusia masih ditelusuri.

Evakuasi 71 Pendaki

Sebanyak 71 pendaki yang terdiri atas beberapa kelompok dievakuasi ke titik kumpul yang dinilai aman. Sebagian pendaki berada di pos-pos istirahat dan sebagian lain sedang dalam perjalanan menuju puncak. Petugas mendata satu per satu identitas pendaki, mencocokkannya dengan data pendaftaran daring, lalu mengarahkan mereka turun melalui jalur yang dinilai paling jauh dari sebaran api dan asap.

Selain pendataan, petugas juga melakukan pemeriksaan kesehatan. Beberapa pendaki dilaporkan mengalami keluhan ringan seperti sesak napas, pusing, dan kelelahan akibat paparan asap serta perjalanan turun yang menempuh waktu lama. Mereka mendapat penanganan di pos kesehatan dan dilaporkan berangsur membaik. Tidak ada laporan korban jiwa maupun luka berat dalam peristiwa ini.

Kendala di Lapangan

Evakuasi berlangsung tidak sepenuhnya mulus. Jalur yang licin, jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap, serta komunikasi radio yang terputus-putus di beberapa titik memperlambat proses. Tim evakuasi dibagi ke dalam beberapa kelompok agar dapat menjangkau pos-pos secara merata. Pendaki diimbau tetap berada dalam kelompok, mengikuti arahan pemandu, dan tidak memisahkan diri.

Akses Pendakian Ditutup Sementara

Pengelola jalur pendakian memutuskan menutup sementara akses pendakian dari sisi Wonosobo. Penutupan berlaku sampai kondisi kawasan dinyatakan aman oleh petugas. Pendaki yang telah melakukan pendaftaran diminta menunda keberangkatan dan mengikuti prosedur pengembalian atau penjadwalan ulang sesuai ketentuan pengelola. Sosialisasi dilakukan melalui pos pendaftaran, pemandu, serta kelompok pemerhati pendakian.

Penutupan ini dinilai penting untuk mencegah bertambahnya jumlah orang di kawasan yang masih terdampak. Selain risiko kebakaran, petugas juga mewaspadai longsor dan pohon tumbang di jalur akibat perubahan kondisi tanah dan vegetasi yang terbakar.

Faktor Cuaca dan Pola Kebakaran Berulang

Kawasan gunung di Jawa Tengah secara berulang mengalami kebakaran lahan pada musim kemarau. Vegetasi berupa savana dan rumput kering menjadi bahan bakar yang mudah terbakar, terutama saat angin bertiup kencang pada siang hari. Kondisi ini membuat api cepat meluas secara horizontal, sementara upaya pemadaman terkendala keterbatasan akses dan pasokan air.

Sejumlah praktik berisiko disebut menjadi pemicu yang kerap terjadi, antara lain penggunaan api unggun tanpa pengawasan, pembuangan puntung rokok sembarangan, serta pembakaran lahan di sekitar kawasan. Petugas menegaskan bahwa aturan larangan menyalakan api di jalur pendakian akan diperketat, termasuk penerapan sanksi bagi pelanggar.

Imbauan dan Langkah Antisipasi

Masyarakat, khususnya pendaki dan warga di sekitar lereng, diminta segera melapor jika melihat titik api atau kepulan asap agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Pendaki diimbau membawa perlengkapan keselamatan, mematuhi jalur resmi, tidak menyalakan api, dan membawa kembali sampah turun. Pos pantau akan ditempatkan di sejumlah titik strategis selama masa pemulihan kawasan.

Petugas juga menyiapkan rencana evaluasi terhadap prosedur evakuasi dan sistem informasi pendakian, termasuk pembaruan data jumlah pendaki secara berkala. Dengan langkah tersebut, diharapkan penanganan keadaan darurat di kawasan Gunung Sumbing dapat berjalan lebih cepat dan terkoordinasi pada masa mendatang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Farid Saputra

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter