13, 2026
Nasional

Kebakaran Hutan Kalteng yang Menggerus Penghasilan Warga

Fajar Hidayat
Fajar Hidayat Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kebakaran Hutan Kalteng yang Menggerus Penghasilan Warga

Kebakaran hutan yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah (Kalteng) dalam beberapa pekan terakhir terus meningkatkan kerugian, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada kehidupan dari sumber daya alam. Kabar duka datang dari berbagai kabupaten dan kota di provinsi ini, di mana api berhasil menghanguskan hutan lindung dan hutan produksi yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian utama warga setempat.

Dampak Langsung bagi Masyarakat

Dampak paling nyata terjadi bagi para petani dan pengumpang hasil hutan yang hidupnya bergantung pada keberadaan hutan. Seorang petani karet di Kabupaten Kapuas, yang tidak mau disebutkan namanya, mengungkapkan kekecewaannya atas kehilangan sumber penghasilan akibat kebakaran yang menghanguskan kebun karetnya.

"Sudah hampir 10 tahun saya menanam karet di lahan itu. Tapi dalam semalam, semuanya hangus terbakar. Tak ada yang tersisa selain abu dan pohon yang tumbang. Bagaimana saya menghidupi keluarga sekarang?" ujarnya dengan suara penuh haru.

Serupa juga dialami oleh para pengumpang damar, rotan, dan hasil hutan lainnya. Mereka mengaku bingung mencari alternatif penghasilan setelah sumber daya yang mereka andalkan selama ini musnah. Para nelayan di sekitar wilayah terdampak juga melaporkan penurunan hasil tangkapan akibat debu asap yang memenuhi udara dan mengganggu ekosistem perairan.

Status Darurat Bencana

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah menetapkan status darurat bencana alam akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sejak awal bulan ini. Gubernur Kalteng, Sugianto Sabran, dalam konferensi persnya menyatakan bahwa situasi saat ini memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

"Kita telah mengaktifkan tim tanggap darurat bencana. Tim medis, relawan, dan aparat terkait sudah diterjunkan ke lokasi untuk membantu penanggulangan dampak bagi warga terdampak. Namun, tantangan yang dihadapi cukup besar mengingat luasnya area yang terbakar," jelas Gubernur Sugianto.

Data yang dirilas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa selama sebulan terakhir, sebanyak 15 titik kebakaran hutan dan lahan terdeteksi di Kalteng dengan total luas area terbakar mencapai lebih dari 500 hektar. Angka ini meningkat drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Upaya Penanggulangan

Sejumlah upaya penanggulangan telah dilakukan oleh pemerintah daerah bersama tim pemadam kebakaran. Sebanyak 100 personel pemadam kebakaran dari Pemprov Kalteng dan TNI/Polri telah diterjunkan ke lokasi. Selain itu, dua helikopter milik TNI AU juga disiapkan untuk melakukan operasi semprot air dari udara.

"Kita menggunakan dua strategi utama, yaitu pemadaman langsung di lokasi dan pembukaan garap pemecah api untuk mencegah penyebaran api lebih luas. Namun, kondisi cuaca yang kering dan angin kencang membuat upaya ini menjadi tantangan tersendiri," kata Kepala BPBD Kalteng, Budi Santoso.

Masyarakat setempat juga turut terlibat dalam upaya pemadaman. Ratusan warga dari beberapa desa di sekitar wilayah terdampak membentuk tim relawan pemadam kebakaran dengan alat-alat sederhana seperti alat semprot air manual dan sekop.

Dampak Kesehatan dan Lingkungan

Selain dampak ekonomi, kebakaran hutan juga menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Indeks kualitas udara (AQI) di beberapa wilayah seperti Palangka Raya dan Kabupaten Kapuas telah mencapai angka berbahaya, yaitu di atas 300. Kondisi ini menyebabkan peningkatan kasus gangguan pernafasan, terutama pada anak-anak dan lansia.

Rumah Sakit Umum dr. Soedirman Palangka Raya melaporkan adanya lonjakan pasien dengan keluhan gangguan pernafasan sejak seminggu terakhir. "Kami menerima minimal 50 pasien setiap hari dengan gejala batuk, sesak napas, dan iritasi mata. Mayoritas adalah anak-anak dan lanjut usia," kata Kepala RSUD dr. Soedirman, dr. Ahmad Fauzi.

Dampak lingkungan juga mulai terasa di sekitar wilayah terdampak. Debu tebal menutupi permukaan sungai, mengganggu aktivitas perikanan dan pertanian. Sejumlah satwa liar juga dilaporkan mengungsi ke wilayah pemukiman manusia akibat kebakaran yang menghancurkan habitat alami mereka.

Harapan Penanganan Jangka Panjang

Dengan musim kemarau diperkirakan akan berlanjut hingga tiga bulan ke depan, pemerintah daerah berencana melakukan berbagai langkah preventif untuk mencegah kebakaran lebih parah. Upaya tersebut antara lain penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan, penyiagaan tim pemadam, dan percepatan restorasi lahan yang sudah terbakar.

"Kita perlu membangun kesadaban bersama bahwa pencegahan kebakaran hutan adalah tanggung jawab kita bersama. Selain itu, kita juga harus memikirkan solusi jangka panjang bagi masyarakat yang bergantung pada hutan," tambah Gubernur Sugianto.

Di tengah kesulitan yang dihadapi, masyarakat terdampak masih menunjukkan ketekunan. Beberapa di antara mereka mulai mencari alternatif penghasilan sementara seperti berjualan makanan atau menjadi buruh harian. Mereka berharap bantuan dari pemerintah dan pihak terkait dapat segera tiba untuk membantu mengatasi situasi sulit yang dihadapi.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Fajar Hidayat

Penulis berita kesehatan nasional dan kebijakan layanan medis.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter