13, 2026
Teknologi

Kebakaran Hutan Tak Cuma Rusak Daratan, Sungai dan Ikan Terdampak

Kebakaran hutan tidak hanya berdampak pada asap yang mencemari udara, banyaknya hewan hutan mati, hingga kerusakan ekosistem darat. Dampaknya juga ke perairan.]]>

Hendra Wijaya
Hendra Wijaya Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kebakaran Hutan Tak Cuma Rusak Daratan, Sungai dan Ikan Terdampak

Kebakaran Hutan Tak Cuma Rusak Daratan, Sungai dan Ikan Terdampak

Kejadian kebakaran hutan yang marak terjadi di beberapa wilayah Indonesia ternyata tidak hanya memberikan dampak negatif pada ekosistem daratan, tetapi juga menimbulkan konsekuensi serius bagi sungai dan populasi ikan. Fenomena ini semakin memperlihatkan kompleksitas dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang terjadi di tanah air.

Menurut penelitian terbaru dari tim ilmuwan lingkungan, asap tebal yang dihasilkan dari kebakaran hutan mengandung berbagai partikel berbahaya yang tidak hanya mengganggu kesehatan manusia, tetapi juga mencemari sistem perairan sungai. Partikel-partikel halus seperti karbon hitam, oksida nitrogen, dan sulfur terbawa oleh hujan masuk ke sungai, mengubah kualitas air secara drastis.

Dampak pada Kualitas Air Sungai

Dr. Siti Rahayu, pakar hidrologi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan bahwa kebakaran hutan yang berkepanjangan menyebabkan peningkatan signifikan kadar logam berat dan partikel halus di sungai. "Kita menemukan bahwa selama musim kebakaran, konsentrasi logam berat seperti timbal, merkuri, dan arsenik di sungai meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan kondisi normal," ujarnya.

Partikel-partikel ini tidak hanya mengendap di dasar sungai, tetapi juga terbawa arus air hingga ke laut, menciptakan dampak jangka panjang pada ekosistem akuatik. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya vegetasi tepi sungai yang biasa berfungsi sebagai filter alami dari limbah dan sediment.

Dampak pada Populasi Ikan

Dampak paling terlihat adalah terhadap populasi ikan di sungai. Ribuan ikan mati secara mendadak di beberapa sungai di Kalimantan dan Sumatra akibat terkena racun dari limbah kebakaran hutan. "Ikan sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air. Kenaikan suhu, penurunan kadar oksigen, dan adanya zat kimia beracun dapat menyebabkan stress bagi ikan bahkan kematian massal," jelas Dr. Budi Santoso, ahli iktiologi dari Universitas Gadjah Mada.

Tim peneliti dari LIPI juga melaporkan menemukan adanya biomarker stres pada jaringan ikan yang hidup di sungai yang terkena dampak kebakaran hutan. "Biomarker ini menunjukkan adanya kerusakan sel dan fungsi organ penting pada ikan yang dapat mempengaruhi reproduksi dan kelangsungan hidup populasi jangka panjang," tambahnya.

Dampak Jangka Panjang pada Ekosistem Akuatik

Dampak jangka panjang dari kebakaran hutan terhadap ekosistem sungai sangat memprihatinkan. Hilangnya vegetasi tepi sungai menyebabkan erosi tanah yang lebih parah, sehingga sedimentasi sungai meningkat. Hal ini mengakibatkan penurunan kualitas habitat ikan, terutama spesies yang membutuhkan air jernih dan substrat batuan.

Selain itu, penurunan kualitas air juga mempengaruhi rantai makanan akuatik. Plankton dan fitoplankton sebagai produsen primer di sungai mengalami penurunan populasi akibat perubahan pH dan kadar nutrien dalam air. Akibatnya, populasi ikan planktivores (pemakan plankton) juga menurun, yang berdampak pada populasi ikan predator yang bergantung padanya.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan yang komprehensif. Pemerintah perlu meningkatkan penegakan hukum terhadap penebangan liar dan kebakaran hutan yang disengaja. Selain itu, program rehabilitasi hutan dan penanaman pohon di tepi sungai perlu dipercepat untuk memulihkan ekosistem yang rusak.

Prof. Endang Surahman, pakar kehutanan dari IPB, menambahkan bahwa komunitas lokal perlu terlibaktif dalam upaya pemulihan lingkungan. "Kita perlu membangun kesadaran bahwa kesehatan hutan, sungai, dan populasi ikan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa hutan yang sehat, sungai dan ikan tidak akan pernah bisa pulih sepenuhnya," pungkasnya.

Dengan kondisi perubahan iklim yang semakin tidak menentu, perlindungan hutan tidak lagi menjadi pilihan, tetlah sebuah kebutuhan mendesak bagi kelangsungan hidup berbagai ekosistem, termasuk yang berada di dalam air.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hendra Wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter