03, 2026
Nasional

Kejar Target E20, Danantara Mau Bangun Pabrik Bioetanol

Fajar Hidayat
Fajar Hidayat Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Langkah Indonesia menuju pencampuran bahan bakar nabati yang lebih tinggi dalam bahan bakar minyak terus bergulir. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyatakan rencana pembangunan pabrik bioetanol sebagai bagian dari upaya mengejar target pencampuran etanol sebesar 20 persen (E20) pada bahan bakar bensin. Pabrik tersebut diproyeksikan menjadi salah satu penopang pasokan etanol domestik yang selama ini menjadi kendala utama dalam memperbesar porsi energi terbarukan di sektor transportasi.

Pendorong Utama Target E20

Program E20 merupakan kelanjutan dari kebijakan mandatori pencampuran bahan bakar nabati yang sebelumnya diterapkan pada biodiesel. Pemerintah menargetkan pencampuran etanol 20 persen ke dalam bensin, atau yang dikenal sebagai gasohol, sebagai salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak sekaligus menekan emisi karbon dari sektor transportasi. Namun, realisasi target ini menghadapi sejumlah hambatan, terutama ketersediaan etanol dalam jumlah besar, kualitas yang sesuai standar, serta harga yang kompetitif dibandingkan bensin.

Danantara melihat pembangunan pabrik bioetanol sebagai jawaban atas persoalan pasokan tersebut. Sebagai badan pengelola investasi, Danantara berperan dalam menghimpun pendanaan, menggandeng mitra strategis, dan mempercepat pembangunan infrastruktur energi yang dinilai memiliki dampak ekonomi jangka panjang. Pabrik bioetanol disebut akan memanfaatkan bahan baku domestik, seperti molase atau tetes tebu, jagung, dan bahan lignoselulosa, sehingga dapat mendorong nilai tambah di sektor pertanian dan perkebunan.

Skema Pendanaan dan Kemitraan

Rencana pembangunan pabrik ini tidak berdiri sendiri. Danantara disebut tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah investor, termasuk badan usaha milik negara di sektor energi dan perkebunan, untuk membentuk skema patungan. Pendekatan itu dinilai penting karena pembangunan pabrik bioetanol membutuhkan investasi besar, mulai dari pembangunan fasilitas produksi, penyediaan lahan, hingga pengembangan rantai pasok bahan baku di tingkat petani.

Selain itu, aspek teknologi menjadi perhatian. Bioetanol generasi kedua yang berbahan baku limbah biomassa memerlukan teknologi konversi lebih kompleks dibandingkan bioetanol generasi pertama dari tanaman pangan. Karena itu, transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian dari rencana yang sedang disusun. Pemerintah berharap pabrik yang dibangun tidak hanya menjadi fasilitas produksi, tetapi juga pusat pengembangan kompetensi di bidang energi terbarukan.

Tantangan Harga dan Rantai Pasok

Meski prospeknya menjanjikan, sejumlah tantangan masih membayangi. Salah satunya adalah struktur harga etanol yang kerap tidak kompetitif dibandingkan bensin bersubsidi maupun non-subsidi. Tanpa dukungan insentif fiskal, pabrik bioetanol berisiko menghadapi tekanan margin keuntungan, terutama ketika harga bahan baku naik. Pemerintah sendiri telah membahas berbagai opsi insentif, mulai dari keringanan pajak hingga mekanisme harga khusus untuk etanol yang dipasok ke bahan bakar nabati.

Persoalan lain adalah kesiapan infrastruktur pencampuran dan distribusi. Pencampuran etanol ke dalam bensin dalam kadar 20 persen memerlukan penyesuaian pada terminal bahan bakar, tangki penyimpanan, serta kendaraan yang menggunakannya. Sejumlah studi menunjukkan bahwa mesin kendaraan modern relatif mampu mengakomodasi campuran etanol hingga kadar tertentu, tetapi uji coba dan sertifikasi tetap diperlukan untuk memastikan keandalan dan keselamatan.

Dampak bagi Petani dan Ekonomi

Jika terealisasi, pembangunan pabrik bioetanol berpotensi membuka pasar baru bagi komoditas pertanian. Permintaan terhadap tetes tebu, jagung, dan bahan baku lain dapat meningkatkan pendapatan petani serta mendorong investasi di daerah penghasil bahan baku. Pemerintah daerah diharapkan menyiapkan lahan, infrastruktur logistik, dan pendampingan bagi petani agar rantai pasok berjalan stabil.

Dari sisi ekonomi makro, pengembangan bioetanol dapat mengurangi impor bensin dan memperbaiki neraca perdagangan. Setiap persen pengurangan impor bahan bakar minyak memberikan ruang fiskal bagi pemerintah untuk membiayai program lain. Selain itu, industri bioetanol menciptakan lapangan kerja, baik di sektor produksi, distribusi, maupun jasa pendukung.

Meski demikian, berbagai pihak mengingatkan agar pengembangan bioetanol tidak mengorbankan lahan pangan. Prinsip keberlanjutan, termasuk penggunaan lahan terlantar dan limbah biomassa, perlu dipegang agar program ini tidak memicu persaingan antara kebutuhan pangan dan energi. Pengawasan lingkungan serta tata kelola yang transparan menjadi kunci agar investasi besar ini memberi manfaat jangka panjang.

Langkah Selanjutnya

Danantara menyatakan akan terus mematangkan kajian kelayakan, termasuk pemilihan lokasi pabrik, kapasitas produksi, dan mitra teknologi. Perusahaan-perusahaan energi nasional juga diharapkan menyiapkan infrastruktur penunjang serta skema offtake yang menjamin penyerapan produksi. Pemerintah menargetkan pabrik bioetanol dapat beroperasi dalam beberapa tahun mendatang, seiring dengan persiapan regulasi, insentif, dan standar mutu bahan bakar.

Keberhasilan mencapai target E20 tidak hanya bergantung pada satu pabrik, melainkan pada ekosistem yang mencakup kebijakan harga, infrastruktur, teknologi, dan partisipasi petani serta pelaku usaha. Jika seluruh elemen itu berjalan selaras, bioetanol dapat menjadi salah satu pilar transisi energi Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian harga minyak dunia.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Fajar Hidayat

Penulis berita kesehatan nasional dan kebijakan layanan medis.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter