Industri ritel modern Indonesia memiliki sejarah panjang yang tidak bisa dilepaskan dari dua nama besar: Matahari dan Lippo. Keduanya pernah menjadi simbol kejayaan bisnis ritel nasional, menguasai pusat perbelanjaan di kota-kota besar, dan membentuk perilaku belanja masyarakat kelas menengah. Namun, perjalanan keduanya juga mencatat babak kelam berupa kejatuhan yang dipicu oleh krisis ekonomi, ekspansi agresif, hingga perubahan lanskap persaingan.
Lahirnya Matahari: Dari Pasar Kecil ke Raksasa Ritel
Matahari Department Store didirikan pada 24 Oktober 1958 oleh Hari Darmawan di Pasar Baru, Jakarta. Berawal dari sebuah kios sederhana bernama Matahari, usaha ini tumbuh menjadi department store yang menyasar masyarakat kelas menengah ke bawah. Pada 1970-an, Matahari mulai membuka gerai di berbagai kota dan menjadi pelopor konsep toko serba ada yang terjangkau.
Kejayaan Matahari mencapai puncaknya pada 1990-an ketika perusahaan ini melantai di Bursa Efek Jakarta. Ekspansi besar-besaran dilakukan, termasuk mengakuisisi sejumlah jaringan ritel lain. Pada 1996, Matahari mencatatkan saham perdana dan menjadi salah satu emiten ritel paling diperhitungkan. Namun, krisis moneter 1998 menghantam keras. Utang dalam dolar AS melonjak sementara daya beli masyarakat anjlok. Matahari sempat kesulitan arus kas dan terpaksa menjual sebagian aset.
Titik balik terjadi pada 2001 ketika Lippo Group melalui anak usahanya, Meadow Asia, mengakuisisi mayoritas saham Matahari. Sejak itu, Matahari berada di bawah kendali Lippo. Di bawah manajemen baru, Matahari kembali bangkit dengan memperluas jaringan hingga lebih dari 100 gerai di seluruh Indonesia. Namun, ketergantungan pada model bisnis department store konvensional membuat Matahari mulai tergencet oleh ritel daring dan pusat perbelanjaan baru yang lebih modern.
Lippo: Imperium Ritel yang Pernah Menguasai Pasar
Lippo Group didirikan oleh Mochtar Riady pada 1950-an, awalnya bergerak di bidang perbankan. Ekspansi ke sektor ritel dimulai pada 1980-an dengan membangun Lippo Supermal di Karawaci, Tangerang. Konsep mal terpadu yang menggabungkan pusat perbelanjaan, hotel, dan perumahan menjadi terobosan besar. Lippo kemudian mengembangkan jaringan ritel sendiri, termasuk Lippo Supermarket dan Matahari.
Pada 1990-an, Lippo dikenal sebagai salah satu konglomerasi paling agresif. Melalui Lippo Karawaci, perusahaan membangun kota mandiri dan pusat bisnis. Namun, krisis 1998 membuat Lippo harus merestrukturisasi utang besar-besaran. Meski selamat, ekspansi ritelnya tidak pernah kembali ke masa keemasan. Lippo Supermarket akhirnya dijual ke Carrefour pada 2010, sementara Matahari tetap bertahan tetapi dengan kinerja yang fluktuatif.
Kejatuhan yang Perlahan
Kejatuhan Matahari dan Lippo tidak terjadi dalam semalam. Ada beberapa faktor utama. Pertama, perubahan gaya hidup konsumen yang beralih ke e-commerce. Marketplace seperti Tokopedia, Shopee, dan Lazada menawarkan harga lebih murah dan kemudahan belanja dari rumah. Kedua, munculnya peritel global seperti H&M, Uniqlo, dan Zara yang menyasar segmen menengah ke atas dengan merek kuat. Ketiga, beban utang dan biaya operasional mal yang tinggi membuat margin keuntungan tergerus.
Pada 2019, Matahari mencatat penurunan laba bersih signifikan. Pandemi COVID-19 pada 2020 memperparah keadaan. Pembatasan sosial membuat pusat perbelanjaan sepi, dan Matahari terpaksa menutup sejumlah gerai. Lippo Group juga menghadapi tekanan finansial, termasuk di Lippo Karawaci yang harus menjual aset untuk membayar utang.
Meski demikian, Matahari masih beroperasi hingga kini dengan strategi omnichannel dan efisiensi gerai. Lippo pun bertahan dengan bisnis properti dan kesehatan. Namun, kejayaan sebagai penguasa ritel Indonesia sudah sirna. Kisah mereka menjadi pelajaran tentang betapa cepatnya lanskap bisnis berubah dan betapa pentingnya adaptasi terhadap teknologi serta perubahan perilaku konsumen.
Sejarah Matahari dan Lippo menunjukkan bahwa tidak ada kerajaan bisnis yang abadi. Dari kios kecil di Pasar Baru hingga imperium mal di Karawaci, keduanya pernah menjadi ikon. Kini, nama mereka tetap dikenang sebagai bagian dari perjalanan ritel modern Indonesia, sekaligus pengingat bahwa inovasi dan ketahanan finansial adalah kunci bertahan di pasar yang terus bergejolak.
Komentar (0)