01, 2026
Gaya Hidup

Kemenpar Dorong Wisatawan Tak Sekadar Berkunjung, tapi Rasakan Pengalaman Autentik di Indonesia

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2025/02/17/67b2abf83a66d-menaker-yassierli-dan-wamenpar-hadiri-ratas-di-istana-negara_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Sandi Setiawan
Sandi Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus memperkuat arah pengembangan sektor pariwisata nasional dengan menekankan pentingnya pengalaman autentik bagi setiap wisatawan. Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi besar untuk tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memperpanjang masa tinggal dan meningkatkan belanja wisatawan di berbagai destinasi di Indonesia.

Dalam berbagai forum dan rapat koordinasi lintas kementerian, Kemenpar menyoroti bahwa wisatawan masa kini memiliki preferensi yang berbeda dibandingkan dekade sebelumnya. Mereka tidak lagi sekadar datang untuk melihat ikon wisata atau berfoto di lokasi populer, melainkan ingin terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat lokal, memahami budaya, mencicipi kuliner khas, serta merasakan ritme keseharian di daerah yang dikunjungi.

Oleh karena itu, pengembangan destinasi diarahkan pada penyediaan produk wisata berbasis komunitas, pelestarian tradisi, dan pemberdayaan pelaku usaha lokal. Kemenpar menilai bahwa kekuatan pariwisata Indonesia terletak pada keragaman budaya, keindahan alam, serta keramahan masyarakat yang tidak dimiliki banyak negara lain.

Pergeseran Tren Wisata Global

Perubahan perilaku wisatawan global menjadi salah satu pertimbangan utama. Data organisasi pariwisata dunia menunjukkan minat yang meningkat terhadap perjalanan berbasis pengalaman, seperti wisata budaya, wisata alam, wisata kuliner, hingga wisata berbasis komunitas. Wisatawan cenderung mencari destinasi yang menawarkan cerita, bukan hanya tempat.

Kemenpar melihat peluang ini sebagai momentum bagi Indonesia untuk tampil lebih kompetitif. Berbagai daerah memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap, mulai dari desa wisata di kawasan pegunungan, kampung adat, sentra kerajinan tangan, hingga kawasan pesisir dengan tradisi maritim yang khas.

Penguatan pengalaman autentik juga dinilai sejalan dengan upaya diversifikasi destinasi. Selama ini, sebagian besar kunjungan wisatawan masih terpusat di beberapa wilayah utama. Dengan menghadirkan paket wisata yang lebih mendalam di daerah lain, diharapkan terjadi pemerataan kunjungan serta dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Peran Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif

Desa wisata menjadi salah satu instrumen utama dalam strategi ini. Kemenpar mendorong pengelolaan desa wisata yang tidak hanya menyajikan pemandangan, tetapi juga melibatkan wisatawan dalam aktivitas sehari-hari warga. Misalnya, mengikuti proses pembuatan produk lokal, belajar tari tradisional, menanam bersama petani, atau menyusuri jalur alam bersama pemandu lokal.

Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan nilai tambah. Wisatawan mendapatkan pengalaman yang berkesan, sementara masyarakat memperoleh pendapatan tambahan dari jasa pemanduan, homestay, kuliner, dan produk kerajinan. Rantai ekonomi ini kemudian memperkuat ketahanan ekonomi desa.

Sinergi dengan sektor ekonomi kreatif juga menjadi perhatian. Kemenpar menilai bahwa musik, film, mode, kriya, dan seni pertunjukan dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus media promosi. Kolaborasi antara pelaku kreatif dan pengelola destinasi diharapkan melahirkan paket wisata yang lebih variatif dan relevan dengan selera pasar.

Tantangan di Lapangan

Meski arah kebijakan sudah jelas, implementasi di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan. Kualitas sumber daya manusia, standar pelayanan, kebersihan, aksesibilitas, serta konektivitas antarwilayah menjadi pekerjaan rumah yang perlu ditangani bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha.

Selain itu, promosi yang terarah menjadi kunci. Kemenpar menekankan pentingnya narasi yang kuat dalam memasarkan destinasi, bukan sekadar menampilkan gambar indah, tetapi juga menjelaskan nilai pengalaman yang akan didapat wisatawan. Strategi pemasaran digital, kolaborasi dengan konten kreator, serta keikutsertaan dalam pameran internasional menjadi bagian dari upaya tersebut.

Aspek keberlanjutan juga tidak dapat diabaikan. Pengembangan wisata berbasis pengalaman harus tetap menjaga kelestarian lingkungan dan budaya. Kemenpar mengingatkan bahwa eksploitasi berlebihan terhadap destinasi justru dapat merusak daya tarik jangka panjang.

Target Kunjungan dan Dampak Ekonomi

Dengan pendekatan pengalaman autentik, Kemenpar berharap target kunjungan wisatawan mancanegara dan pergerakan wisatawan nusantara dapat tercapai, sekaligus meningkatkan kontribusi pariwisata terhadap produk domestik bruto dan penciptaan lapangan kerja.

Pariwisata telah lama menjadi salah satu sektor andalan dalam menopang perekonomian, terutama di daerah. Setiap kunjungan wisatawan berpotensi menghidupkan usaha mikro, kecil, dan menengah di sekitar destinasi, mulai dari warung makan, transportasi lokal, hingga penyedia jasa akomodasi.

Kemenpar menegaskan bahwa keberhasilan tidak cukup diukur dari angka kunjungan. Yang tidak kalah penting adalah sejauh mana wisatawan meninggalkan kesan mendalam, memahami budaya Indonesia, dan memiliki keinginan untuk kembali atau merekomendasikan destinasi kepada orang lain.

Dengan demikian, arah kebijakan yang mendorong wisatawan untuk tidak sekadar berkunjung, tetapi merasakan pengalaman autentik, menjadi bagian dari upaya menjadikan pariwisata Indonesia lebih berdaya saing, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Sandi Setiawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter