30, 2026
Gaya Hidup

Ustaz Das’ad Latif Ingatkan Bahaya Memaksakan Gaya Hidup

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/09/28/6aba43fe0d806-ustaz-dasad-latif_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Vino Pratama
Vino Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Ustaz Das’ad Latif menyoroti fenomena sosial yang dinilainya kian menggejala di tengah masyarakat, yakni kecenderungan memaksakan gaya hidup di luar kemampuan. Dalam sejumlah ceramahnya, pendakwah kelahiran Makassar itu mengingatkan bahwa memaksakan penampilan, konsumsi, dan standar hidup yang tidak sesuai kapasitas diri bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan spiritual yang dapat menjerumuskan seseorang pada utang, tekanan psikologis, dan kehilangan keberkahan.

Menurut Das’ad Latif, perilaku memaksakan gaya hidup sering kali muncul karena dorongan ingin diakui lingkungan. Orang cenderung menilai keberhasilan diri dari apa yang tampak di permukaan, seperti kendaraan, pakaian, gadget, hingga cara menghabiskan waktu luang. Padahal, ukuran keberhasilan dalam pandangan agama bukan terletak pada kemewahan yang dipamerkan, melainkan pada kemampuan mengelola apa yang dimiliki secara jujur dan bertanggung jawab.

Antara Gengsi dan Kemampuan

Dalam pandangan ustaz yang dikenal melalui berbagai kajian daring itu, jarak antara gengsi dan kemampuan menjadi sumber masalah. Banyak orang memaksakan diri membeli barang atau mengikuti tren tertentu semata-mata agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Akibatnya, pengeluaran tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, tetapi pada citra yang ingin dibangun di hadapan orang lain. Kondisi itu, kata dia, membuat seseorang hidup di bawah tekanan yang sebenarnya bisa dihindari.

Ia menekankan pentingnya sikap qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang dimiliki sambil tetap berusaha meningkatkan kualitas hidup secara wajar. Sikap ini bukan berarti menerima kemiskinan atau berhenti berusaha, melainkan menempatkan rezeki pada posisi yang benar. Seseorang tetap boleh bekerja keras dan meraih pencapaian, namun tidak perlu mengorbankan ketenangan batin demi memenuhi standar yang ditentukan orang lain.

Bahaya Utang untuk Konsumsi

Salah satu persoalan yang paling sering disinggung dalam konteks ini adalah utang untuk keperluan konsumtif. Das’ad Latif mengingatkan bahwa berutang untuk kebutuhan mendesak masih dapat dibenarkan, tetapi berutang demi mempertahankan gaya hidup adalah pilihan yang berisiko. Beban cicilan yang menumpuk dapat mengganggu ketenteraman keluarga, memicu pertengkaran, bahkan mendorong seseorang mengambil jalan pintas yang melanggar aturan.

Ia juga menyoroti peran media sosial dalam mempercepat penyebaran budaya pamer. Kerap kali orang hanya melihat hasil akhir dari kehidupan orang lain tanpa mengetahui proses, pengorbanan, atau masalah yang menyertainya. Perbandingan yang tidak sehat semacam itu membuat seseorang merasa kurang, meski secara obyektif kehidupannya sudah mencukupi. Dalam hal ini, literasi digital dan kedewasaan berpikir menjadi kunci agar tidak mudah terpengaruh.

Pendidikan Keluarga sebagai Benteng

Menurut Das’ad Latif, keluarga memegang peranan penting dalam mencegah perilaku memaksakan gaya hidup. Orang tua perlu memberi contoh hidup sederhana, terbuka soal kondisi keuangan, dan tidak menjadikan barang mewah sebagai alat menunjukkan kasih sayang. Anak yang terbiasa memahami batas kemampuan akan lebih tahan menghadapi tekanan pergaulan ketika beranjak dewasa.

Ia juga mengingatkan bahwa agama mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan dunia dan akhirat. Bekerja dan mencari rezeki adalah bagian dari ibadah, tetapi mengejar dunia tanpa batas hingga melupakan tanggung jawab sosial dan keluarga justru bertentangan dengan tujuan hidup yang sebenarnya. Hidup cukup bukan berarti hidup tanpa cita-cita, melainkan hidup dengan ukuran yang jelas dan tidak dikendalikan oleh pandangan orang lain.

Relevansi Pesan di Tengah Tekanan Ekonomi

Pesan tersebut dinilai relevan di tengah kondisi ekonomi yang menuntut kehati-hatian dalam belanja. Masyarakat dihadapkan pada kenaikan harga berbagai kebutuhan, sementara godongan konsumsi tetap deras melalui iklan dan promosi digital. Dalam situasi seperti itu, kemampuan menahan diri menjadi keterampilan yang mahal nilainya.

Das’ad Latif menegaskan bahwa memaksakan gaya hidup tidak hanya berdampak pada keuangan, tetapi juga pada kesehatan mental. Rasa cemas, sulit tidur, dan hilangnya rasa syukur sering menyertai mereka yang hidup di luar kemampuan. Sebaliknya, hidup sesuai kapasitas memberi ruang untuk berpikir jernih, beribadah dengan tenang, dan membantu orang lain yang membutuhkan.

Ia mengajak masyarakat untuk kembali menilai prioritas. Kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, dan tabungan untuk masa depan semestinya didahulukan sebelum keinginan yang bersifat simbolik. Dengan cara itu, seseorang tidak mudah tergoda memaksakan diri demi pengakuan sesaat yang tidak memberi manfaat jangka panjang.

Pada akhirnya, pesan Ustaz Das’ad Latif tentang bahaya memaksakan gaya hidup merupakan undangan untuk jujur terhadap diri sendiri. Kehidupan yang baik bukan yang paling mewah di mata orang lain, melainkan yang paling sesuai dengan kemampuan, tenang dijalani, dan dapat dipertanggungjawabkan, baik kepada keluarga maupun kepada Tuhan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Vino Pratama

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter