22, 2026
Nasional

KPK Bidik 2 Prajurit TNI Aktif di Kasus Korupsi BNPB

Rizki Setiawan
Rizki Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah membidik dua prajurit aktif TNI yang diduga memiliki keterkaitan dengan perkara korupsi di lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kedua personel militer tersebut disebut berada dalam lingkup penyelidikan lembaga antirasuah, yang menangani dugaan penyimpangan pada sejumlah paket pengadaan barang dan jasa di instansi penanggulangan bencana itu.

Informasi mengenai keterlibatan dua prajurit aktif itu muncul di tengah proses pengumpulan alat bukti yang dilakukan penyidik KPK. Lembaga tersebut belum merinci identitas maupun pangkat kedua personel, dengan alasan proses hukum masih berjalan dan untuk menghindari spekulasi yang dapat mengganggu penyidikan. KPK menyatakan pihaknya bergerak berdasarkan laporan dan hasil telaah atas dokumen pengadaan yang dinilai mengandung kejanggalan.

Dugaan Peran dalam Pengadaan di BNPB

Menurut keterangan KPK, kedua prajurit aktif itu diduga berperan dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan sejumlah kegiatan pengadaan di BNPB. Peran tersebut belum diuraikan secara terperinci, namun penyidik menilai ada indikasi keterlibatan pihak luar dalam penentuan penyedia barang dan jasa, sehingga menimbulkan dugaan persekongkolan yang merugikan keuangan negara.

Penyidik juga mendalami hubungan antara kedua personel militer tersebut dengan pihak-pihak lain yang telah diperiksa dalam perkara ini. Sejumlah saksi dari internal BNPB maupun dari kalangan penyedia barang dan jasa telah dimintai keterangan. Pemeriksaan itu menyasar sejumlah aspek, antara lain prosedur pengadaan, kesesuaian spesifikasi barang, hingga kewajaran harga dalam kontrak.

Koordinasi dengan Puspom TNI

Karena berstatus prajurit aktif, penanganan kedua orang tersebut tidak dapat dilakukan sepenuhnya dengan mekanisme biasa. KPK menyatakan telah menjalin koordinasi dengan Pusat Polisi Militer TNI (Puspom TNI) untuk menyepakati langkah hukum yang akan ditempuh. Koordinasi ini mencakup pertukaran informasi, pendampingan penyelidikan, serta penentuan forum peradilan yang akan menangani perkara jika unsur pidana terpenuhi.

Dalam praktiknya, penanganan prajurit aktif yang diduga terlibat tindak pidana korupsi memerlukan kehati-hatian karena bersinggungan dengan ketentuan peradilan militer. KPK dan Puspom TNI biasanya menyusun mekanisme bersama agar proses hukum tetap berjalan tanpa tumpang tindih kewenangan. Salah satu opsi yang dibahas adalah penyelesaian melalui mekanisme yang memungkinkan perkara disidangkan secara terpadu.

KPK menegaskan bahwa status militer tidak menjadi penghalang bagi penegakan hukum. Lembaga itu menekankan pentingnya kepastian hukum dan akuntabilitas, terutama karena perkara menyangkut instansi yang bertugas menangani bencana dan menggunakan anggaran negara dalam jumlah besar.

Modus dan Potensi Kerugian Negara

Dugaan penyimpangan dalam perkara ini mengarah pada sejumlah pola yang kerap muncul dalam kasus pengadaan, antara lain pengaturan spesifikasi agar menguntungkan penyedia tertentu, penambahan volume pekerjaan yang tidak sesuai kebutuhan, serta harga yang dinilai tidak wajar. Penyidik masih menghitung besaran kerugian keuangan negara bersama instansi terkait, termasuk auditor pemerintah.

Perhitungan kerugian negara menjadi salah satu unsur penting karena akan menentukan konstruksi pasal yang disangkakan. KPK belum membeberkan angka kerugian, namun menegaskan bahwa penghitungan dilakukan secara cermat agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan di pengadilan.

Dampak pada Penanganan Bencana

Perkara ini menjadi sorotan karena BNPB memiliki fungsi strategis dalam penanggulangan bencana, mulai dari kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi. Anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan logistik, peralatan, dan dukungan operasi dinilai berpotensi tidak tersalurkan secara optimal jika terjadi penyimpangan.

Pengamat kebijakan publik menilai kasus di lingkungan lembaga penanggulangan bencana berdampak langsung pada masyarakat. Ketika pengadaan tidak berjalan sesuai ketentuan, kualitas barang dan kecepatan respons terhadap bencana bisa terganggu. Karena itu, transparansi dalam pengadaan dinilai menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan publik.

Langkah Lanjutan

KPK menyatakan akan terus mengumpulkan bukti, termasuk memeriksa dokumen kontrak, dokumen pembayaran, serta komunikasi antar pihak yang diduga terlibat. Penyidik juga tidak menutup kemungkinan memanggil pihak lain jika ditemukan bukti baru yang mengarah pada keterlibatan lebih luas.

Selain itu, KPK mendorong BNPB memperbaiki tata kelola pengadaan, memperkuat pengawasan internal, dan menerapkan prinsip keterbukaan dalam setiap tahapan. Perbaikan sistem dinilai sama pentingnya dengan penindakan, agar celah yang sama tidak lagi dimanfaatkan pihak-pihak tertentu.

Hingga saat ini, kedua prajurit aktif tersebut belum berstatus tersangka. KPK menegaskan bahwa status hukum seseorang tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah sampai ada penetapan resmi dan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Proses hukum akan dijalankan secara profesional, transparan, dan sesuai koridor yang berlaku.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizki Setiawan

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter