30, 2026
Nasional

Langit Kalimantan Merah Menyala di Tengah Karhutla, Ini Sebabnya

Langit di sejumlah wilayah Kalimantan berubah menjadi oranye hingga merah menyala. Fenomena ini terlihat dalam sejumlah unggahan warga yang terdampak karhutla.]]>

Sandi Setiawan
Sandi Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Langit Kalimantan Merah Menyala di Tengah Karhutla, Ini Sebabnya

Langit Kalimantan Merah Menyala di Tengah Karhutla, Ini Sebabnya

Kalimantan kembali diterpa kabar buruk terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan langit di beberapa wilayah terlihat berwarna merah menyala. Fenomena langit merah yang menakutkan ini bukanlah hal baru bagi pulau yang dikenal sebagai "pulau seribu sungai" tersebut. Setiap musim kemarau, Kalimantan sering menjadi sumber kabar negatif terkait kabut asap yang meresahkan. Namun, fenomena langit merah kali ini menunjukkan betapa parahnya kondisi kebakaran yang terjadi di tengah musim kemarau yang belum berakhir.

Penyebab Utama Fenomena Langit Merah

Fenomena langit berwarna merah di Kalimantan ini disebabkan oleh partikel-partikel debu dan asap hasil pembakaran hutan dan lahan yang sangat pekat. Partikel-partikel halus ini tersebar di udara dan memantulkan cahaya matahari, khususnya pada saat matahari terbenam atau terbit. Proses yang dikenal sebagai difusi cahaya ini membuat cahaya biru dan hijau diserap oleh partikel-partikel asap, sehingga cahaya merah yang tersisa memantulkan ke seluruh langit.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati menjelaskan bahwa kondisi ini diperparah oleh adanya invansi angin dari arah timur yang membawa partikel-partikel debu dari daratan Australia. "Invasi angin ini membawa debu dari Australia yang bercampur dengan asap karhutla di Kalimantan, sehingga intensitasnya semakin pekat dan menyebabkan langit terlihat lebih merah," ujarnya dalam konferensi pers.

Wilayah Terdampak dan Dampak bagi Kesehatan

Wilayah yang paling parah terdampak oleh fenomena ini adalah Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Data dari Satuan Tugas Penanganan Karhutla menunjukkan bahwa hingga saat ini terdapat lebih dari 500 titik panas yang tersebar di ketiga provinsi tersebut. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 titik dikonfirmasi sebagai kebakaran hutan dan lahan aktif.

Dampak fenomena ini tidak hanya terlihat pada visual yang menakutkan, tetapi juga berpengaruh serius terhadap kesehatan masyarakat. Asap pekat yang mengandung partikel PM2.5 dan PM10 berukuran mikro ini dapat masuk ke saluran pernafasan manusia dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di beberapa wilayah melaporkan peningkatan pasien dengan keluhan gangguan pernafasan, asma, iritasi mata, dan penyakit kulit.

"Kami mendapat laporan bahwa jumlah pasien dengan keluhan gangguan pernafasan di wilayah kami meningkat hingga 40% sejak seminggu terakhir. Mayoritas pasien adalah anak-anak dan lanjut usia yang rentan terhadap polusi udara," kata Kepala RSUD Palangka Raya, dr. Ahmad Yani.

Upaya Penanggulangan yang Sedang Dilakukan

Pemerintah pusat dan daerah telah melakukan berbagai upaya untuk menangani karhutla yang menyebabkan fenomena ini. Satuan Tugas Penanganan Karhutla telah mengerahkan sebanyak 1.500 personel untuk melakukan penanggulangan api di lapangan. Tim terdiri dari personel TNI/Polri, Basarnas, serta relawan dari berbagai organisasi.

Selain itu, pemerintah juga menggunakan teknologi canggih untuk memadamkan api. Sebanyak 5 pesawat air bombing dan 10 helikopter yang dilengkapi dengan kapasitas air 2.000 liter digunakan untuk melakukan penyiraman dari udara. "Kami melakukan penyiraman di titik-titik rawan kebakaran yang sulit dijangkau oleh darat. Ini sangat efektif untuk memadamkan api yang sedang melalap," jelas Kepala Satuan Tugas Penanganan Karhutla Kalimantan.

Untuk mencegah kebakaran lebih lanjut, pemerintah juga melakukan kebijakan pembatasan kegiatan terkait api di wilayah yang berpotensi terjadi kebakaran. Selain itu, pemerintah juga memfasilitasi masyarakat dengan menyediakan masker gratis di puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya.

Harapan di Tengah Krisis Lingkungan

Dengan musim kemarau yang masih berlanjut, fenomena langit merah di Kalimantan diperkirakan akan berlangsung hingga beberapa minggu ke depan. Pemerintah terus mengimbau kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan dan tidak melakukan kegiatan yang berpotensi menimbulkan kebakaran.

"Kami berharap agar masyarakat dapat sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berdampak kesehatan dan ekonomi masyarakat," ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar.

Dengan adanya kesadaran kolektif dan upaya penanganan yang maksimal, diharapkan fenomena langit merah yang menakutkan ini dapat segera berakhir dan Kalimantan dapat kembali bernafas dengan udara yang segar.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Sandi Setiawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter