30, 2026
Teknologi

Langit Lampung Gelap Akibat Abu Anak Krakatau, Warga Mulai Sesak Napas

Lestari Saputra
Lestari Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Langit Lampung Gelap Akibat Abu Anak Krakatau, Warga Mulai Mengeluh Sesak Napas

Gunung Anak Krakatau kembali memunculkan asap tebal dan abu vulkanik yang menyebabkan langit di sejumlah wilayah di Provinsi Lampung menjadi gelap. Aktivitas vulkanik yang terjadi sejak beberapa hari terakhir telah memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama karena beberapa warga mulai mengeluh mengalami gejala sesak napas dan iritasi pada mata.

Berdasarkan laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), aktivitas Anak Krakatau yang meningkat ini ditandai dengan frekuensi erupsi yang lebih sering dan tingkat kekerasan yang bervariasi. Abu vulkanik yang terdispersi udara telah menutupi wilayah sekitar Selat Sunda, termasuk Kabupaten Lampung Selatan, Kota Bandar Lampung, dan sekitarnya.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa tingkat aktivitas Anak Krakatau saat ini masih dalam kategori waspada. "Pengamatan visual menunjukkan kolom abu mencapai ketinggian 500-800 meter dari puncak gunung. Abu ini kemudian menyebar tergantung arah angin kebiasaan," ujarnya, Kamis (15/9).

Dampak Kesehatan Meningkat

Seiring dengan menyebarnya abu vulkanik, puskesmas di sekitar wilaya terdampak mulai melaporkan peningkatan pasien yang mengeluhkan gejala gangguan pernapasan. Klinik-klinik di wilayah Lampung Selatan dan Kota Bandar Lampung ramai dikunjungi warga yang mengeluhkan batuk kering, sesak napas, dan iritasi mata.

"Kami sudah merespons dengan menyediakan masker medis gratis bagi warga yang membutuhkan. Selain itu, kami juga membagikan informasi tentang cara perlindungan diri saat terpapar abu vulkanik," jelas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, dr. Helmi Fauzi.

Para ahli kesehatan mengimbau warga untuk selalu memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat masalah pernapasan seperti asma atau bronchitis. Selain itu, disarankan untuk selalu membawa air minum dan menghindari aktivitas fisik berat di luar ruangan saat kondisi abu vulkanik masih tinggi.

Transportasi Terdampak

Penyebaran abu vulkanik juga berdampak pada operasional transportasi di wilayah tersebut. Bandara Internasional Radin Inten II di Bandar Lampung sempat mengalami penundaan beberapa penerbangan pada Rabu (14/9) lalu karena keterbatasan visibilitas.

"Kami terus memantau kondisi cuaca dan tingkat kekerenan abu. Keputusan untuk menghentikan atau menunda penerbangan selalu didasarkan pada pertimbangan keselamatan penumpang dan awak pesawat," jelas Juru Bicara Bandara Radin Inten II, Bambang Priyambodo.

Selain transportasi udara, operasasi kapal feri di jalur Merak-Bakauheni juga sempat terganggu meski tidak dibatalkan total. Kepala Pelabuhan Bakauheni, Ahmad Fauzi, mengatakan bahwa pihaknya terus memberikan informasi kepada para nakhoda kapal tentang kondisi cuaca dan tingkat kekerenan abu.

Tanggapan Pemerintah

Pemerintah Provinsi Lampung bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah memantau situasi secara intensif. Tim penanggulangan bencana telah diterjunkan ke beberapa titik untuk memantau tingkat kekerenan abu dan memberikan bantuan kepada masyarakat.

"Kami telah menyiapkan posko-posko di beberapa lokasi strategis untuk membantu warga yang terdampak. Selain itu, kami juga sedang mempersiapkan ruang isolasi sementara bagi warga yang membutuhkan perawatan khusus akibat dampab abu vulkanik," jelas Kepala BPBD Provinsi Lampung, Irfan Wahyudi.

Warga diimbau untuk tetap tenan dan mengikuti arahan dari pihak berwenang. Informasi terkait perkembangan aktivitas Anak Krakatau dan dampaknya akan terus diperbarui melalui berbagai saluran komunikasi resmi.

Sementara itu, para ilmuwan dari Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas Anak Krakatau secara real-time. Mereka menyatakan bahwa meskipun aktivitas gunung saat ini meningkat, belum ada indikasi adah ancaman tsunami serupa yang terjadi pada 2018 lalu.

"Kami terus mengamati pergerakan gunung dan aktivitas seismiknya. Jika ada perubahan signifikan, kami akan segera memberikan peringatan kepada masyarakat," jelas Kepala PVMBG, Kasbani.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Saputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter