17, 2026
Nasional

Lestarikan Ekspresi Budaya RI, Kemenbud Gelar Pagelaran Wayang Kulit

Kemenbud menggelar Pagelaran Wayang Kulit 'Senopati Pinilih' untuk merayakan Hari Kebudayaan 2026, menekankan pentingnya melestarikan budaya Indonesia.]]>

Intan Permata
Intan Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Lestarikan Ekspresi Budaya RI, Kemenbud Gelar Pagelaran Wayang Kulit

Lestarikan Ekspresi Budaya RI, Kemenbud Gelar Pagelaran Wayang Kulit

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemenbudristek) menggelar pagelaran wayang kulit sebagai upaya melestarikan warisan budaya Indonesia yang telah diakui secara internasional. Acara yang digelar pada tanggal 15-17 Oktober 2023 di Auditorium Universitas Indonesia ini menampilkan dalang-dalang papan dari berbagai daerah di Indonesia.

Kepala Bidang Kebudayaan Kemenbudristek, Dr. Siti Aminah, menjelaskan bahwa wayang kulit merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO pada tahun 2003. "Wayang kulit bukan sekadar pertunjukan hiburan, tetapi juga media pendidikan dan pewarisan nilai-nilai budaya, moral, dan filosofis bagi masyarakat Indonesia," ujarnya dalam sambutannya.

Pagelaran dengan Ragam Tema dan Dalang Papan

Pagelaran wayang kulit ini menghadirkan berbagai tema yang diangkat dari cerita-cerita klasik seperti Mahabarata, Ramayana, serta cerita-cerita lokal yang memiliki nilai-nilai mendalam. Para dalang yang tampil antara lain Ki Sugino Siswocarito dari Jawa Tengah, Ki Manteb Soedarsono dari Yogyakarta, Ki Harsono dari Jawa Timur, serta Ki Enthus Susmono dari Jakarta.

Setiap dalang memilih cerita yang berbeda untuk ditampilkan. Ki Sugino Siswocarito mengangkat cerita Bima Suci dengan pesan tentang kesetiaan dan keberanian. Sementara itu, Ki Manteb Soedarsono mempertunjukkan cerita Gatotkaca Kaca yang mengisahkan kekuatan dan tanggung jawab. "Melalui wayang, kita tidak hanya menghibur tetapi juga menyampaikan pesan moral yang dapat diambil pembelajaran oleh penonton," kata Ki Manteb.

Upaya Pelestarian Budaya di Era Digital

Dalam era digital saat ini, pelestarian budaya seperti wayang kulit menghadapi tantangan tersendiri. Kemenbudristek melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan berupaya menyesuaikan cara penyajian wayang kulit dengan teknologi modern. "Kami mengembangkan platform digital yang memungkinkan wayang kulit dapat dinikmati oleh kalangan muda tanpa kehilangan makna aslinya," jelas Dr. Siti Aminah.

Selain itu, Kemenbudristek juga bekerja sama dengan berbagai institusi pendidikan untuk mengintegrasikan wayang kulit dalam kurikulum pembelajaran. "Wayang kulit dapat menjadi media pembelajaran yang efektif untuk mengajarkan sejarah, sastra, dan nilai-nilai karakter kepada siswa," tambahnya.

Partisipasi Masyarakat dan Dampak Positif

Pagelaran wayang kulit ini turut melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat sekitar. Komunitas seni tradisional lokal, mahasiswa, dan pecinta wayang kulit turut hadir untuk menyaksikan langsung pertunjukan. "Bagi kami, menyaksikan wayang kulit secara langsung sangat berbeda dengan menonton melalui layar. Ada energi dan interaksi langsung yang tidak bisa digantikan," kata Budi, seorang penggemar wayang kulit yang telah menonton semua pertunjukan.

Pagelaran ini juga dirancang untuk memberikan dampak positif bagi para dalang dan seniman wayang kulit. Melalui gelaran ini, para seniman diberikan kesempatan untuk menunjukkan kreativitas dan memperoleh pengakuan atas karya mereka. "Ini adalah platform bagi kami untuk terus berkarya dan melestarikan warisan nenek moyang," ujar Ki Harsono, salah satu dalang yang tampil.

Peran Penting Pemerintah dalam Pelestarian Budaya

Kemenbudristek menegaskan komitmennya dalam mendukung pelestarian berbagai bentuk ekspresi budaya di Indonesia. Melalui berbagai program dan kegiatan, pemerintah berupaya memastikan warisan budaya terus lestari dan relevan dengan zaman. "Wayang kulit hanya salah satu dari banyak warisan budaya yang perlu dilestarikan. Kami terus berupaya untuk memberikan ruang dan dukungan bagi semua bentuk ekspresi budaya di Indonesia," kata Dr. Siti Aminah.

Pagelaran wayang kulit ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih mengenal dan melestarikan budaya Indonesia. Dengan memahami dan menghargai warisan budaya, diharapkan generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang mampu membawa Indonesia lebih maju tanpa melupakan akar budayanya.

Sebagai penutup, Dr. Siti Aminah mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus mendukung dan berpartisipasi dalam pelestarian budaya Indonesia. "Budaya adalah jibang bangsa. Mari kita bersama-sama menjaga dan melestarikannya untuk generasi mendatang," pungkasnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Intan Permata

Spesialis konten kuliner sehat, diet, dan resep rendah kalori.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter