08, 2026
Nasional

Menjadi Pelatih Tak Mengubah Kepribadian Chivu

Cristian Chivu mengakui bahwa menjadi pelatih tidak mudah. Dia menegaskan bahwa pekerjaannya ini tak mengubahnya secara kepribadian.]]>

Fajar Hidayat
Fajar Hidayat Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Menjadi Pelatih Tak Mengubah Kepribadian Chivu

Mantan bek internasional Rumania, Cristian Chivu, menegaskan bahwa profesinya sebagai pelatih tidak mengubah kepribadiannya. Pria yang kini menangani sesama tim Serie A, Parma, itu dikenal sebagai sosok yang tenang, reflektif, dan tidak banyak bicara. Ia menilai karakter tersebut merupakan bagian dari dirinya sejak lama dan tidak pernah berubah hanya karena kini ia berdiri di pinggir lapangan sebagai pelatih.

Chivu mengungkapkan hal tersebut dalam sebuah wawancara menjelang laga antara Parma dan Inter Milan. Baginya, seorang pelatih tidak perlu mengubah jati diri demi memenuhi ekspektasi orang lain. Menurut dia, cara terbaik untuk memimpin tim adalah dengan tetap setia pada prinsip dan kepribadian sendiri, bukan berpura-pura menjadi sosok yang berbeda hanya demi mengikuti tren sepak bola modern.

Pemimpin yang Tidak Harus Bersuara Lantang

Dalam dunia sepak bola, banyak pelatih identik dengan gaya yang vokal dan ekspresif di pinggir lapangan. Chivu memilih pendekatan berbeda. Ia lebih suka menyampaikan instruksi secara tenang, memberikan kepercayaan kepada para pemain, dan membiarkan hasil kerja di lapangan yang berbicara. Pendekatan itu dinilainya lebih sesuai dengan nilai-nilai yang ia yakini selama ini.

Chivu menuturkan bahwa kepemimpinan tidak selalu diukur dari seberapa keras seorang pelatih berteriak atau seberapa sering ia tampil di depan kamera. Menurutnya, pemain tetap dapat merasakan kedisiplinan, arahan, dan ketenangan dari cara seorang pelatih bekerja sehari-hari. Konsistensi sikap itulah yang justru membangun rasa hormat di ruang ganti.

Ia juga menyoroti pentingnya hubungan personal dengan para pemain. Sebagai mantan pemain yang pernah merasakan tekanan di level tertinggi, Chivu memahami kebutuhan pemain muda maupun senior. Pengalaman itu membuatnya lebih mudah memahami situasi tertentu, misalnya saat pemain tengah menjalani periode sulit. Baginya, pelatih bukan hanya pengatur taktik, tetapi juga pendamping yang harus mampu menjaga suasana tim.

Adaptasi di Kursi Pelatih

Meski mengaku tidak berubah, Chivu menyadari bahwa tugas pelatih menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi. Ia harus mempelajari pola kerja baru, mulai dari menyusun rencana latihan, menganalisis lawan, hingga mengelola rotasi pemain. Berbagai tanggung jawab tersebut membuatnya semakin menghargai profesi pelatih yang sebelumnya hanya ia jalani dari sisi pemain.

Ia menekankan bahwa perubahan yang terjadi pada dirinya lebih bersifat teknis, bukan personal. Kepribadian tetap menjadi fondasi cara ia mengambil keputusan. Ketika harus menentukan susunan pemain atau menyampaikan kritik, ia berusaha melakukannya dengan cara yang jujur dan menghormati pemain. Sikap itu dinilainya penting agar pesan yang disampaikan tidak menimbulkan jarak yang terlalu jauh antara pelatih dan skuad.

Di sisi lain, Chivu mengakui bahwa menjadi pelatih berarti harus siap menerima tekanan dari berbagai pihak, termasuk media dan suporter. Namun, ia memilih untuk tidak membiarkan tekanan tersebut mengubah cara ia berbicara atau bersikap. Baginya, menjaga ketenangan adalah bagian dari tanggung jawab seorang pemimpin agar tidak menambah ketegangan di dalam tim.

Menghadapi Inter dan Kenangan Masa Lalu

Laga melawan Inter Milan menjadi momen menarik bagi Chivu karena ia pernah memperkuat klub tersebut sebagai pemain. Ia dikenal sebagai salah satu bek yang ikut meraih sejumlah gelar bersama Inter pada periode kejayaan klub itu. Meski demikian, ia menegaskan bahwa saat ini loyalitasnya sepenuhnya ada pada Parma, klub yang ia tangani.

Ia memandang pertandingan itu sebagai laga biasa yang harus dijalani dengan profesional. Kenangan masa lalu tidak boleh mengaburkan fokus Parma yang tengah berjuang meraih hasil terbaik di Serie A. Chivu menekankan bahwa persiapan tim dilakukan seperti pertandingan lainnya, dengan analisis lawan dan perencanaan yang matang.

Di mata Chivu, menghadapi tim besar memang selalu menjadi ujian tersendiri, tetapi bukan alasan untuk mengubah cara tim bermain secara drastis. Ia lebih memilih menekankan kekompakan, disiplin, dan keberanian mengambil inisiatif. Menurutnya, pemain harus berani tampil percaya diri dan tidak hanya bertahan sepanjang laga.

Fokus pada Perkembangan dan Identitas Tim

Dalam jangka panjang, Chivu berharap Parma dapat membangun identitas permainan yang jelas. Ia ingin timnya tidak hanya bergantung pada hasil sesaat, tetapi juga pada proses perkembangan yang berkelanjutan. Pembinaan pemain muda, menurut dia, menjadi bagian penting dari upaya itu.

Ia juga menekankan bahwa hasil buruk tidak harus dihadapi dengan kepanikan. Sebagai pelatih, ia berusaha menciptakan suasana yang stabil agar pemain dapat bekerja tanpa rasa takut berlebihan. Kestabilan inilah yang dinilainya sebagai salah satu kunci untuk melewati periode sulit dalam satu musim kompetisi.

Dengan gaya kepemimpinan yang tenang dan tidak banyak bicara, Chivu menegaskan bahwa menjadi pelatih bukan tentang tampil paling mencolok, melainkan tentang mengambil keputusan yang tepat dan membangun kepercayaan. Kepribadiannya sebagai seorang yang reflektif justru menjadi kekuatan tersendiri dalam menjalani peran barunya itu.

Ia menutup dengan pesan sederhana bahwa perubahan pekerjaan tidak selalu berarti perubahan watak. Bagi Chivu, tetap menjadi diri sendiri adalah pilihan yang ia yakini paling tepat, baik saat masih bermain maupun kini saat memimpin sebuah tim di kompetisi seketat Serie A.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Fajar Hidayat

Penulis berita kesehatan nasional dan kebijakan layanan medis.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter