01, 2026
Nasional

Menjelajah Dunia Lewat Buku di Atas Kapal Doulos Hope

Julia Halim
Julia Halim Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kapal Doulos Hope bersandar di dermaga, menjadi magnet bagi warga yang ingin menjelajahi dunia melalui buku. Di atas kapal yang sebelumnya dikenal sebagai kapal pesiar ini, ribuan judul buku dalam berbagai bahasa tersusun rapi di rak-rak kayu, siap disantap oleh pengunjung dari berbagai kalangan.

Dari Kapal Pesiar Menjadi Perpustakaan Terapung

Doulos Hope bukan kapal biasa. Sebelum berlayar di bawah bendera organisasi nirlaba Jerman, Gute Bücher für Alle atau GBA Ships, kapal ini melayani penumpang sebagai kapal pesiar. Kini, fungsi itu berganti total. Ruang kabin yang dulu dipakai untuk bersantai berubah menjadi toko buku terapung dengan koleksi yang terus diperbarui di setiap pelabuhan.

Di atas kapal, pengunjung dapat menemukan buku anak-anak, novel, buku masak, buku sejarah, hingga literatur akademik. Harga yang dipatok jauh di bawah harga pasaran menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu, tersedia pula sudut baca bagi mereka yang ingin menyelami isi buku sebelum memutuskan membeli.

Misi Literasi yang Berkeliling Dunia

Kehadiran Doulos Hope di sejumlah kota bukan sekadar ajang jual beli buku. Kapal ini mengemban misi literasi dan pertukaran budaya. Di setiap pelabuhan, awak kapal yang berasal dari berbagai negara berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat, menggelar kegiatan membaca bersama, serta menyediakan program edukasi bagi anak-anak dan remaja.

Program tersebut menjadi jembatan bagi masyarakat di daerah yang akses terhadap buku masih terbatas. Melalui kehadiran kapal ini, buku-buku berkualitas dapat menjangkau pembaca yang selama ini kesulitan mendapatkan bahan bacaan, baik karena harga maupun keterbatasan distribusi.

Peran Relawan dari Berbagai Negara

Doulos Hope dioperasikan oleh sejumlah relawan yang datang dari penjuru dunia. Mereka bekerja tanpa bayaran, mulai dari menata buku, melayani pengunjung, hingga menjalankan kapal. Keberagaman latar belakang para relawan menciptakan suasana multikultural yang khas di atas kapal.

Para relawan tinggal di kapal selama masa pelayanan, berbagi ruang dan tugas. Bagi banyak dari mereka, pengalaman ini menjadi kesempatan untuk berkontribusi pada dunia literasi sekaligus mengenal budaya baru. Kehadiran mereka sering menarik perhatian pengunjung yang penasaran dengan kehidupan di atas kapal.

Antusiasme Warga di Setiap Pelabuhan

Sejak kapal ini mulai beroperasi di bawah nama Doulos Hope pada 2023, antusiasme masyarakat di setiap pelabuhan yang disinggahi tergolong tinggi. Warga rela mengantre panjang, bahkan sejak pagi, demi bisa naik ke atas kapal dan memilih buku. Banyak dari mereka datang bersama keluarga, membawa anak-anak untuk mengenal lebih dekat dunia buku.

Pengunjung tidak hanya membeli buku. Mereka juga memanfaatkan kesempatan untuk berbincang dengan awak kapal, bertanya tentang negara asal relawan, atau sekadar menikmati pemandangan pelabuhan dari dek kapal. Interaksi semacam ini membuat kunjungan ke Doulos Hope lebih dari sekadar berbelanja buku.

Koleksi Buku yang Menjangkau Beragam Kalangan

Koleksi di Doulos Hope disesuaikan dengan kebutuhan pembaca lokal. Buku dalam bahasa nasional dan bahasa Inggris mendominasi rak, namun tersedia pula buku dalam bahasa lain. Untuk memastikan relevansi, pihak kapal biasanya melibatkan koordinasi dengan organisasi lokal sebelum kapal bersandar.

Buku-buku untuk anak menjadi salah satu kategori paling diminati. Selain karena harganya terjangkau, koleksi ini dinilai mampu menumbuhkan minat baca sejak dini. Sementara itu, pembaca dewasa banyak mencari buku pengembangan diri, sejarah, dan biografi.

Tantangan dan Harapan Ke Depan

Meski mendapat sambutan positif, operasional kapal ini tidak lepas dari tantangan. Biaya perawatan kapal, pengiriman buku, serta kebutuhan logistik selama berlayar menjadi persoalan yang harus dikelola secara cermat. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk donatur dan mitra lokal, menjadi kunci keberlanjutan misi ini.

Ke depan, Doulos Hope diharapkan terus menjelajah ke lebih banyak pelabuhan, terutama di wilayah yang belum pernah dikunjungi. Dengan demikian, semakin banyak orang dapat merasakan pengalaman menjelajahi dunia lewat buku, tanpa harus meninggalkan kampung halaman mereka.

Kehadiran kapal ini menjadi pengingat bahwa buku masih memiliki kekuatan untuk menghubungkan manusia lintas benua. Di atas dek yang bergoyang mengikuti gelombang, literasi menemukan wajahnya yang lain: bukan sekadar kegiatan membaca, melainkan perjalanan bersama yang melintasi laut dan budaya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Julia Halim

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter