Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) meninjau peran PT Telkom Data Ekosistem (NeutraDC) dalam membangun ekosistem pusat data yang menopang pengembangan kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia. Peninjauan tersebut menempatkan infrastruktur pusat data sebagai bagian dari agenda kedaulatan digital nasional, terutama ketika kebutuhan komputasi untuk AI meningkat pesat dan sebagian besar masih bergantung pada penyedia layanan di luar negeri.
NeutraDC merupakan anak perusahaan Telkom yang bergerak di bidang pusat data dan layanan komputasi awan. Perusahaan ini mengoperasikan sejumlah fasilitas di dalam negeri, antara lain di Jakarta dan Batam, serta memiliki keterkaitan dengan pusat data di kawasan regional. Dalam konteks pengembangan AI, keberadaan pusat data domestik dinilai penting karena menentukan sejauh mana data dan proses komputasi dapat dikelola di dalam yurisdiksi Indonesia.
Pusat Data sebagai Fondasi Ekosistem AI
Pengembangan AI tidak hanya bergantung pada algoritma dan ketersediaan talenta, tetapi juga pada kapasitas komputasi, penyimpanan, dan konektivitas yang memadai. Model AI berskala besar membutuhkan unit pemrosesan grafis (GPU) dalam jumlah besar, daya listrik yang stabil, serta sistem pendingin yang efisien. Kebutuhan itu menjadikan pusat data sebagai simpul utama dalam rantai nilai AI, mulai dari pengumpulan dan pengolahan data hingga pelatihan model dan penyajian layanan kepada pengguna.
Dalam kerangka itu, peran NeutraDC dilihat sebagai penyedia lapisan infrastruktur yang dapat digunakan oleh pemerintah, pelaku industri, lembaga riset, dan pengembang teknologi dalam negeri. Ketersediaan fasilitas komputasi di dalam negeri memungkinkan organisasi mengolah data sensitif tanpa harus mengirimkannya ke pusat data di luar yurisdiksi Indonesia, sebuah faktor yang kerap menjadi pertimbangan utama sektor publik dan industri teregulasi seperti jasa keuangan dan kesehatan.
Kapasitas dan Sebaran Fasilitas
NeutraDC mengembangkan sejumlah kampus pusat data dengan standar tier tinggi, termasuk fasilitas yang dirancang untuk mendukung beban kerja AI yang padat daya. Lokasi Batam menjadi perhatian karena posisinya berdekatan dengan jalur kabel laut internasional dan kawasan ekonomi khusus, sehingga berpotensi menjadi penghubung antara kebutuhan domestik dan permintaan regional. Sementara itu, fasilitas di Jakarta berperan melayani kebutuhan korporasi dan institusi yang terkonsentrasi di pusat ekonomi nasional.
Selain ruang fisik, ekosistem pusat data mencakup lapisan layanan di atasnya, seperti platform komputasi awan, layanan keamanan siber, pusat operasi jaringan, serta dukungan interkoneksi antarpenyedia. Lapisan-lapisan tersebut menentukan apakah sebuah fasilitas pusat data hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan perangkat atau benar-benar menjadi bagian dari rantai pasok AI yang berkelanjutan.
Kedaulatan Digital dan Tata Kelola Data
Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah menekankan pentingnya kedaulatan digital sebagai prasyarat pembangunan ekonomi berbasis teknologi. Kedaulatan itu mencakup kendali atas data warga negara, kemampuan mengaudit sistem yang digunakan oleh layanan publik, serta kemandirian dalam menghadapi gangguan pasokan teknologi global. Pusat data domestik diposisikan sebagai salah satu pilar untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Aspek regulasi menjadi bagian tak terpisahkan. Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi mengatur kewajiban pengendali data dalam memproses informasi pribadi, termasuk ketentuan mengenai transfer data ke luar wilayah Indonesia. Keberadaan infrastruktur dalam negeri memberi pilihan yang lebih luas bagi pengendali data untuk memenuhi kewajiban tersebut tanpa kehilangan akses terhadap kapasitas komputasi modern.
Dorongan bagi Ekosistem Lokal
Pemerintah juga mendorong tumbuhnya ekosistem AI lokal, mulai dari pengembang aplikasi, penyedia model bahasa, hingga perusahaan rintisan yang mengolah data spesifik Indonesia. Ketersediaan infrastruktur yang terjangkau dan berstandar internasional disebut menjadi faktor yang memengaruhi daya saing ekosistem tersebut. Tanpa dukungan komputasi yang memadai, pengembang dalam negeri berisiko tertinggal atau bergantung sepenuhnya pada layanan lintas batas.
Selain itu, pengembangan pusat data berdampak pada sektor lain, antara lain penyediaan tenaga listrik, pembangunan jaringan serat optik, dan penyerapan tenaga kerja terampil di bidang operasi jaringan serta keamanan siber. Pemerintah memandang keterkaitan antarsektor ini sebagai peluang untuk memperkuat struktur industri digital nasional, bukan sekadar penambahan kapasitas fisik.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski demikian, sejumlah tantangan belum sepenuhnya teratasi. Pasokan daya listrik yang stabil dan berkelanjutan menjadi syarat mutlak bagi pusat data berskala besar, terutama yang melayani beban kerja AI. Isu efisiensi energi dan pemanfaatan sumber energi terbarukan juga menjadi perhatian karena operasional pusat data berlangsung terus-menerus.
Selain energi, ketersediaan perangkat keras khusus AI masih bergantung pada rantai pasok global yang dinamis. Keterbatasan akses terhadap chip canggih dapat memengaruhi rencana ekspansi layanan komputasi. Karena itu, strategi pengembangan ekosistem dinilai perlu mencakup kemitraan internasional, diversifikasi pemasok, serta pengembangan kapasitas riset dalam negeri.
Faktor lain adalah kesiapan sumber daya manusia. Operasional pusat data modern menuntut keterampilan teknis spesifik, mulai dari manajemen fasilitas dan pendingin hingga orkestrasi beban kerja komputasi terdistribusi. Kesenjangan keterampilan berpotensi menjadi hambatan jika tidak diimbangi program pelatihan yang terarah.
Langkah Lanjutan
Peninjauan oleh Menkomdigi terhadap peran NeutraDC menunjukkan bahwa pembahasan mengenai AI tidak lagi berhenti pada aspek regulasi dan etika, tetapi bergerak ke soal infrastruktur yang menopangnya. Koordinasi antara kementerian, badan usaha milik negara, pelaku industri, dan lembaga riset menjadi kunci agar investasi pusat data berkontribusi nyata terhadap kemampuan nasional dalam mengembangkan dan memanfaatkan AI.
Ke depan, arah kebijakan yang diperbincangkan mencakup penguatan kapasitas komputasi nasional, penyusunan standar interoperabilitas, serta insentif bagi penggunaan infrastruktur dalam negeri. Bagi NeutraDC, posisi sebagai bagian dari ekosistem AI nasional bergantung pada kemampuannya menjaga keandalan layanan, memenuhi standar keamanan, dan menghadirkan kapasitas yang relevan dengan kebutuhan pengguna domestik maupun regional.
Komentar (0)