21, 2026
Teknologi

Misteri Wabah Terganjil dalam Sejarah: Menari Sampai Mati

Musim panas tahun 1518, penduduk Strasbourg seakan tak bisa berhenti menari, bahkan hingga tewas.]]>

Rizky Amelia
Rizky Amelia Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Misteri Wabah Terganjil dalam Sejarah: Menari Sampai Mati

Misteri Wabah Terganjil dalam Sejarah: Menari Sampai Mati

Pada Juli 1518, di Strasbourg yang saat itu merupakan kota kekaisaran bebas di wilayah Kekaisaran Romawi Suci, seorang perempuan bernama Frau Troffea mulai menari di jalanan. Menurut kronik-kronik setempat, ia menari tanpa musik, tanpa henti, dan tanpa alasan yang jelas. Dalam beberapa hari, puluhan orang dilaporkan ikut menari. Dalam waktu sekitar sebulan, jumlahnya membengkak hingga ratusan orang. Sebagian dari mereka disebut menari sampai kelelahan, pingsan, bahkan meninggal. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Wabah Tarian 1518, salah satu episode paling ganjil dalam sejarah kesehatan dan perilaku kolektif di Eropa.

Catatan sejarah tidak memberikan angka yang sepenuhnya seragam. Sejumlah kronik menyebut sekitar 400 orang terlibat, sementara laporan lain menyebut jumlah yang lebih kecil. Kematian juga dilaporkan terjadi, meskipun jumlahnya diperdebatkan. Yang paling menonjol bukan hanya skala peristiwa, tetapi juga respons otoritas kota. Alih-alih langsung menghentikan kerumunan, sebagian pejabat dan dokter setempat justru mengambil langkah yang terdengar berlawanan dengan akal sehat: mereka menyediakan ruang menari, mendatangkan musisi, dan membiarkan orang-orang menari sampai kelelahan.

Respons Otoritas dan Logika Medis Abad ke-16

Pada awal abad ke-16, pemahaman medis tentang tubuh manusia masih sangat berbeda dari sekarang. Dokter mengaitkan kondisi para penari dengan “darah panas” atau ketidakseimbangan humor dalam tubuh. Salah satu tindakan yang diambil adalah mengeluarkan darah dari tubuh pasien. Ada pula anggapan bahwa satu-satunya cara menghentikan tarian adalah membiarkannya berlangsung hingga energi yang menumpuk habis. Karena itu, otoritas kota disebut membangun panggung kayu dan mengundang pemusik agar para penari bisa bergerak dalam kondisi yang lebih terkendali.

Namun, langkah tersebut tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Justru, kehadiran musik dan ruang publik dapat memperluas kerumunan. Peristiwa itu menunjukkan bagaimana wabah perilaku kolektif dapat berinteraksi dengan keyakinan medis, otoritas politik, dan lingkungan sosial. Strasbourg pada 1518 bukan kota yang tenang. Wilayah itu menghadapi paceklik, harga pangan yang tinggi, wabah penyakit, dan ketegangan sosial. Dalam kondisi seperti itu, tarian massal menjadi gejala yang sulit dijelaskan dengan satu penyebab tunggal.

Dari Ergotisme hingga Histeria Massal

Selama berabad-abad, berbagai teori diajukan untuk menjelaskan Wabah Tarian 1518. Salah satu teori paling dikenal adalah keracunan ergot, yaitu zat yang dihasilkan jamur pada gandum hitam. Ergotisme dapat menyebabkan kejang, halusinasi, dan gangguan saraf. Namun, teori ini tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa para korban dilaporkan mampu menari berjam-jam atau berhari-hari, serta mengapa fenomena itu menyebar secara sosial dari satu orang ke orang lain.

Teori lain yang lebih banyak dibahas sejarawan adalah histeria massal atau gangguan psikogenik kolektif. Dalam kondisi tekanan ekstrem—kelaparan, penyakit, ketakutan akan kutukan, dan ketidakpastian sosial—gejala fisik dapat muncul tanpa penyebab organik yang jelas. Tarian menjadi semacam ekspresi kolektif dari ketegangan yang tidak terurai. Sejumlah sejarawan, termasuk John Waller, menempatkan peristiwa 1518 dalam konteks krisis sosial dan kepercayaan religius. Mereka berargumen bahwa keyakinan akan kutukan Santo Vitus, yang diyakini dapat menyebabkan tarian tak terkendali, memperkuat penyebaran gejala di tengah masyarakat.

Kepercayaan pada Santo Vitus penting dalam konteks ini. Pada Abad Pertengahan, ada tradisi bahwa orang yang tidak menghormati santo tertentu dapat terkena “tarian Santo Vitus”. Gangguan yang kini disebut chorea Sydenham, yaitu kondisi neurologis yang menyebabkan gerakan tak terkendali, pernah dikaitkan dengan nama tersebut. Namun, para peneliti modern menekankan bahwa Wabah Tarian 1518 tidak dapat disamakan begitu saja dengan penyakit neurologis itu. Catatan sejarahnya terlalu terbatas, dan gejala yang dilaporkan bercampur dengan tafsir religius pada masanya.

Bukan Fenomena Tunggal

Wabah tarian di Strasbourg bukan satu-satunya peristiwa semacam itu. Kronik Eropa mencatat beberapa outbreak tarian massal sebelumnya, antara lain di Erfurt pada 1237, Utrecht pada 1278, dan Zurich pada 1428. Pada 1374, sejumlah wilayah di sepanjang Sungai Rhine dan Meuse dilaporkan mengalami fenomena serupa. Pola yang muncul biasanya melibatkan kerumunan orang yang menari di ruang publik, kadang disertai jeritan, kejang, atau perilaku ekstrem. Karena catatan-catatan itu ditulis dengan latar belakang religius dan medis yang berbeda, para sejarawan menghadapi kesulitan memisahkan gejala faktual dari tafsir budaya.

Hingga kini, tidak ada penjelasan tunggal yang diterima secara luas untuk Wabah Tarian 1518. Ergotisme, histeria massal, tekanan sosial, kepercayaan religius, dan dinamika kerumunan sering disebut sebagai faktor yang mungkin saling terkait. Yang jelas, peristiwa itu memperlihatkan bahwa sejarah penyakit dan perilaku manusia tidak selalu dapat dijelaskan dengan kategori medis modern. Wabah tarian menjadi pengingat bahwa tubuh, pikiran, keyakinan, dan kondisi sosial pada suatu masa dapat terjalin dalam cara yang sulit dipisahkan.

Bagi sejarawan, Wabah Tarian 1518 tetap menjadi studi kasus tentang bagaimana masyarakat merespons fenomena yang tidak terjelaskan. Otoritas kota mencoba menanganinya dengan logika medis abad ke-16, sementara warga hidup dalam bayangan kutukan, kelaparan, dan ketidakpastian. Peristiwa itu tidak hanya meninggalkan cerita tentang orang-orang yang menari sampai mati, tetapi juga pertanyaan tentang batas antara penyakit, kepercayaan, dan kepanikan kolektif. Hingga hari ini, misteri itu belum sepenuhnya terpecahkan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizky Amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter