Ekspor kendaraan bermerek Chery menembus 1,5 juta unit, sebuah tonggak yang menempatkan produsen asal Tiongkok itu di jajaran eksportir otomotif terbesar dunia. Angka tersebut menjadi penanda paling konkret dari gelombang ekspansi merek-merek mobil Tiongkok ke pasar global, yang dalam beberapa tahun terakhir bergerak dari sekadar mengirim unit jadi menjadi membangun pabrik, jaringan distribusi, dan ekosistem layanan di puluhan negara.
Chery bukan pendatang baru di bisnis ekspor. Perusahaan yang berbasis di Wuhu, Provinsi Anhui, itu telah menjadi eksportir kendaraan penumpang terbesar Tiongkok selama lebih dari dua dekade berturut-turut. Namun skala pengiriman ke luar negeri dalam beberapa tahun terakhir melesat jauh dibandingkan periode sebelumnya, seiring melimpahnya kapasitas produksi dalam negeri dan melemahnya permintaan domestik Tiongkok.
Dari pengiriman unit jadi ke produksi lokal
Strategi Chery mencerminkan pola yang kini diikuti hampir semua produsen besar Tiongkok. Tahap pertama adalah ekspor kendaraan utuh melalui jaringan distributor lokal. Tahap berikutnya adalah merakit kendaraan di negara tujuan untuk menghindari bea masuk tinggi, memangkas biaya logistik, dan memenuhi aturan kandungan lokal.
Chery telah memiliki fasilitas perakitan di sejumlah negara, antara lain Brasil, Mesir, Uzbekistan, dan sejumlah negara di Asia Tenggara. Di Spanyol, Chery bermitra dengan merek lokal Ebro untuk menghidupkan kembali bekas pabrik Nissan di Barcelona. Di Indonesia, Chery merakit kendaraan di fasilitas di Bekasi, Jawa Barat, untuk memasok pasar domestik sekaligus menjadi basis regional.
Portofolio merek yang melebar
Ekspansi Chery ditopang portofolio merek yang melebar. Selain lini Chery dengan model Tiggo dan Arrizo, perusahaan memasarkan Exeed dan Jetour di segmen yang lebih tinggi, serta Omoda dan Jaecoo sebagai merek yang dirancang khusus untuk pasar ekspor. Chery juga menggarap segmen kendaraan listrik melalui iCar dan bermitra dengan Huawei dalam mengembangkan lini Luxeed.
Strategi multi-merek itu memungkinkan Chery menjangkau lapisan harga yang berbeda di satu pasar, mulai dari kendaraan entry-level berbahan bakar bensin hingga SUV listrik berteknologi tinggi. Kombinasi harga kompetitif dan kelengkapan fitur menjadi daya tarik utama, terutama di pasar negara berkembang.
Peta pasar yang bergeser
Pasar ekspor Chery terkonsentrasi di Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika, Asia Tenggara, dan Rusia. Setelah merek-merek Barat meninggalkan Rusia menyusul sanksi, produsen Tiongkok termasuk Chery mengambil alih sebagian besar pangsa pasar di sana. Kawasan itu kini menjadi salah satu kontributor terbesar bagi volume ekspor.
Di tingkat nasional, Tiongkok mencatat rekor ekspor kendaraan sekitar 5,8 juta unit pada 2024, naik hampir 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian itu menempatkan Tiongkok sebagai eksportir mobil terbesar dunia, melampaui Jepang. Kendaraan listrik dan hibrida plug-in menjadi mesin pertumbuhan, dengan volume ekspor kendaraan energi baru menembus satu juta unit.
Tembok tarif dan tantangan regulasi
Laju ekspansi itu tidak berjalan tanpa hambatan. Uni Eropa memberlakukan bea masuk tambahan terhadap kendaraan listrik berbasis baterai asal Tiongkok, dengan tarif yang bervariasi antarpabrikan di atas tarif normal 10 persen. Amerika Serikat menaikkan tarif impor mobil listrik Tiongkok menjadi 100 persen. Turki, Brasil, dan sejumlah negara lain juga menerapkan proteksi bertahap.
Kebijakan itu mendorong produsen Tiongkok mempercepat relokasi produksi. Pabrik di negara ketiga menjadi jalan pintas untuk tetap masuk ke pasar berproteksi tinggi, sekaligus memenuhi syarat asal barang dalam perjanjian dagang. Namun membangun pabrik menuntut investasi besar, waktu, dan kepastian iklim usaha di negara tujuan.
Soal mutu dan citra
Selain tarif, tantangan lain adalah membangun kepercayaan konsumen. Citra mobil Tiongkok sebagai produk murah perlahan bergeser, tetapi belum sepenuhnya hilang. Produsen menempuh berbagai cara, mulai dari garansi panjang, uji tabrak independen, hingga peningkatan layanan purnajual dan ketersediaan suku cadang.
Di pasar seperti Eropa dan Australia, lembaga penguji independen mencatat perbaikan skor keselamatan pada sejumlah model Tiongkok. Meski begitu, kekhawatiran soal nilai jual kembali dan daya tahan jangka panjang masih menjadi pertimbangan konsumen.
Dampak bagi industri global
Bagi produsen mapan di Jepang, Eropa, dan Korea Selatan, munculnya gelombang mobil Tiongkok menekan harga dan memperketat persaingan, khususnya di segmen kendaraan listrik berbiaya rendah dan menengah. Beberapa pabrikan merespons dengan memangkas biaya produksi, mempercepat peluncuran model listrik murah, atau menjalin kemitraan teknologi.
Bagi negara berkembang, kehadiran investasi pabrik mobil Tiongkok membawa peluang lapangan kerja, transfer keterampilan, dan harga kendaraan yang lebih terjangkau. Di sisi lain, muncul kekhawatiran soal ketergantungan pada rantai pasok dan komponen impor.
Dengan kapasitas produksi dalam negeri yang masih besar dan permintaan domestik yang melambat, dorongan untuk mengekspor diperkirakan belum surut. Bagi Chery, angka 1,5 juta unit bukan garis akhir, melainkan titik tolak menuju persaingan yang lebih ketat di pasar-pasar utama dunia.
Komentar (0)