23, 2026
Nasional

Momen Haru Hari Santri, Siswa Sekolah Rakyat Ungkap Mimpi Lewat Puisi

Kirana Utami
Kirana Utami Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Peringatan Hari Santri Nasional yang digelar di lingkungan Sekolah Rakyat berlangsung dengan suasana berbeda. Di hadapan para guru, orang tua, dan tamu undangan, sejumlah siswa berdiri di atas panggung membacakan puisi karya mereka sendiri. Suara mereka sempat bergetar, tetapi justru dari situlah momen paling mengharukan terjadi: anak-anak yang sebelumnya jarang berbicara di depan orang banyak kini menyuarakan mimpi-mimpi mereka tanpa rasa takut.

Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri yang jatuh setiap 22 Oktober. Jika biasanya peringatan diisi dengan ceramah dan doa bersama, kali ini sekolah memilih pendekatan berbeda. Puisi dijadikan medium bagi siswa untuk mengekspresikan harapan, kegelisahan, sekaligus cita-cita yang selama ini hanya tersimpan dalam hati. Panitia menyebut tema yang diangkat adalah "Mimpi yang Tak Pernah Selesai", sebuah judul yang dipilih untuk menggambarkan perjuangan para santri dan pelajar dalam menempuh pendidikan.

Ketika Puisi Menjadi Suara Anak-anak

Panggung sederhana dibangun di halaman sekolah. Kursi-kursi plastik ditata menghadap ke depan, sementara para orang tua duduk di barisan belakang. Satu per satu siswa naik ke panggung. Ada yang membacakan puisi tentang ibu yang bekerja di pasar, ada pula yang menulis tentang cita-cita menjadi guru dan dokter. Seorang siswa menuturkan impiannya agar kelak bisa membangun sekolah di kampung halamannya.

Seorang guru pendamping mengungkapkan bahwa proses menulis puisi berlangsung selama dua pekan. Para siswa diajak mengenali pengalaman sehari-hari, kemudian menuangkannya dalam baris-baris sederhana. Menurutnya, banyak siswa awalnya ragu karena merasa tulisannya tidak cukup baik. Namun, setelah didampingi, mereka mulai percaya diri.

"Anak-anak ini punya cerita yang jarang didengar. Puisi menjadi cara mereka bicara tanpa harus merasa digurui," ujar guru tersebut di sela acara.

Ia menambahkan, kegiatan semacam ini penting untuk membangun kepercayaan diri siswa, terutama mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Menurutnya, keberanian tampil di depan publik sering kali menjadi hambatan pertama yang harus diatasi sebelum persoalan akademik lain dibenahi.

Semangat Santri dalam Pendidikan Rakyat

Hari Santri Nasional sendiri merujuk pada peristiwa resolusi jihad yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945. Peringatan ini lazim dimaknai sebagai pengakuan atas peran santri dalam sejarah perjuangan bangsa, sekaligus pengingat akan pentingnya pendidikan berbasis nilai keagamaan dan kebangsaan.

Di Sekolah Rakyat, semangat itu diterjemahkan dalam kegiatan yang lebih dekat dengan keseharian siswa. Selain pembacaan puisi, acara diisi dengan lomba kaligrafi, diskusi kelompok tentang tokoh-tokoh santri, serta pentas seni sederhana. Panitia menilai pendekatan kreatif lebih efektif untuk menanamkan nilai-nilai tersebut dibandingkan ceramah satu arah.

Kepala sekolah menyampaikan bahwa pihaknya berupaya menjadikan peringatan Hari Santri bukan sekadar seremoni tahunan. Menurutnya, nilai-nilai yang diusung para santri, seperti kesederhanaan, kedisiplinan, dan kegigihan menuntut ilmu, perlu dihidupkan dalam rutinitas belajar sehari-hari.

"Kami ingin anak-anak memahami bahwa menjadi santri bukan hanya soal pakaian atau tradisi, tetapi soal sikap. Mereka belajar disiplin, menghormati guru, dan tidak mudah menyerah," katanya.

Harapan yang Dititipkan Lewat Baris Puisi

Di akhir acara, sejumlah siswa membacakan puisi secara bersama-sama. Isinya sederhana: tentang sepatu yang sudah usang, buku pinjaman dari perpustakaan, dan keinginan agar orang tua tidak lagi bekerja terlalu keras. Beberapa orang tua tampak menyeka mata. Suasana hening ketika seorang siswa menutup pembacaan dengan kalimat tentang mimpi yang harus diperjuangkan sampai selesai.

Para guru berharap kegiatan ini bisa menjadi agenda rutin, bukan hanya pada peringatan Hari Santri. Mereka menilai menulis dan membaca puisi membantu siswa mengasah kemampuan berbahasa, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk merefleksikan kehidupan. Beberapa karya yang dibacakan rencananya akan dibukukan sebagai antologi sederhana dan ditempel di majalah dinding sekolah.

Bagi para siswa, panggung kecil itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun, bagi sebagian dari mereka, momen tersebut menjadi pengalaman pertama berbicara di depan orang banyak. Di tengah keterbatasan fasilitas dan tantangan ekonomi keluarga, keberanian untuk menyuarakan mimpi dinilai sebagai modal awal yang tidak kecil. Peringatan Hari Santri di sekolah itu pun berakhir bukan dengan tepuk tangan panjang, melainkan dengan harapan yang dititipkan lewat baris-baris puisi anak-anak.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Utami

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter