30, 2026
Nasional

MRT Tawarkan Singapura Kembangkan TOD Blok M, Kota hingga Lebak Bulus

Eko Wibowo
Eko Wibowo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

MRT Jakarta Tawarkan Singapura Kembangkan TOD di Blok M, Kota, dan Lebak Bulus

PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta menawarkan kerja sama kepada investor dari Singapura untuk mengembangkan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) di sejumlah titik strategis sepanjang jalur MRT. Tiga lokasi yang ditawarkan adalah kawasan Blok M, Kota, dan Lebak Bulus. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perseroan memperluas sumber pendapatan di luar tiket penumpang sekaligus mendorong pengembangan kawasan berbasis transportasi massal di ibu kota.

Penawaran tersebut disampaikan dalam rangkaian pertemuan bisnis dengan sejumlah pihak di Singapura. Pihak MRT Jakarta menilai investor Negeri Singa memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan properti yang terintegrasi dengan stasiun kereta bawah tanah, sehingga dinilai cocok untuk menjadi mitra dalam proyek berskala besar tersebut. Kawasan TOD dinilai mampu mengubah wajah kawasan sekitar stasiun menjadi pusat aktivitas ekonomi yang lebih hidup.

Tiga Kawasan Prioritas dengan Karakter Berbeda

Sekretaris Perusahaan MRT Jakarta menyebut, ketiga kawasan yang ditawarkan memiliki karakter dan potensi pasar yang berbeda. Blok M dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan hiburan di Jakarta Selatan dengan tingkat kunjungan yang tinggi. Kawasan ini juga memiliki akses ke kawasan permukiman padat serta perkantoran di sepanjang Jalan Falatehan hingga Melawai. Pengembangan TOD di Blok M diarahkan pada kawasan campuran yang memadukan hunian, perkantoran, ritel, dan ruang publik.

Sementara itu, kawasan Kota merupakan bagian dari kawasan bersejarah Jakarta yang tengah mengalami revitalisasi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong pengembangan kawasan ini sebagai pusat wisata, kuliner, dan bisnis kreatif. Keberadaan stasiun MRT di kawasan Kota dinilai dapat mendorong kebangkitan kembali kawasan yang sempat mengalami penurunan aktivitas ekonomi. Pengembangan TOD di kawasan ini diyakini perlu memperhatikan aspek pelestarian bangunan cagar budaya yang tersebar di sekitarnya.

Adapun Lebak Bulus merupakan titik awal jalur MRT Jakarta fase pertama. Kawasan ini memiliki lahan yang relatif lebih luas dan telah terhubung dengan depo serta terminal bus antarkota. MRT Jakarta melihat Lebak Bulus berpotensi dikembangkan menjadi simpul transportasi terpadu yang memadukan layanan MRT, bus TransJakarta, angkutan antarkota, serta kawasan hunian dan komersial.

Skema Kerja Sama yang Ditawarkan

Dalam penawaran tersebut, MRT Jakarta membuka opsi kerja sama melalui skema penyertaan modal, patungan usaha, hingga pemberian hak pengelolaan lahan dalam jangka waktu tertentu. Perseroan menegaskan bahwa pengembangan TOD tidak hanya berorientasi pada keuntungan komersial, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi pengguna transportasi publik. Salah satu indikatornya adalah peningkatan jumlah penumpang MRT seiring tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitar stasiun.

Pendekatan ini sejalan dengan praktik yang lazim diterapkan pada sistem transportasi massal di berbagai kota dunia. Pengembang biasanya mendapat insentif berupa hak membangun dengan kepadatan tinggi di sekitar stasiun sebagai kompensasi atas investasi yang ditanam. Sebaliknya, operator transportasi memperoleh tambahan pendapatan dari sewa, bagi hasil, atau kerja sama pengelolaan properti.

Saat ini pendapatan MRT Jakarta masih didominasi dari penjualan tiket dan subsidi pemerintah daerah. Diversifikasi pendapatan melalui TOD dipandang penting untuk menjaga keberlanjutan keuangan perseroan dalam jangka panjang. Biaya operasional kereta bawah tanah tergolong tinggi, sementara tarif tiket tidak dapat dinaikkan secara bebas karena harus mempertimbangkan daya beli masyarakat.

Kendala Lahan dan Proses yang Panjang

Pengembangan TOD di kawasan padat seperti Blok M dan Kota menghadapi sejumlah tantangan. Status kepemilikan lahan di kedua kawasan umumnya terbagi dalam banyak pihak, termasuk swasta, badan usaha milik negara, dan pemerintah daerah. Penataan ulang kawasan membutuhkan koordinasi lintas institusi serta penyelesaian administrasi yang tidak sederhana. Di sisi lain, keberadaan pedagang informal dan permukiman padat di sekitar stasiun juga menjadi isu sosial yang perlu ditangani secara hati-hati.

Proses penjajakan dengan investor asing sendiri masih berada pada tahap awal. Belum ada kesepakatan nilai investasi maupun jadwal pelaksanaan yang mengikat. MRT Jakarta menyatakan akan melakukan uji tuntas bersama calon mitra sebelum menentukan bentuk kerja sama final. Perseroan juga membuka peluang bagi investor domestik untuk ikut serta dalam proyek yang sama.

Dampak bagi Warga dan Kawasan Sekitar

Bagi warga Jakarta, pengembangan TOD di tiga kawasan tersebut berpotensi menghadirkan ruang publik baru, akses hunian yang lebih dekat dengan transportasi umum, serta lapangan kerja di sektor jasa dan ritel. Kawasan yang terintegrasi dengan stasiun juga dapat mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, terutama jika didukung layanan penumpang angkutan pengumpan yang memadai.

Namun, sejumlah pengamat tata kota mengingatkan agar pengembangan komersial tidak menggeser fungsi hunian terjangkau di sekitar stasiun. Tanpa pengendalian harga lahan dan sewa, kenaikan nilai properti dikhawatirkan memicu perpindahan warga berpenghasilan rendah ke kawasan pinggiran. Karena itu, kebijakan yang menyeimbangkan kepentingan investor, operator transportasi, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengembangan TOD di Blok M, Kota, dan Lebak Bulus.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eko Wibowo

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter