30, 2026
Nasional

MRT Jakarta Bidik Sumber Pendapatan Baru untuk Kurangi Subsidi

Hesti Nasution
Hesti Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah mempercepat diversifikasi sumber pendapatan guna menekan ketergantungan terhadap subsidi pemerintah daerah. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk mencapai kemandirian finansial sekaligus menjaga keberlanjutan operasional angkutan umum berbasis rel di ibu kota.

Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, menyatakan bahwa pihaknya menargetkan peningkatan kontribusi pendapatan non-tiket secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Selama ini, pendapatan dari penjualan tiket penumpang belum mampu menutup seluruh biaya operasional, sehingga perusahaan masih bergantung pada penyertaan modal daerah (PMD) dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Struktur Pendapatan MRT Jakarta

Berdasarkan laporan kinerja perusahaan, pendapatan MRT Jakarta saat ini terbagi menjadi dua kategori utama, yakni pendapatan tiket dan pendapatan non-tiket. Pendapatan tiket berasal dari penjualan kartu perjalanan serta kerja sama dengan berbagai kanal pembayaran digital. Sementara itu, pendapatan non-tiket mencakup sewa ruang komersial di stasiun, kerja sama periklanan, penamaan hak (naming rights), serta pengembangan properti yang terintegrasi dengan jaringan transit.

Manajemen menilai bahwa potensi pendapatan non-tiket masih belum tergarap optimal. Sejumlah area di stasiun dinilai memiliki nilai komersial tinggi, terutama di stasiun-stasiun dengan volume penumpang besar seperti Bundaran HI, Dukuh Atas, dan Blok M. Kawasan-kawasan tersebut menjadi simpul mobilitas yang menarik bagi pelaku usaha ritel, kuliner, serta penyedia jasa.

Optimalisasi Ruang Komersial dan Properti

Salah satu strategi utama yang digulirkan adalah optimalisasi ruang komersial di dalam dan sekitar stasiun. MRT Jakarta berencana menambah tenant, memperluas area retail, serta menghadirkan konsep pusat kuliner dan area layanan publik yang terintegrasi dengan akses naik-turun penumpang. Pendekatan ini diyakini dapat meningkatkan waktu tinggal penumpang di stasiun sekaligus mendorong belanja.

Selain itu, perusahaan mengembangkan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD). Melalui skema ini, MRT Jakarta menggandeng sejumlah pengembang swasta untuk membangun hunian, perkantoran, hotel, dan pusat perbelanjaan di atas atau sekitar lahan yang dikuasai perusahaan. Pendapatan dari kerja sama tersebut berbentuk sewa jangka panjang, bagi hasil, maupun kontribusi tetap.

Pengembangan TOD dinilai menjadi salah satu penyumbang pendapatan paling potensial dalam jangka menengah. Kawasan seperti Dukuh Atas, Lebak Bulus, dan Blok M ditargetkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang terhubung langsung dengan jaringan MRT. Konsep ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah yang mendorong penggunaan transportasi publik serta pengurangan kemacetan.

Strategi Digital dan Kemitraan

Di sisi lain, MRT Jakarta turut menggenjot pendapatan melalui kanal digital. Aplikasi resmi perusahaan dikembangkan tidak hanya sebagai sarana pembelian tiket, tetapi juga sebagai platform layanan yang menawarkan promosi, loyalitas pelanggan, dan pembayaran nontunai. Data perjalanan penumpang dimanfaatkan secara terukur untuk menghadirkan penawaran yang relevan dari mitra bisnis.

Perusahaan juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai merek untuk kampanye pemasaran di lingkungan stasiun dan kereta. Kerja sama tersebut mencakup penempatan iklan digital, aktivasi merek, hingga sponsor acara tertentu. Manajemen menilai pendapatan dari sektor ini memiliki margin yang relatif tinggi karena tidak memerlukan biaya operasional tambahan yang besar.

Dampak terhadap Subsidi

Peningkatan pendapatan non-tiket diharapkan dapat menekan besaran subsidi yang harus ditanggung pemerintah daerah setiap tahun. Selama ini, selisih antara biaya operasional dan pendapatan tiket ditutup melalui penyertaan modal. Dengan bertambahnya sumber pendapatan lain, beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk sektor transportasi dapat dialihkan ke kebutuhan lain, seperti perawatan infrastruktur dan perluasan jaringan.

Meski demikian, manajemen menegaskan bahwa tarif tiket tetap akan dijaga terjangkau. Subsidi dinilai masih diperlukan untuk memastikan layanan transportasi publik dapat diakses seluruh lapisan masyarakat. Fokus pengurangan subsidi bukan berarti menaikkan tarif secara signifikan, melainkan memperbesar porsi pendapatan dari sektor komersial sehingga struktur keuangan perusahaan lebih sehat.

Pengamat transportasi menilai langkah diversifikasi ini sejalan dengan praktik yang dijalankan operator angkutan umum di berbagai negara. Mereka mencontohkan sejumlah operator di Asia dan Eropa yang memperoleh lebih dari separuh pendapatannya dari sektor non-tiket, termasuk pengembangan properti dan ritel di kawasan transit.

Namun, sejumlah catatan tetap disampaikan. Keberhasilan strategi ini bergantung pada jumlah penumpang yang stabil, kualitas pengelolaan aset, serta kepastian regulasi terkait pemanfaatan lahan dan ruang publik. Jika volume penumpang menurun atau pengelolaan aset kurang optimal, target pendapatan komersial berisiko tidak tercapai.

MRT Jakarta menyatakan akan terus mengevaluasi kinerja setiap lini usaha secara berkala. Perusahaan menargetkan porsi pendapatan non-tiket terhadap total pendapatan meningkat bertahap dalam lima tahun ke depan. Dengan demikian, ketergantungan pada subsidi dapat dikurangi secara terukur tanpa mengorbankan kualitas layanan kepada masyarakat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Nasution

Analis pasar modal dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter