30, 2026
Teknologi

'Nostradamus' China Ramal Tragedi Serupa 9/11 Terjadi 20 Tahun Lagi

Seorang profesor asal China berbicara tentang prediksinya terkait serangan serupa peristiwa 9/11 dan keruntuhan peradaban itu sendiri sudah mulai terjadi.]]>

Maya Anggraini
Maya Anggraini Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

'Nostradamus' China Ramal Tragedi Serupa 9/11 Terjadi 20 Tahun Lagi

Ramalan "Nostradamus" China dan Narasi Tragedi 9/11 Disebut Akan Terulang

Nama seorang peramal asal China kembali mencuat dalam perbincangan publik internasional setelah sejumlah unggahan di media sosial mengaitkan sejumlah tulisannya dengan prediksi peristiwa besar, termasuk kemungkinan terulangnya tragedi serupa serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat dalam kurun dua dekade mendatang. Narasi tersebut berkembang pesat di platform daring, meski hingga kini tidak ada verifikasi independen yang membuktikan bahwa tafsiran itu berasal dari sumber yang kredibel.

Figur yang dijuluki "Nostradamus China" itu dalam berbagai diskusi disebut pernah menghasilkan sejumlah ramalan yang dianggap "tepat" oleh sebagian kalangan, mulai dari krisis ekonomi, perubahan politik global, hingga bencana alam. Pola pikir yang sama kemudian digunakan untuk menafsirkan sejumlah frasa dan bait dalam karyanya sebagai isyarat bahwa dunia akan menghadapi kembali aksi teror berskala besar yang menargetkan simbol-simbol kekuatan global, terutama di Amerika Serikat.

Perbincangan mengenai ramalan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap ancaman terorisme yang kembali mengemuka dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah analis menilai narasi semacam ini mudah menyebar karena menggabungkan ketidakpastian global dengan kebutuhan psikologis sebagian masyarakat akan penjelasan sederhana atas peristiwa kompleks.

Bagaimana Ramalan Itu Ditafsirkan

Dalam sejumlah unggahan, para penafsir mengklaim bahwa frasa tertentu dalam kumpulan tulisan tersebut merujuk pada "dua menara" dan "api dari langit", yang kemudian dikaitkan dengan serangan terhadap World Trade Center pada 2001. Dari tafsiran itu, mereka menyimpulkan adanya indikasi bahwa peristiwa serupa dapat kembali terjadi sekitar dua dekade setelahnya, dengan kemungkinan target yang berbeda namun tetap menyasar kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya.

Metode penafsiran seperti ini dikenal dalam kajian literasi ramalan sebagai pembacaan retroaktif, yakni mencocokkan teks lama dengan peristiwa yang sudah terjadi, lalu menarik kesimpulan ke depan. Para peneliti skeptis menegaskan bahwa teks-teks semacam itu umumnya bersifat ambigu, metaforis, dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan makna, sehingga dapat "dipaksa" cocok dengan hampir semua peristiwa besar.

Sejumlah akademisi juga mengingatkan bahwa narasi ramalan sering kali berfungsi sebagai produk budaya populer, bukan instrumen analisis kebijakan. Kendati demikian, dampaknya terhadap opini publik tidak bisa diabaikan, terutama ketika disebarkan melalui algoritma media sosial yang memperkuat konten dramatis dan emosional.

Respons Publik dan Pengamat Keamanan

Di kalangan pengguna media sosial, reaksi terbelah. Sebagian menganggap ramalan itu sekadar hiburan dan bagian dari tradisi panjang prediksi kiamat yang selalu gagal terbukti. Sebagian lain mengaitkannya dengan kekhawatiran nyata terhadap potensi serangan teror, terutama setelah serangkaian insiden keamanan di berbagai negara.

Pengamat terorisme menilai ancaman terorisme memang tetap menjadi perhatian serius, tetapi menegaskan bahwa penilaian risiko harus didasarkan pada data intelijen, pola serangan sebelumnya, dan kemampuan aktual kelompok ekstremis, bukan pada tafsiran ramalan. Menurut mereka, membangun kewaspadaan berdasarkan narasi tidak terverifikasi berisiko menciptakan kepanikan yang tidak proporsional.

Pemerintah di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, secara rutin memperbarui penilaian ancaman dan mengumumkan peringatan berbasis informasi intelijen. Tidak ada pernyataan resmi yang mengaitkan peringatan keamanan dengan ramalan peramal China tersebut.

Ramalan dan Politik Ketakutan

Kemunculan kembali narasi "Nostradamus China" juga mencerminkan bagaimana isu keamanan sering dimanfaatkan dalam percakapan politik. Dalam beberapa kasus, prediksi semacam ini dipakai untuk memperkuat argumen tentang perlunya peningkatan anggaran pertahanan, pengawasan yang lebih ketat, atau kebijakan luar negeri yang lebih agresif.

Pengamat media mencatat bahwa konten bertema ramalan memiliki daya tarik tinggi karena menawarkan rasa kendali di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Namun, mereka mengingatkan bahwa konsumsi informasi semacam ini perlu disertai sikap kritis, terutama ketika dikaitkan dengan peristiwa traumatis seperti 9/11 yang masih menyisakan luka mendalam bagi banyak keluarga korban.

Hingga kini, tidak ada bukti yang menghubungkan ramalan tersebut dengan perencanaan serangan nyata. Sejumlah pihak menilai diskusi sebaiknya diarahkan pada upaya pencegahan terorisme yang berbasis bukti, kerja sama internasional, serta penanganan akar radikalisasi, alih-alih menunggu tenggat waktu yang disebut dalam ramalan.

Kesimpulan yang Tetap Terbuka

Sampai sekarang, klaim bahwa tragedi serupa 9/11 akan terjadi dalam 20 tahun mendatang tetap berada pada ranah spekulasi tanpa dasar faktual yang terverifikasi. Publik diimbau untuk tidak menjadikan ramalan sebagai acuan tunggal dalam menilai ancaman keamanan, melainkan merujuk pada informasi resmi dan analisis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Yang jelas, fenomena "Nostradamus China" menunjukkan bahwa di era informasi yang serba cepat, narasi ramalan dapat dengan mudah bercampur dengan isu politik, keamanan, dan psikologi kolektif. Cara publik menyikapinya akan menentukan apakah narasi ini berhenti sebagai bahan perbincangan, atau berkembang menjadi kekhawatiran yang memengaruhi kebijakan dan kehidupan sehari-hari.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Maya Anggraini

Fokus pada kesehatan mental, mindfulness, dan produktivitas.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter