30, 2026
Teknologi

'Nostradamus' China Ramal Tragedi Serupa 9/11 Terjadi Lagi

Seorang profesor asal China berbicara tentang prediksinya terkait serangan serupa peristiwa 9/11 dan keruntuhan peradaban itu sendiri sudah mulai terjadi.]]>

Budi Santoso
Budi Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

'Nostradamus' China Ramal Tragedi Serupa 9/11 Terjadi Lagi

Seorang peramal asal China yang dijuluki sebagai "Nostradamus" China kembali menjadi sorotan publik setelah ramalannya tentang tragedi serupa serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat mencuat ke permukaan. Ramalan tersebut menyebutkan potensi terjadinya kembali peristiwa berskala besar yang melibatkan serangan terhadap gedung-gedung tinggi di Amerika Serikat, memicu perdebatan luas di dunia maya mengenai kredibilitas dan konteks dari pernyataan tersebut.

Sosok di Balik Ramalan

Peramal yang dimaksud dikenal melalui sejumlah publikasi dan unggahan di platform media sosial China. Ia kerap disebut sebagai "Nostradamus" China karena sejumlah prediksinya yang dianggap tepat oleh sebagian pengikutnya, termasuk peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di panggung global. Julukan tersebut merujuk pada Michel de Nostredame, peramal abad ke-16 asal Prancis yang terkenal dengan kumpulan ramalan berjudul Les Prophéties.

Dalam salah satu karyanya, peramal China itu disebut menuliskan gambaran tentang "dua menara yang runtuh" dan "asap yang menutupi langit kota besar." Penggambaran tersebut oleh sebagian pembaca dikaitkan dengan serangan teroris 11 September 2001 yang menghancurkan Menara Kembar World Trade Center di New York, Amerika Serikat. Serangan itu menewaskan hampir 3.000 orang dan mengubah lanskap kebijakan keamanan global secara drastis.

Isi Ramalan yang Menuai Perhatian

Bagian ramalan yang kini diperbincangkan menyebutkan bahwa peristiwa serupa berpotensi terulang kembali. Narasi yang beredar menyatakan bahwa akan ada "kembali reruntuhan dari langit" dan "ketakutan yang sama menghantui kota-kota besar." Frasa-frasa semacam ini, menurut sejumlah pengamat, bersifat ambigu dan terbuka terhadap berbagai tafsir, sehingga memungkinkan pembaca menghubungkannya dengan beragam peristiwa aktual.

Sejumlah warganet mengaitkan ramalan tersebut dengan meningkatnya ketegangan geopolitik global, konflik bersenjata di berbagai kawasan, serta kekhawatiran terhadap aksi terorisme yang masih menjadi ancaman nyata. Namun, tidak sedikit pula yang menilai bahwa narasi ramalan itu lebih bersifat produk budaya populer ketimbang prediksi yang dapat diverifikasi secara empiris.

Kritik terhadap Kredibilitas Ramalan

Para pengamat skeptis menilai ramalan semacam ini bekerja melalui mekanisme yang disebut sebagai retrofitting, yakni menyesuaikan tafsir setelah peristiwa terjadi. Menurut pandangan ini, teks ramalan yang bersifat puitis dan metaforis dapat dengan mudah dicocokkan dengan peristiwa apa pun yang telah berlalu, sehingga menciptakan ilusi ketepatan prediksi.

Selain itu, tidak terdapat verifikasi independen mengenai orisinalitas dan waktu penulisan teks ramalan tersebut. Sejumlah pihak menduga sebagian kutipan yang beredar telah mengalami penyuntingan, penambahan, atau penafsiran ulang oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk memperkuat narasi tertentu. Fenomena ini lazim terjadi dalam siklus viral di media sosial, di mana potongan teks dipisahkan dari konteks aslinya.

Dari perspektif psikologi, kecenderungan manusia untuk mencari pola dan makna dalam peristiwa acak dikenal sebagai apophenia. Kecenderungan ini diperkuat oleh bias konfirmasi, yaitu tendensi untuk menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan yang sudah ada dan mengabaikan informasi yang bertentangan.

Dampak di Ruang Publik Digital

Peredaran ramalan tersebut memperlihatkan bagaimana konten bernuansa mistis dan apokaliptik dapat dengan cepat menyebar di platform digital. Algoritma media sosial yang mendorong keterlibatan pengguna sering kali memperkuat penyebaran konten semacam itu, terlepas dari akurasinya. Konten yang memicu rasa ingin tahu dan kecemasan cenderung mendapatkan interaksi lebih tinggi dibandingkan konten yang bersifat menenangkan atau teknis.

Di Indonesia, narasi ramalan ini juga sempat mencuat di sejumlah forum diskusi daring dan grup perpesanan. Beberapa pengguna membagikannya sebagai bahan renungan, sementara yang lain mengingatkan pentingnya sikap kritis terhadap informasi yang tidak memiliki landasan faktual yang jelas.

Antara Hiburan dan Kewaspadaan

Terlepas dari perdebatan mengenai validitasnya, isu ramalan ini menyentuh tema yang lebih besar, yakni bagaimana masyarakat memproses ketidakpastian di tengah kondisi global yang dinamis. Ancaman terorisme, ketegangan antarnegara, dan krisis kemanusiaan merupakan isu nyata yang memerlukan respons berbasis data dan analisis, bukan sekadar tafsir atas teks-teks ambigu.

Pihak berwenang di berbagai negara terus melakukan pemantauan terhadap potensi ancaman keamanan melalui mekanisme intelijen dan kerja sama internasional. Penanganan ancaman semacam itu bertumpu pada informasi yang terverifikasi, bukan pada prediksi yang tidak dapat diuji.

Dengan demikian, ramalan yang dinisbatkan kepada peramal China tersebut lebih tepat diposisikan sebagai fenomena budaya dan komunikasi digital. Publik diimbau untuk menyaring informasi secara kritis, memverifikasi sumber, serta tidak menjadikan ramalan sebagai dasar pengambilan keputusan penting. Kewaspadaan terhadap ancaman nyata tetap penting, namun harus dibangun di atas fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Santoso

Penulis kesehatan pria dan pencegahan penyakit degeneratif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter