18, 2026
Teknologi

OJK Soroti Keamanan Siber dan Ketahanan Bisnis untuk Jaga Kepercayaan Digital

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

OJK Soroti Keamanan Siber dan Ketahanan Bisnis untuk Jaga Kepercayaan Digital

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat fokus pada keamanan siber dan ketahanan bisnis di sektor jasa keuangan. Langkah ini diambil guna menjaga kepercayaan publik terhadap ekosistem digital yang semakin berkembang. Melalui berbagai inisiatif dan regulasi, OJK berupaya memastikan bahwa industri keuangan dapat bertahan menghadapi berbagai ancaman siber yang semakin canggih dan kompleks.

Tantangan Keamanan Siber di Sektor Keuangan

Sektor jasa keuangan menjadi sasaran utama serangan siber berbagai aktor tidak bertanggung jawab. Ancaman ini datang dalam berbagai bentuk, mulai dari phishing, ransomware, hingga serangan distribusi penolakan layanan (DDoS). Data sensitif nasabah dan transaksional menjadi incaran utama para peretas yang dapat merusak reputasi institusi keuangan dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan secara digital.

Direktur Pengawasan Keuangan Pasar Modal dan Industri Nonbank OJK, Hendrikus Passar, menekankan bahwa keamanan siber bukan lagi masalah teknis semata, melainkan masalah strategis yang mempengaruhi stabilitas industri. "Kami harus memastikan bahwa setiap pelaku di industri keuangan memiliki sistem keamanan yang kuat dan responsif terhadap ancaman siber," ujar Passar dalam sebuah forum terkait.

Inisiatif Regulasi dan Pengawasan

OJK telah mengeluarkan sejumlah regulasi terkait keamanan siber untuk memperkuat pertahanan industri keuangan. Salah satu upaya terbaru adalah penerapan Standar Keamanan Siber Nasional (SNSN) yang wajib diimplementasikan oleh seluruh entitas di sektor keuangan. Standar ini mencakup aspek teknis, organisasi, dan manajerial dalam melindungi aset digital.

Selain itu, OJK juga mendorong implementasi kerangka kerja manajemen risiko siber yang komprehensif. Kerangka ini meliputi identifikasi, asesmen, perencanaan respons, pemulihan, dan pelaporan terkait insiden keamanan siber. "Setiap entitas wajib memiliki rencana kontinuitas bisnis dan rencana pemulihan bencana yang memadai," tambah Passar.

OJK juga aktif melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), lembaga penegak hukum, dan mitra internasional. Sinergi ini penting untuk membangun pertahanan yang lebih komprehensif dan responsif terhadap ancaman siber yang bersifat lintas batas.

Peningkatan Kesadaran dan Kapasitas

Selain regulasi, OJK juga fokus pada peningkatan kapasitas dan kesadaran pelaku industri keuangan terkait keamanan siber. Berbagai program pelatihan, simulasi serangan siber, dan sharing best practice telah diselenggarakan untuk mempersiapkan tim keamanan di setiap institusi.

"Kami mendorong setiap entitas untuk membangun budaya keamanan siber yang kuat di seluruh tingkatan organisasi. Dari direksi hingga staff operasional, semua harus memahami pentingnya keamanan siber dan berkontribusi dalam menjaga sistem," jelas Kepala Satuan Kerja Pengawasan Teknologi Informasi OJK.

Program sertifikasi profesional keamanan siber juga digalakkan untuk memastikan adanya tenaga ahli yang kompeten di setiap lembaga keuangan. Sertifikasi ini menjadi acuan kualifikasi bagi profesional yang menangani isu keamanan siber di sektor finansial.

Peran Teknologi dan Inovasi

OJK juga mendorong adopsi teknologi terkini untuk memperkuat pertahanan siber. Teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), analitik prediktif, dan blockchain dipandang potensial dalam mendeteksi dan mencegah ancaman siber. "Kami mendorong eksplorasi teknologi baru yang dapat meningkatkan kemampuan deteksi dan respons terhadap ancaman siber," ujar sepekan lalu dalam sebuah konferensi teknologi keuangan.

Selain itu, konsep zero-trust architecture juga mulai diperkenalkan sebagai kerangka kerja keamanan yang lebih adaptif. Pendekatan ini menghilangkan asumsi tepercaya dalam jaringan internal dan mengharuskan verifikasi ketat setiap akses ke sistem.

Masa Depan Ekosistem Keuangan Digital

Dengan pertumbuhan pesat layanan keuangan digital dan kecenderungan adopsi teknologi seperti mata uang digital bank sentral (CBDC) dan aset digital lainnya, OJK menyadari perlunya adaptasi regulasi yang dinamis. "Regulasi harus mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian dan perlindungan konsumen," kata Komisioner OJK terkait.

OJK berkomitmen untuk menciptakan ekosistem keuangan digital yang aman, efisien, dan inklusif. Melalui koordinasi yang erat dengan seluruh pemangku kepentingan, diharapkan industri keuangan dapat tumbuh dengan kuat seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi digital.

Keamanan siber dan ketahanan bisnis menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan digital yang diperlukan bagi pertumbuhan jangka panjang industri keuangan. Dengan berbagai upaya yang dilakukan, OJK yakin sektor keuangan Indonesia dapat menjadi lebih tangguh menghadapi tantangan digital masa depan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter