Orang yang Lahir Sebelum 1990-an Punya 3 Kebiasaan Hemat yang Patut Ditiru Generasi Muda
Dalam era digital dan konsumtif saat ini, generasi muda seringkali menghadapi tantangan dalam mengelola keuangan. Padahal, generasi yang lahir sebelum tahun 1990-an memiliki kebiasaan hemat yang telah terbukti efektif dalam mengatur keuangan pribadi. Kebiasaan-kebiasaan warisan nenek moyang ini sebenarnya masih relevan dan patut ditiru oleh generasi muda yang seringkali terjebak dalam budaya konsumsi instan.
Kebiasaan Pertama: Menabung Dahulu, Kemudian Belanja
Salah satu kebiasaan paling fundamental yang dimiliki oleh generasi sebelum 1990-an adalah prinsip "menabung dulu, belanja nanti". Mereka biasanya menetapkan sebagian penghasilan untuk disimpan terlebih dahulu sebelum menggunakan sisanya untuk kebutuhan sehari-hari atau keinginan konsumtif. Berbeda dengan generasi muda yang seringkali menggunakan metode "sisa-setelah-belanja", yang seringkali menyisakan sedikit atau tidak ada sama sekali.
Generasi lama umumnya memiliki tabungan khusus dalam bentuk piggy bank atau rekening terpisah yang tidak mudah diakses untuk keperluan rutin. Mereka juga memiliki disiplin untuk menyetor uang secara rutin meskipun nominalnya kecil. Kebiasaan ini membentuk fondasi keuangan yang kuat dan siap menghadapi situasi tak terduga.
Dalam praktik modern, kebiasaan ini dapat diadaptasi dengan menyiapkan rekening terpisah untuk dana darurat atau tujuan jangka panjang. Dengan menetapkan aturan menab minimal 10-20% penghasilan sebelum mengalokasikan untuk pengeluaran, generasi muda dapat membangun keamanan finansial yang lebih baik.
Kebiasaan Kedua: Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Generasi yang hidup sebelum era digital memiliki kemampuan istimewa dalam membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Mereka tahu bahwa uang harus diutamakan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, pakaian, dan kesehatan, sebelum dialokasikan untuk keinginan non-esensial.
Generasi muda saat ini seringkuli terjebak dalam budaya instant gratification, di mana kepuasan instan menjadi prioritas. Dampaknya, banyak yang mengalami masalah utang kartu kredit atau pinjolan online hanya untuk memenuhi keinginan konsumtif yang tidak direncanakan.
Salah satu teknik yang digenerasi lama adalah membuat daftar prioritas sebelum berbelanja. Mereka juga memiliki keterampilan untuk menunda kepuasan diri dengan menunda pembelian barang-barang mahal hingga mereka benar-benar membutuhkannya atau memiliki dana yang cukup. Kebiasaan ini dapat membantu generasi muda menghindari impulsive buying dan fokus pada pencapaian tujuan finansial jangka panjang.
Kebiasaan Ketiga: Memanfaatkan Barang Bekas dan Memperbaiki yang Rusak
Generasi sebelum 1990-an tumbuh di era di mana barang-barang masih bernilai tinggi dan tidak mudah diganti. Akibatnya, mereka memiliki budaya merawat barang-barang yang dimiliki dan memperbaiki yang rusak bukan menggantinya. Kebiasaan hemat ini tidak hanya menghemat uang tetapi juga ramah lingkungan.
Generasi muda seringkuli terbiasa dengan budaya "mengganti" bukan "memperbaiki". Ketika pakaian rusak, elektronik tidak berfungsi, atau furnitur rusak, solusi pertama mereka seringkali adalah membeli yang baru. Padahal, banyak masalah dapat diselesaikan dengan sedikit perawatan atau perbaikan sederhana.
Kebiasaan ini dapat diadaptasi dengan belajar keterampilan dasar perbaikan, merawat barang-barang yang dimiliki secara rutin, dan mempertimbangkan opsi second-hand untuk barang-barang non-kritis. Dengan mengadopsi pola pikir ini, generasi muda dapat mengurangi pengeluaran yang tidak perlu dan mengurangi dampak lingkungan dari konsumsi berlebihan.
Kombinasi dari ketiga kebiasaan hemat ini—menabung dulu, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memperbaiki barang-barang yang dimiliki—membentuk fondasi keuangan yang kuat. Generasi muda yang mengadopsi pola pikir dan perilaku ini akan lebih siap menghadapi tantangan finansial di masa depan dan membangun kehidupan yang lebih stabil dan sejahtera.
Komentar (0)