20, 2026
Nasional

Penemu Bahtera Nabi Nuh Buka-bukaan, Pernah Diancam Dibunuh

Andrew Jones, penemu lokasi Bahtera Nuh, menghadapi ancaman dan cobaan dalam pencariannya, termasuk izin yang sulit dan ancaman pembunuhan.]]>

Taufik Syahputra
Taufik Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Penemu Bahtera Nabi Nuh Buka-bukaan, Pernah Diancam Dibunuh

Peneliti yang menghabiskan puluhan tahun menelusuri jejak Bahtera Nabi Nuh di kawasan Pegunungan Ararat, Turki timur, membuka pengalaman di balik pencariannya. Ia mengaku pernah menerima ancaman pembunuhan, tekanan dari pihak-pihak yang tidak menginginkan situs tersebut terus diteliti, hingga tuduhan sebagai penyebar klaim palsu.

Pengakuan itu disampaikan dalam sejumlah wawancara dan forum diskusi yang membahas penelusuran formasi batuan di Desa Üzengili, Distrik Doğubayazıt, Provinsi Ağrı. Kawasan tersebut dikenal sebagai Situs Durupınar, sebuah formasi memanjang menyerupai lambung kapal yang menjadi salah satu lokasi paling diperdebatkan dalam perburuan sisa-sisa bahtera yang disebut dalam kitab suci tiga agama samawi.

Klaim yang Tak Pernah Usai

Situs Durupınar pertama kali menjadi perhatian publik pada 1959. Saat itu, seorang kapten pemetaan asal Turki, İlhan Durupınar, melihat formasi menyerupai kapal dari foto udara yang diambil dalam survei topografi kawasan timur negara itu. Formasi tersebut kemudian dinamai sesuai namanya dan sejak itu menjadi magnet bagi para peneliti independen, pencari jejak religius, hingga wisatawan.

Panjang formasi diperkirakan sekitar 150 meter dengan lebar sekitar 45 meter. Bentuknya yang menyerupai struktur berpetak membuat sebagian kalangan meyakini bahwa formasi itu bukan sekadar bentukan alam, melainkan sisa kerangka kapal kuno yang mengeras oleh endapan mineral selama ribuan tahun.

Peneliti tersebut mengaku mulai tertarik pada situs ini setelah membaca catatan-catatan ekspedisi awal dan melakukan serangkaian pengukuran sendiri. Menurut keterangannya, ia beberapa kali melakukan penggalian kecil, mengambil sampel batuan, dan mendokumentasikan struktur bawah permukaan. Ia menyebut hasil pengamatannya menunjukkan adanya pola yang menurutnya sulit dijelaskan sebagai proses alam biasa.

Ancaman dan Tekanan di Lapangan

Namun di balik aktivitas itu, ia mengaku menghadapi risiko yang tidak kecil. Ia menyatakan pernah menerima ancaman pembunuhan melalui surat dan pesan elektronik. Ancaman itu, menurutnya, datang dari pihak-pihak yang menganggap aktivitasnya mengganggu kepentingan tertentu, termasuk pihak yang menolak situs tersebut dibuka lebih luas untuk penelitian.

Ia juga mengaku pernah dilarang memasuki kawasan selama beberapa waktu, diperiksa oleh aparat setempat, dan diminta menjelaskan maksud kedatangannya. Insiden itu disebutnya terjadi berulang pada periode ketika perhatian media internasional terhadap Situs Durupınar sedang tinggi.

Ketegangan dengan Warga dan Pemerintah Lokal

Selain ancaman pribadi, ia menggambarkan ketegangan dengan sebagian warga desa. Sebagian penduduk khawatir kegiatan penggalian dapat merusak lahan pertanian dan peternakan yang menjadi sumber penghidupan mereka. Sebagian lain justru berharap penemuan tersebut mendatangkan wisatawan dan meningkatkan perekonomian desa.

Pemerintah lokal dilaporkan berulang kali menegaskan bahwa setiap kegiatan penelitian di kawasan itu harus memperoleh izin resmi. Aturan tersebut diberlakukan untuk mencegah kerusakan pada situs yang dianggap memiliki nilai budaya, sekaligus menghindari kegiatan komersial yang memanfaatkan sentimen keagamaan.

Bantahan Ilmuwan

Di sisi lain, komunitas geologi menilai klaim tersebut belum memiliki dasar yang kuat. Sejumlah ahli menyebut formasi Durupınar sebagai struktur alami yang terbentuk dari proses longsoran lumpur, pergerakan lempeng, dan pelapukan selama ribuan tahun. Bentuk menyerupai kapal, menurut mereka, adalah hasil kebetulan geomorfologis yang diperkuat oleh kecenderungan manusia melihat pola tertentu pada objek acak.

Para peneliti juga menyoroti tidak adanya bukti artefak yang meyakinkan, seperti sambungan kayu, paku logam, atau jejak konstruksi yang sesuai dengan teknik pembuatan kapal pada masa yang diperkirakan. Sampel yang selama ini diklaim sebagai kayu terawetkan, menurut sejumlah laboratorium, lebih konsisten dengan material batuan dan mineral.

Kritik serupa juga diarahkan pada penelusuran di lereng Gunung Ararat yang memiliki ketinggian sekitar 5.137 meter. Kondisi ekstrem, tutupan salju, dan risiko longsor membuat ekspedisi ke kawasan itu sangat terbatas. Hingga kini tidak ada temuan arkeologis yang diakui secara luas sebagai sisa bahtera.

Antara Iman, Sains, dan Wisata

Terlepas dari perdebatan itu, Situs Durupınar tetap menjadi destinasi yang ramai dikunjungi. Setiap tahun, ribuan orang dari berbagai negara datang untuk melihat langsung formasi tersebut. Di sekitar lokasi berdiri sejumlah fasilitas penunjang, dari pos informasi hingga kios suvenir, yang menggantungkan hidup pada arus kunjungan.

Bagi sebagian pengunjung, perdebatan ilmiah bukan alasan utama untuk datang. Situs itu dipandang sebagai penanda kisah yang tercatat dalam tradisi agama, termasuk dalam Alquran yang menyebut kapal Nabi Nuh berlabuh di atas sebuah gunung. Karena itu, diskusi mengenai Durupınar sering kali berlangsung di persimpangan antara keyakinan, kajian sejarah, dan kepentingan ekonomi masyarakat setempat.

Peneliti tersebut mengaku tidak berambisi membuktikan kebenaran kitab suci melalui penggalian. Menurutnya, tugas penelitian adalah mengumpulkan data dan membiarkan publik menilai sendiri. Ia menegaskan akan tetap mendokumentasikan temuan di kawasan itu, meski harus menghadapi tekanan dan ancaman yang menurutnya belum sepenuhnya berhenti.

Hingga kini, status formasi Durupınar masih menjadi salah satu misteri arkeologi paling diperdebatkan di kawasan Anatolia timur. Belum ada kesepakatan antara pihak yang meyakini formasi itu sebagai sisa bahtera dan pihak yang menilainya sebagai fenomena geologi biasa. Perdebatan itu diperkirakan akan terus berlangsung selama situs tersebut belum diteliti secara menyeluruh dengan metode ilmiah yang disepakati bersama.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Taufik Syahputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter