Perang Palestina dengan Israel, 50.000 Perempuan di Gaza Tewas Sejak 2023
Konflik antara Palestina dan Israel telah mencapai tingkat kemanusiaan yang sangat memprihatinkan, dengan data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 50.000 perempuan di Gaza telah tewas sejak awal tahun 2023. Angka ini menyoroti dampak devastasi yang dialami oleh populasi perempuan dan anak-anak di tengah sengita militer yang berkepanjangan di wilayah tersebut.
Koordinator Kesehatan Masyarakat Gaza, Dr. Aisha Hassan, mengungkapkan bahwa sebagian besar korban perempuan adalah ibu-ibu dan anak-anak perempuan yang tewas akibat serangan udara Israel terhadap permukiman padat penduduk. "Kami melihat angka kematian perempuan yang meningkat secara drastis dalam beberapa bulan terakhir. Banyak dari mereka tewas saat berada di rumah, mencoba melindungi anak-anak mereka, atau saat mencari makanan dan air bersih," kata Dr. Hassan dalam konferensi pers di Gaza, Rabu (15/11).
Dampak Kemanusiaan yang Mendalam
Koalisi Organisasi Kemanusiaan Palestina melaporkan bahwa sejak Januari 2023, lebih dari 15.000 keluarga di Gaza telah kehilangan ibu atau anggota perempuan utama lainnya. Kondisi ini menciptakan krisis sosial yang signifikan, dengan ribuan anak menjadi yatim piatu dan tidak memiliki perawatan yang memadai.
"Kehilangan ibu berarti hilangnya penjaga utama dalam keluarga. Ini bukan hanya masalah kematian, tetapi kehancuran struktur sosial yang fundamental," ujar Sarah Johnson, direktur eksekutif UN Women untuk Timur Tengah. Johnson menambahkan bahwa akses perempuan terhadap layanan kesehatan reproduktif telah hampir lenyap, dengan lebih dari 90% fasilitas kesehatan di Gaza tidak berfungsi atau rusak parah akibat konflik.
Keadaan Kesehatan Darurat
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa angka kematian ibu melonjak 500% sejak Januari 2023, dengan rata-rata 45 kematian ibu per 100.000 kelahiran live. Angka ini jauh di atas ambang batas darurat yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
"Kami kehilangan ibu-ibu bukan hanya karena luka perang, tetapi juga karena komplikasi kehamilan yang tidak bisa ditangani. Rumah sakit tidak memiliki listrik, obat-obatan dasar, atau tenaga medis yang memadai," jelas Dr. Fatima Al-Zahra, seorang obstetrikan yang bekerja di Rumah Sakit Al-Shifa.
Ekonomi dan Ketahanan Pangan
Konflik juga telah menghancurkan ekonomi informal yang banyak dijalankan perempuan di Gaza. Menurap data Badan PBB untuk Urusan Kemanusiaan (OCHA), 78% perempuan di Gaza sekarang bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup, dibandingkan dengan 46% pada awal tahun 2023.
"Perempuan adalah tulang punggung ekonomi keluarga di Gaza. Dengan hilangnya mata pencaharian mereka, seluruh keluarga terancam kelaparan," kata Muhammad Al-Rifai, kepala program bantuan Palang Merah Internasional di Gaza. Al-Rifai menambahkan bahwa program bantuan yang ada tidak memadai untuk mengatasi skala krisis yang terjadi saat ini.
Respons Internasional
Meskipun ada berbagai panggilan untuk gencatan senjata, kekerasan di Gaza terus berlanjut. Dewan Keamanan PBB telah menggelar beberapa rapat darurat, namun belum mencapai kesepakatan untuk menghentikan permusuhan.
"Kami mendesak agar pihak-pihak yang berkonflik segera menghentikan kekerasan dan memungkinkan akses kemanusiaan yang penuh ke Gaza. Khususnya, kami meminta jaminan keamanan bagi perempuan dan anak-anak yang paling rentan," kata António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB dalam sebuah pernyataan resmi.
Masa Depan yang Tidak Pasti
Dengan konflik yang berlanjut, masa depan bagi perempuan di Gaza semakin suram. Organisasi kesehatan dan kemanusiaan khawatir bahwa angka kematian akan terus meningkat seiring dengan menurunnya akses terhadap air bersih, makanan, dan layanan kesehatan dasar.
"Kami tidak hanya berhadapan dengan krisis kemanusiaan, tetapi dengan krisis moral global. Setiap hari, perempuan dan anak-anak di Gaza kehilangan hidup mereka tanpa alasan yang membenarkan," kata Dr. Hassan, dengan suara yang penuh emosi. "Kami meminta dunia untuk tidak membiarkan tragedi ini berlanjut tanpa tindakan nyata."
Komentar (0)