23, 2026
Nasional

Perjuangan Jupri, Berburu Peluang di Job Fair Saat Usia 59 Tahun

Dian Simanjuntak
Dian Simanjuntak Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Perjuangan Jupri, Berburu Peluang di Job Fair Saat Usia 59 Tahun

Antrean panjang pelamar kerja di sebuah bursa kerja atau job fair biasanya dipenuhi wajah-wajah muda, lulusan baru dengan berkas lamaran rapi dan jas almamater yang masih terselip di tas. Namun di salah satu sudut ruangan, seorang pria berkemeja lusuh berusia 59 tahun berdiri di barisan yang sama. Namanya Jupri. Ia datang bukan untuk mewakili anak atau saudaranya, melainkan untuk melamar pekerjaan bagi dirinya sendiri.

Jupri mengaku tiba lebih awal dibanding pelamar lain. Ia sengaja datang sebelum pintu lokasi acara dibuka agar sempat mendatangi sebanyak mungkin stan perusahaan. Di tangan kanannya tergenggam map plastik berisi salinan curriculum vitae, fotokopi kartu tanda penduduk, ijazah, dan beberapa sertifikat pelatihan keterampilan yang ia simpan sejak puluhan tahun lalu. Berkas-berkas itu sudah tampak menguning di beberapa bagian, tanda perjalanan panjang mencari nafkah.

Kondisi ekonomi keluarganya menjadi alasan utama. Jupri bercerita bahwa ia sudah lama bekerja di sektor informal, berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, mulai dari membantu di bengkel, menjadi tenaga harian di proyek bangunan, hingga berjualan makanan kecil. Pendapatan yang tidak menentu membuatnya ingin mencoba peruntungan di sektor formal, meski ia sadar usianya sudah mendekati masa pensiun.

Benturan dengan Batas Usia

Masalah utama yang dihadapi Jupri bukanlah kemampuan atau pengalaman, melainkan persyaratan usia yang tercantum di hampir setiap lowongan. Di banyak stan, syarat maksimal usia pelamar berkisar antara 25 hingga 35 tahun. Beberapa perusahaan menetapkan batas usia 40 tahun untuk posisi tertentu. Bagi Jupri, angka-angka itu seperti tembok yang sulit ditembus.

Ia mengisahkan pengalamannya saat menyerahkan berkas kepada petugas di salah satu stan. Petugas menerima berkas dengan sopan, tetapi langsung menyampaikan bahwa posisi yang dibuka memang dibatasi usia. Jupri tetap meminta agar berkasnya diterima sebagai bahan pertimbangan, sambil menjelaskan pengalaman kerja yang ia miliki. Ia menilai perusahaan sering kali hanya melihat angka di kartu identitas tanpa sempat menelisik rekam jejak dan keterampilan seseorang.

Meski begitu, Jupri tidak sepenuhnya pulang dengan tangan kosong. Beberapa perusahaan menawarkan posisi dengan kontrak harian, seperti tenaga kebersihan, petugas keamanan, dan pekerja gudang. Tawaran itu ia sambut dengan antusias, kendati ia menyadari status pekerjaannya tidak akan sekuat pekerja tetap. Baginya, yang terpenting adalah ada penghasilan yang bisa dibawa pulang setiap pekan.

Pengalaman sebagai Nilai Tawar

Di balik keterbatasan usia, Jupri memiliki modal yang jarang dimiliki pelamar muda, yakni pengalaman lapangan. Ia mengaku terbiasa bekerja di bawah tekanan, memahami prosedur keselamatan kerja di proyek, serta mampu memperbaiki peralatan sederhana. Kemampuan semacam ini, menurutnya, jarang tertulis rapi dalam formulir lamaran, tetapi sangat terasa manfaatnya di lapangan.

Sejumlah perusahaan yang membuka stan di acara tersebut mengakui bahwa mereka menerima pelamar berusia lebih matang untuk posisi tertentu, terutama yang menuntut ketelitian, kedisiplinan, dan ketahanan kerja. Namun mereka juga menghadapi keterbatasan internal, seperti kebijakan perusahaan mengenai batas usia pensiun dan ketentuan asuransi serta jaminan sosial yang mengikuti usia pekerja.

Fenomena yang Lebih Luas

Kisah Jupri bukan kasus tunggal. Di berbagai bursa kerja, pelamar berusia di atas 45 tahun kerap muncul dengan jumlah yang tidak sedikit, terutama mereka yang terdampak pemutusan hubungan kerja, pensiun dini, atau kehilangan mata pencaharian di sektor informal. Kelompok ini sering berada dalam posisi sulit karena belum memasuki usia pensiun resmi, tetapi sudah dianggap terlalu tua oleh pasar kerja formal.

Kesenjangan antara kebutuhan hidup dan kesempatan kerja membuat banyak pekerja senior beralih ke sektor informal, membuka usaha kecil, atau menerima pekerjaan dengan upah di bawah standar. Sebagian lainnya bertahan dengan mengandalkan pekerjaan musiman dan kontrak jangka pendek yang tidak memberikan kepastian.

Di sisi lain, kebutuhan perusahaan terhadap pekerja berpengalaman tetap ada, khususnya pada bidang yang membutuhkan keahlian teknis dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Persoalannya, jalur pertemuan antara pekerja senior dan kebutuhan itu belum terbuka lebar. Informasi lowongan yang sesuai jarang tersampaikan, sementara proses seleksi masih bertumpu pada penyaringan administratif yang kaku.

Harapan yang Belum Padam

Menjelang sore, ketika sebagian besar pelamar muda sudah meninggalkan lokasi, Jupri masih berdiri di dekat pintu keluar sambil memeriksa kembali berkas yang tersisa. Ia mencatat nomor kontak beberapa perusahaan yang bersedia menerima lamarannya. Meski peluangnya tidak besar, ia memilih untuk tetap menunggu kabar.

Jupri berharap perusahaan memberi kesempatan kepada pekerja seperti dirinya untuk setidaknya menunjukkan kemampuan melalui uji coba kerja. Menurutnya, penilaian seharusnya tidak berhenti pada usia, tetapi pada kesungguhan dan hasil kerja. Ia juga berpesan kepada pekerja lain agar tidak berhenti mencari peluang, sekalipun pintu-pintu lowongan sering tertutup karena alasan yang berada di luar kendali mereka.

Perjalanan Jupri di bursa kerja itu menggambarkan persoalan yang lebih besar: bagaimana pasar kerja menempatkan pekerja senior di tengah tuntutan produktivitas dan regenerasi. Sampai persoalan itu menemukan jalan keluar, kisah seperti yang dialami Jupri akan terus berulang di setiap antrean bursa kerja, di antara wajah-wajah muda yang bersemangat dan seorang pria berusia 59 tahun yang masih berjuang untuk mendapat tempat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Simanjuntak

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter