30, 2026
Nasional

Pola Naturalisasi Malaysia Diulas, Mirip Indonesia 1 Dekade Lalu

Anisa Permata
Anisa Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) kembali menjadi sorotan publik setelah kebijakan naturalisasi pemainnya dinilai memiliki kemiripan dengan strategi yang pernah dijalankan Indonesia sekitar satu dekade lalu. Pola tersebut mencakup perekrutan pemain keturunan maupun pemain asing yang memiliki jalur kewarganegaraan untuk memperkuat tim nasional dalam waktu relatif singkat.

Kemiripan dengan Strategi Indonesia Era 2010-an

Pengamat sepak bola menilai langkah Malaysia saat ini mengingatkan pada kebijakan naturalisasi yang dijalankan PSSI pada periode 2010 hingga 2014. Ketika itu, Indonesia merekrut sejumlah pemain berdarah Indonesia yang lahir dan besar di luar negeri, seperti di Belanda, untuk memperkuat skuad Garuda di ajang Piala AFF dan kualifikasi Piala Asia.

Nama-nama seperti Tonnie Cusell, Stefano Lilipaly, dan Raphael Maitimo menjadi bagian dari gelombang naturalisasi tersebut. Meski tidak semuanya berhasil memberikan dampak instan, pola itu membuka diskusi panjang tentang batas antara pembinaan jangka panjang dan jalan pintas kompetitif.

Kini Malaysia mengadopsi pendekatan serupa dengan skala yang lebih agresif. FAM tercatat mendekati sejumlah pemain berdarah Malaysia yang berkarier di Eropa, termasuk mereka yang memiliki garis keturunan dari Sabah dan Sarawak. Beberapa di antaranya telah memperkuat Harimau Malaya dalam laga internasional resmi.

Perbedaan Konteks dan Skala

Meski polanya mirip, konteks yang melatarbelakangi berbeda. Indonesia satu dekade lalu menghadapi keterbatasan regulasi dan resistensi internal, termasuk perdebatan tentang identitas nasional dan dampaknya terhadap pemain lokal. Malaysia saat ini bergerak dengan kerangka regulasi FIFA yang lebih jelas, khususnya terkait pemain yang memiliki kakek-nenek kelahiran Malaysia.

Selain itu, Malaysia memiliki keunggulan administratif berupa pengakuan jalur keturunan dalam hukum kewarganegaraan, yang mempermudah proses naturalisasi tanpa harus melalui masa tinggal panjang. Sejumlah pemain yang direkrut bahkan tidak perlu menjalani prosedur naturalisasi penuh karena statusnya sebagai warga negara sejak lahir menurut garis keturunan.

Skala perekrutan juga menjadi pembeda. Jika Indonesia pada era itu mendatangkan pemain secara sporadis, Malaysia kini cenderung sistematis dengan daftar target yang disusun berdasarkan kebutuhan posisi. Bek tengah, gelandang bertahan, dan penyerang menjadi prioritas utama.

Dampak pada Kompetisi Regional

Langkah Malaysia ini memicu reaksi dari sejumlah negara ASEAN. Thailand dan Vietnam yang selama ini mengandalkan pembinaan akademi mulai mempertanyakan keadilan kompetitif di tingkat regional. Federasi-federasi lain menilai naturalisasi masif berpotensi mengubah peta kekuatan sepak bola Asia Tenggara dalam waktu singkat.

Di sisi lain, pendukung kebijakan ini berargumen bahwa naturalisasi merupakan praktik global yang lazim. Negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Jepang telah lama memanfaatkan pemain keturunan untuk memperkuat tim nasional tanpa dianggap mengurangi identitas bangsa.

FIFA sendiri tidak melarang praktik tersebut selama memenuhi syarat kewarganegaraan dan tidak melanggar aturan keterikatan. Regulasi terbaru FIFA justru memperbolehkan pemain yang pernah membela tim nasional junior suatu negara untuk berpindah federasi dengan syarat tertentu.

Pelajaran dari Pengalaman Indonesia

Pengalaman Indonesia satu dekade lalu menyimpan catatan penting. Naturalisasi tanpa pembinaan berkelanjutan cenderung menghasilkan kesuksesan jangka pendek tanpa fondasi kokoh. Ketika generasi naturalisasi itu menua, Indonesia sempat mengalami kekosongan pemain di level senior.

Hal serupa berpotensi terjadi pada Malaysia jika tidak diimbangi dengan pengembangan pemain lokal. Sejumlah pengamat menyarankan agar FAM tidak hanya mengandalkan jalur keturunan, tetapi juga memperkuat kompetisi domestik dan akademi usia muda.

Kritik juga muncul dari kalangan suporter Malaysia yang khawatir identitas tim nasional tergerus. Mereka menilai pemain yang lahir dan dibesarkan di luar negeri mungkin kurang memiliki ikatan emosional dengan negara, meski secara hukum sah memperkuat Harimau Malaya.

Prospek ke Depan

Keberhasilan Malaysia dalam beberapa laga terakhir menjadi ujian awal kebijakan ini. Jika mampu berbicara di kualifikasi Piala Asia dan Piala Dunia, pendekatan naturalisasi akan semakin sulit dibantah. Namun jika gagal, kritik terhadap FAM akan semakin keras.

Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin sekaligus peringatan. Pola yang pernah dijalankan kini diadopsi oleh rival regional dengan cara yang lebih terstruktur. PSSI dituntut tidak hanya mengulang sejarah, tetapi membangun ekosistem yang menggabungkan naturalisasi, diaspora, dan pembinaan usia dini secara seimbang.

Yang jelas, perdebatan tentang naturalisasi di Asia Tenggara belum akan surut. Malaysia kini berada di pusat sorotan, dan bagaimana mereka mengelola kebijakan ini akan menjadi rujukan bagi negara-negara lain di kawasan, termasuk Indonesia yang pernah melaluinya lebih dulu.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Anisa Permata

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter