30, 2026
Nasional

2 Pengusaha RI Jadi Konglomerat, Rutin Datang ke Gunung Kawi

Gunung Kawi di Malang, tempat ziarah mistis, menyimpan kisah sukses Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong. Simak!]]>

Eko Wibowo
Eko Wibowo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

2 Pengusaha RI Jadi Konglomerat, Rutin Datang ke Gunung Kawi

Dua pengusaha Indonesia yang kini menyandang status konglomerat disebut rutin mengunjungi kawasan spiritual Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Praktik tersebut bukan rahasia di kalangan pelaku usaha, tetapi jarang dibahas secara terbuka karena menyangkut keyakinan pribadi dan tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Gunung Kawi telah lama dikenal sebagai salah satu pusat ziarah dan meditasi di Jawa Timur. Kawasan ini memiliki kompleks pemakaman yang dikeramatkan, termasuk makam Eyang Jugo dan Raden Mas Iman Soedjono, tokoh yang diyakini keturunan dari era Majapahit. Sejak puluhan tahun silam, peziarah datang dari berbagai kota untuk berdoa, bersemedi, dan mencari ketenangan batin.

Dua pengusaha yang menjadi sorotan itu berasal dari sektor yang berbeda. Seorang di antaranya membangun imperium bisnis dari nol pada dekade 1980-an dan kini mengendalikan sejumlah perusahaan di bidang properti, tambang, dan jasa keuangan. Satunya lagi dikenal sebagai pemilik jaringan usaha yang bergerak di bidang konsumer, distribusi, serta infrastruktur. Keduanya termasuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi sejumlah lembaga pemeringkat.

Tradisi Ziarah Kalangan Pengusaha

Kebiasaan mengunjungi Gunung Kawi di kalangan pengusaha Tionghoa dan pribumi telah berlangsung sejak lama. Sejumlah pelaku usaha mengaku datang bukan untuk meminta kekayaan secara instan, melainkan untuk memohon ketenangan, kelancaran usaha, dan keberkahan. Mereka umumnya datang pada malam Jumat Legi, malam Selasa Kliwon, atau menjelang hari-hari besar tertentu.

Beberapa pengelola penginapan dan warung di sekitar kawasan Gunung Kawi membenarkan bahwa rombongan pengusaha besar kerap datang secara tertutup. Mereka biasanya menyewa kendaraan pribadi, tidak menggunakan atribut perusahaan, dan meminta pengawalan seperlunya. Kedatangan mereka sering kali tanpa pengumuman, bahkan kepada pegawai perusahaan sendiri.

Ritual yang Dijalani

Sejumlah sumber di kawasan tersebut menyebutkan bahwa dua pengusaha itu memiliki pola kunjungan yang relatif tetap. Setelah tiba, mereka biasanya bermalam di salah satu hotel atau rumah penginapan di sekitar area. Pada dini hari, mereka menuju kompleks makam untuk berdoa, membakar dupa, dan menyerahkan sesajen berupa buah, bunga, serta kemenyan.

Selain berdoa di makam, sebagian peziarah menjalani ritual mandi di sumber air yang dianggap keramat atau bermeditasi di kamar tertentu yang dikaitkan dengan tokoh spiritual Gunung Kawi. Ritual semacam itu tidak dilakukan setiap kali kunjungan. Ada kalanya kunjungan hanya berupa doa singkat dan pemberian sumbangan untuk pemeliharaan kawasan.

Kalangan pengelola Gunung Kawi menegaskan bahwa kawasan tersebut terbuka bagi siapa saja, terlepas dari latar belakang agama dan status sosial. Mereka menolak anggapan bahwa Gunung Kawi identik dengan praktik pesugihan. Menurut mereka, pesugihan adalah praktik yang mengikat seseorang pada kekuatan tertentu dengan konsekuensi berat, sedangkan ziarah adalah ibadah atau tradisi leluhur yang sah.

Antara Spiritualitas dan Citra Bisnis

Pengamat sosial dan budaya menilai fenomena pengusaha besar yang berziarah ke Gunung Kawi merupakan bagian dari cara masyarakat mencari legitimasi spiritual atas keberhasilan duniawi. Dalam banyak tradisi, kekayaan dianggap tidak sekadar hasil kerja keras, tetapi juga berkaitan dengan restu, keberuntungan, dan hubungan dengan leluhur.

Namun, kunjungan itu juga menimbulkan pertanyaan di kalangan publik. Sebagian orang mempertanyakan mengapa pengusaha yang telah memiliki pendidikan tinggi dan jaringan bisnis global masih mempercayai hal-hal yang bersifat metafisik. Sebagian lainnya memandang hal itu sebagai hak pribadi yang tidak perlu dipersoalkan selama tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar hukum.

Kedua pengusaha tersebut, menurut sumber terdekat, enggan berbicara terbuka soal kunjungan mereka. Mereka menyadari bahwa isu ini sensitif dan mudah dipelintir menjadi bahan pemberitaan yang merugikan. Sikap tertutup itu juga untuk melindungi keluarga dan perusahaan dari spekulasi yang tidak perlu.

Dampak bagi Kawasan Gunung Kawi

Kehadiran pengusaha besar membawa dampak ekonomi bagi kawasan Gunung Kawi. Permintaan kamar penginapan, jasa pemandu ziarah, penjual bunga, dupa, dan kemenyan meningkat pada waktu-waktu tertentu. Sejumlah warga mengaku penghasilan mereka naik signifikan ketika kabar kedatangan tokoh besar tersebar dari mulut ke mulut.

Di sisi lain, kawasan ini menghadapi tantangan tersendiri. Peningkatan jumlah peziarah mendorong pembangunan yang tidak selalu tertata. Pemerintah Kabupaten Malang pernah menyoroti masalah kebersihan, parkir liar, dan pedagang kaki lima yang memenuhi jalan menuju kompleks makam.

Sejumlah tokoh masyarakat setempat berharap Gunung Kawi dikelola lebih profesional, dengan tetap menghormati nilai-nilai spiritual dan tradisi. Mereka mengusulkan penataan kawasan, penegakan aturan bagi pedagang, serta penyediaan informasi yang jelas bagi peziarah agar tidak mudah tertipu oleh oknum yang mengaku sebagai juru kunci.

Terlepas dari pro dan kontra, fenomena dua konglomerat yang rutin datang ke Gunung Kawi memperlihatkan bahwa dalam praktik bisnis Indonesia, unsur spiritual dan kultural masih memiliki tempat. Bagi sebagian pelaku usaha, keberhasilan tidak diukur hanya dari angka di neraca keuangan, tetapi juga dari keyakinan bahwa ada kekuatan di luar nalar manusia yang turut menentukan perjalanan hidup dan usaha mereka.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eko Wibowo

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter