07, 2026
Internasional

Potret Emak-Emak Iran Latihan Senjata, Siap Hadapi Serangan AS-Israel

Perempuan Iran mengikuti pelatihan senjata api untuk menghadapi kemungkinan serangan darat AS-Israel di tengah ketegangan yang kembali meningkat.]]>

Maya Anggraini
Maya Anggraini Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Potret Emak-Emak Iran Latihan Senjata, Siap Hadapi Serangan AS-Israel

Potret Emak-Emak Iran Latihan Senjata, Siap Hadapi Serangan AS-Israel

Di sebuah kompleks pelatihan di pinggiran Teheran, sekelompok perempuan paruh baya berbaris rapi mengenakan jilbab dan pakaian panjang. Tangan mereka menggenggam senapan serbu, sementara instruktur berseragam memberi aba-aba. Pemandangan ini bukan adegan film, melainkan bagian dari program pelatihan militer yang semakin gencar digalakkan sejumlah kelompok perempuan di Iran di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Latihan tersebut menjadi simbol perlawanan sekaligus persiapan menghadapi kemungkinan serangan militer. Para peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari ibu rumah tangga, guru, hingga pensiunan pegawai negeri. Mereka secara sukarela mengikuti pelatihan dasar penggunaan senjata api, taktik bertahan, dan pertolongan pertama di medan konflik.

Motivasi di Balik Pelatihan

Salah satu peserta, seorang ibu tiga anak yang hanya ingin disebut sebagai Zahra, menyatakan bahwa keputusannya mengikuti pelatihan didorong oleh rasa tanggung jawab menjaga keluarga dan tanah air. Menurutnya, ancaman serangan dari luar negeri bukan lagi wacana, melainkan kemungkinan nyata yang harus diantisipasi semua pihak, termasuk perempuan.

"Kami tidak mencari perang, tetapi kami tidak akan tinggal diam jika rumah kami diserang," ujarnya kepada media lokal. Pernyataan senada disampaikan sejumlah peserta lain yang menilai bahwa kemampuan dasar militer menjadi bekal penting ketika situasi darurat terjadi.

Program pelatihan ini umumnya diselenggarakan oleh unit milisi yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC). Meski bukan bagian dari struktur militer resmi, milisi ini memiliki peran signifikan dalam menjaga keamanan internal dan mendukung kebijakan pertahanan negara. Keikutsertaan perempuan dalam pelatihan semacam ini bukan hal baru, namun intensitasnya meningkat dalam beberapa tahun terakhir seiring eskalasi konflik di kawasan.

Eskalasi Ketegangan Kawasan

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel kembali memanas setelah serangkaian insiden keamanan, termasuk dugaan sabotase terhadap fasilitas nuklir dan serangan udara terhadap posisi militer di Suriah. Teheran berulang kali menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam jika kepentingan nasionalnya diganggu.

Dalam konteks ini, pelatihan militer bagi warga sipil, termasuk perempuan, dipandang sebagai bentuk kesiapsiagaan menyeluruh atau yang dikenal dengan doktrin pertahanan rakyat. Pemerintah Iran menyatakan bahwa seluruh lapisan masyarakat memiliki peran dalam menjaga kedaulatan negara, terlepas dari jenis kelamin maupun usia.

Pengamat militer menilai bahwa fenomena ini memiliki dua dimensi. Di satu sisi, pelatihan tersebut mencerminkan keseriusan Iran dalam mempersiapkan diri menghadapi ancaman eksternal. Di sisi lain, hal ini juga berfungsi sebagai pesan politik kepada musuh-musuh Iran bahwa masyarakat sipil pun siap terlibat dalam konfrontasi jika diperlukan.

Respons Internasional

Sejumlah negara Barat menilai program pelatihan senjata bagi warga sipil, terutama perempuan, sebagai bentuk mobilisasi yang berpotensi memperkeruh situasi. Mereka mengkhawatirkan meningkatnya risiko konflik terbuka di kawasan Timur Tengah yang sudah lama menjadi titik panas geopolitik.

Namun, dari sudut pandang pemerintah Iran, langkah ini adalah hak setiap negara untuk mempertahankan diri. Mereka menolak anggapan bahwa program tersebut bersifat provokatif dan menegaskan bahwa pelatihan dilakukan murni untuk tujuan defensif.

Organisasi hak asasi manusia juga menyoroti perlunya perlindungan terhadap perempuan yang terlibat dalam kegiatan semacam itu, terutama jika konflik bersenjata benar-benar terjadi. Mereka menekankan bahwa keterlibatan perempuan dalam pertahanan negara tidak boleh mengorbankan hak-hak dasar mereka sebagai warga sipil.

Dampak Sosial dan Politik

Di dalam negeri, program pelatihan ini mendapat dukungan dari sebagian besar kelompok konservatif yang melihatnya sebagai wujud semangat nasionalisme. Namun, sebagian kalangan reformis menilai bahwa pendekatan militeristik terhadap masyarakat sipil dapat memperlebar jurang perpecahan dan memperkuat kontrol negara atas kehidupan warga.

Terlepas dari perdebatan tersebut, fenomena emak-emak bersenjata di Iran menjadi cermin betapa tegangnya situasi geopolitik di kawasan. Ketika diplomasi gagal meredakan ketegangan, persiapan menghadapi skenario terburuk menjadi pilihan yang diambil banyak pihak, tidak terkecuali kaum perempuan yang selama ini identik dengan ranah domestik.

Dengan latihan yang terus berlangsung, pertanyaan besar kini mengemuka: apakah ini sekadar unjuk kekuatan simbolik, atau babak baru dalam konfrontasi yang lebih luas antara Iran dan kekuatan Barat beserta sekutunya? Jawabannya akan sangat bergantung pada arah kebijakan luar negeri masing-masing pihak dalam beberapa bulan mendatang.

Yang jelas, pemandangan perempuan Iran dengan senapan di tangan telah menjadi potret yang sulit dilupakan dari dinamika politik Timur Tengah saat ini. Sebuah gambaran tentang bagaimana ketegangan global merambah hingga ke ruang-ruang yang sebelumnya dianggap jauh dari medan pertempuran.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Maya Anggraini

Fokus pada kesehatan mental, mindfulness, dan produktivitas.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter