Prabowo Panggil Bahlil ke Istana Bahas BBM Langka di Bali
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ke Istana Kepresidenan untuk membahas persoalan kelangkaan BBM di Bali. Pertemuan ini dilakukan sehari setelah sejumlah daerah di Pulau Dewata mengalami kekurangan pasokan bahan bakar minyak (BBM), terutama untuk jenis Pertalite dan Dexlite.
Kepala Staf Khusus Presiden untuk Komunikasi Strategis, Ahmad Erani Yustika, mengonfirmasi bahwa pertemuan antara Presiden Prabowo dengan Menteri Bahlil telah berlangsung. "Ya, benar ada pertemuan antara Presiden dengan Bapak Menteri ESDM membahas persoalan pasokan BBM di Bali," kata Ahmad dalam keterangannya, Kamis (25/4/2024).
Kelangkaan BBM di Bali
Kelangkaan BBM di Bali telah berlangsung selama beberapa hari ini. Beberapa SPBU di sejumlah wilayah seperti Denpasar, Badung, dan Gianyar dilaporkan kehabisan stok Pertalite dan Dexlite. Warga terpaksa antre memanjang atau bahkan mencari SPBU di luar kota untuk mendapatkan BBM subsidi.
Keluhan warga terdengar di berbagai platform media sosial. Sejumlah pengguna Twitter dan Instagram membagikan foto antrean panjang di SPBU dan menyatakan kebingungan mengapa pasokan BBM di Pulau Dewata tiba-tiba menipis. Beberapa warga juga melaporkan adanya penjualan BBM di atas harga yang telah ditetapkan pemerintah.
Pihak Pertamina selaku distributor tunggal BBM di Indonesia telah mengakui adanya kelangkaan di beberapa daerah. "Memang ada beberapa titik SPBU di Bali yang mengalami kelangkaan pasokan, terutama untuk Pertalite dan Dexlite," ujar Kepala Humas Pertamina, Fajriyah Usman.
Respon Pemerintah
Presiden Prabowo yang baru saja menjabat sejak Oktober 2024 tampaknya memberikan prioritas tinggi pada persoalan ini. Dalam pertemuannya dengan Menteri Bahlil, Presido meminta agar persoalan kelangkaan BBM di Bali segera ditangani.
"Presiden meminta agar seluruh pihak terkait, khususnya Pertamina, segera melakukan langkah-langkah untuk memastikan pasokan BBM di Bali kembali normal," jelas Ahmad Erani.
Menteri Bahlil dalam pertemuannya dengan Presiden menjelaskan bahwa kelangkaan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, adanya peningkatan permintaan yang tidak terduga selama musim liburan. Kedua, masalah pada logistik distribusi akibat beberapa jalur transportasi yang terganggu. Ketiga, adanya lonjakan konsumsi BBM di sektor pariwisata yang sedang mengalami puncak musim.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah telah menginstruksikan Pertamina untuk melakukan sejumlah langkah. Pertama, menambah frekuensi pengiriman BBM ke Bali dengan mengalokasikan tambahan pasokan dari depo di Surabaya dan Jakarta. Kedua, membuka operasional SPBU 24 jam di beberapa titik strategis di Bali. Ketiga, mengawasi ketat harga jual BBM untuk mencegah praktik kolusi dan monopoli.
Tanggapan Publik
Kelangkaan BBM di Bali mendapatkan berbagai respons dari publik. Sebagian warga mengapresiasi cepatnya respons pemerintah untuk menangani masalah ini. "Saya harap masalah ini segera tuntas karena sangat mengganggu aktivitas warga dan pariwisata," kata Ketua Asosiasi Pariwisata Bali I Made Badra.
Di sisi lain, ada pihak yang menyoroti adanya ketidakkonsistenan dalam penanganan BBM. "Jadi kita masih impor BBM sementara pasokan di dalam negeri masih ada yang terganggu? Ini perlu diteliti lebih jauh," ujar anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Ahmad Riza Patria.
Sementara itu, Komisi VII DPR yang membidangi energi dan sumber daya mineral telah mengumumkan akan melakukan rapat dengar pendapat terkait persoalan kelangkaan BBM di Bali. "Kami akan memanggil Pertamina dan Kementerian ESDM untuk memberikan penjelasan mengenai akar masalah dan solusi jangka panjang," kata Ketua Komisi VII, Fery Hendrawan.
Langkah Jangka Panjang
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Bahlil menyatakan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan langkah-langkah jangka panjang untuk mencegah kelangkaan BBM di masa depan. Salah satunya adalah dengan percepatan program pengembangan energi terbarukan dan diversifikasi energi.
"Kita tidak bisa hanya bergantung pada BBM fosil. Kita perlu mempercepat program BBM berbasis bioetanol dan juga memperbanyak kendaraan listrik di Bali," ujar Bahlil.
Pemerintah juga berencana untuk meningkatkan infrastruktur logistik BBM di wilayah-wilayah yang rawan kelangkaan, termasuk peningkatan kapasitas depo dan modernisasi jaringan distribusi.
Saat ini, situasi pasokan BBM di Bali mulai membaik. Sejumlah SPBU yang sebelumnya kehabisan stok telah mulai mendapatkan pasokan kembali. Namun, pemerintah tetap waspada dan terus memantau perkembangan situasi untuk memastikan pasokan BBM stabil di seluruh Indonesia.
Komentar (0)