24, 2026
Politik

Presiden Betah di Luar Negeri, Kunjungan Kerja ke Negeri Sendiri

Presiden Kamerun, Paul Biya, dikritik karena sering tinggal di Swiss. Kembalinya ke negara memicu sindiran, seolah kunjungan resmi.]]>

Intan Kusuma
Intan Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Presiden Betah di Luar Negeri, Kunjungan Kerja ke Negeri Sendiri
**Presiden Betah di Luar Negeri, Kunjungan Kerja ke Negeri Sendiri** Judul di atas terdengar provokatif, tetapi justru karena itu ia menangkap satu kegelisahan publik yang cukup nyata: seorang presiden dikritik sebagai terlalu sering berada di luar negeri, sementara kunjungan kerja ke daerah-daerah di dalam negeri sendiri dinilai kurang intensif. Kritik semacam ini tidak boleh langsung dijawab dengan pembelaan bahwa kunjungan luar negeri pasti penting, tetapi juga tidak adil jika dijadikan vonis bahwa setiap perjalanan ke luar negeri hanyalah bentuk "betah" di luar. Yang diperlukan adalah pembacaan yang jernih: memisahkan antara kebutuhan diplomasi, simbol kepemimpinan, dan persoalan transparansi. Dalam dunia yang saling terhubung, kunjungan presiden ke luar negeri bukan hal aneh. Ada forum multilateral yang menuntut kehadiran kepala negara, ada pertemuan bilateral yang membahas investasi, perdagangan, energi, pertahanan, hingga perlindungan warga negara. Kehadiran presiden dapat memberi sinyal politik yang tidak bisa digantikan menteri atau duta besar. Dalam beberapa kasus, kesepakatan investasi atau kerja sama strategis memang lahir dari pertemuan tingkat tinggi. Karena itu, terlalu simplistis mengatakan bahwa presiden sebaiknya cukup tinggal di dalam negeri dan menyerahkan semua urusan luar negeri kepada bawahannya. Diplomasi tetap membutuhkan kepemimpinan di tingkat tertinggi. Namun, kritik "betah di luar negeri" juga punya dasar yang masuk akal. Persoalannya bukan sekadar frekuensi, melainkan proporsi, durasi, dan kesan yang muncul di publik. Ketika rakyat melihat presiden lebih sering muncul di bandara internasional, forum-forum di luar negeri, atau pertemuan dengan pemimpin asing, sementara di dalam negeri masih terjadi banjir, kebakaran hutan, krisis air, jalan rusak, harga pangan naik, atau bencana alam, jarak psikologis antara pemimpin dan rakyat bisa melebar. Kepemimpinan tidak hanya soal keputusan yang diambil, tetapi juga soal kehadiran. Masyarakat perlu merasa bahwa presiden mengetahui persoalan di lapangan, bukan hanya menerima laporan dari layar. Karena itu, penting membedakan kunjungan luar negeri yang produktif dari yang sekadar seremonial. Kunjungan yang produktif memiliki agenda jelas, hasil terukur, dan manfaat yang bisa dijelaskan kepada publik. Sebaliknya, kunjungan yang hanya menghasilkan foto bersama, pernyataan normatif, atau memorandum yang tidak jelas tindak lanjutnya akan mudah dipersepsi sebagai pemborosan. Publik berhak mengetahui biaya perjalanan, jumlah delegasi, durasi, dan hasil konkretnya. Transparansi bukan berarti menyerahkan seluruh proses diplomasi ke ruang publik, tetapi setidaknya memberikan informasi yang cukup agar masyarakat bisa menilai secara rasional. Tanpa transparansi, kecurigaan akan tumbuh dan kritik akan makin keras. Di sisi lain, kunjungan kerja ke negeri sendiri juga tidak otomatis bermakna jika hanya menjadi rutinitas seremonial. Presiden bisa saja datang ke daerah, tetapi jika agenda telah diatur sedemikian rupa sehingga hanya melihat proyek yang sudah bagus, bertemu pejabat lokal, lalu pulang tanpa menyelesaikan persoalan, kunjungan itu kehilangan bobot. Kunjungan kerja yang baik harus mampu mendengar keluhan warga, memeriksa kondisi nyata, mengoordinasikan kementerian dan pemerintah daerah, serta menghasilkan keputusan yang bisa dievaluasi. Kunjungan ke daerah terpencil, wilayah perbatasan, kawasan bencana, atau pasar rakyat sering kali lebih bermakna daripada pidato di aula megah. Di situlah presiden diuji apakah ia benar-benar hadir sebagai pemimpin negara atau hanya sebagai tamu resmi di negerinya sendiri. Persoalan "luar negeri" dan "dalam negeri" sebenarnya bukan dua hal yang saling bertentangan. Kredibilitas diplomasi luar negeri justru bergantung pada kekuatan dan stabilitas di dalam negeri. Presiden yang memiliki legitimasi domestik kuat akan lebih dipercaya dalam negosiasi internasional. Sebaliknya, prestasi di luar negeri akan sulit dipahami publik jika tidak diterjemahkan menjadi manfaat nyata di dalam negeri, seperti lapangan kerja, investasi yang bertanggung jawab, transfer teknologi, atau perlindungan warga negara. Politik luar negeri bukan dunia terpisah dari kehidupan rakyat; ia harus kembali ke rumah dalam bentuk hasil yang bisa dirasakan. Maka, judul "Presiden Betah di Luar Negeri, Kunjungan Kerja ke Negeri Sendiri" sebaiknya dibaca sebagai peringatan, bukan sekadar ejekan. Kritik ini mengingatkan bahwa seorang presiden memang harus menjadi aktor global, tetapi tidak boleh kehilangan akar domestik. Ia perlu hadir di forum internasional ketika memang diperlukan, tetapi juga harus hadir di tengah rakyat ketika persoalan mendesak. Yang dibutuhkan bukan pembelaan buta atau kecaman tanpa data, melainkan standar yang jelas: seberapa penting perjalanan itu, apa hasilnya, berapa biayanya, dan seberapa sering presiden benar-benar menyentuh persoalan di negeri sendiri. Pada akhirnya, "betah di luar negeri" tidak seharusnya menjadi identitas seorang presiden, dan "kunjungan kerja ke negeri sendiri" tidak boleh berhenti sebagai slogan. Publik berhak menuntut keseimbangan yang wajar, transparansi yang memadai, dan hasil yang nyata. Presiden boleh terbang jauh untuk kepentingan negara, tetapi ia juga harus memastikan bahwa ketika kembali, ia tidak asing dengan rumahnya sendiri.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Intan Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter