Rapat Dewan Gubernur (RDG) perdana Bank Indonesia di bawah kepemimpinan Gubernur Destry Damayanti memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen. Keputusan ini diambil dalam RDG yang berlangsung pada 20-21 Mei 2025, menjadi pertemuan pertama yang dipimpin langsung oleh Destry setelah resmi menjabat sebagai Gubernur BI menggantikan Perry Warjiyo.
Keputusan menahan suku bunga tersebut sejalan dengan upaya bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi, terutama dampak kebijakan tarif Amerika Serikat dan gejolak pasar keuangan internasional. Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 5,00 persen dan suku bunga lending facility sebesar 6,50 persen.
Fokus pada Stabilitas Rupiah dan Inflasi
Dalam konferensi pers usai RDG, Destry Damayanti menyatakan bahwa keputusan menahan suku bunga merupakan langkah preemtif untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2025 dan 2026. Bank Indonesia menilai tekanan inflasi masih terkendali, namun risiko dari sisi eksternal memerlukan kewaspadaan tinggi.
"Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan inflasi tetap dalam sasaran," ujar Destry. Ia menambahkan bahwa bank sentral akan terus mencermati perkembangan global dan domestik sebelum mengambil langkah selanjutnya.
Nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan sejumlah negara mitra dagang, termasuk kebijakan tarif yang diterapkan pemerintahan Donald Trump, menjadi salah satu faktor yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Respons terhadap Kebijakan Tarif Amerika Serikat
Destry menegaskan bahwa Bank Indonesia terus memantau dampak kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap perekonomian domestik, khususnya dari sisi ekspor dan arus modal. Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi gejolak eksternal tersebut.
Bank Indonesia juga mencatat bahwa cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang memadai untuk mendukung stabilitas nilai tukar. Intervensi di pasar valuta asing dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) akan terus dilakukan secara terukur untuk menjaga keseimbangan pasar.
Dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai masih berada pada jalur yang positif. Konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi penopang utama, sementara sektor ekspor menghadapi tantangan akibat melambatnya permintaan global. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2025 berada dalam kisaran 4,7 hingga 5,5 persen.
Transisi Kepemimpinan di Bank Indonesia
RDG perdana di bawah Destry Damayanti menandai babak baru kepemimpinan Bank Indonesia. Destry, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior, resmi dilantik sebagai Gubernur BI untuk periode 2025-2030. Ia merupakan gubernur perempuan pertama dalam sejarah Bank Indonesia.
Dalam pidato awal setelah pelantikan, Destry menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor keuangan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ia juga berkomitmen melanjutkan program-program strategis Bank Indonesia, termasuk digitalisasi sistem pembayaran dan pengembangan instrumen keuangan hijau.
Pengamat ekonomi menilai tantangan yang dihadapi Destry tidak ringan. Selain harus menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global, ia juga dituntut mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Komunikasi kebijakan yang jelas dan kredibel menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan pasar.
Prospek Kebijakan Moneter ke Depan
Bank Indonesia memberikan sinyal bahwa ruang penurunan suku bunga masih terbuka apabila kondisi eksternal membaik dan inflasi tetap terkendali. Namun, bank sentral menegaskan bahwa setiap keputusan akan diambil secara hati-hati dengan mempertimbangkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas utama.
Sejumlah analis memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini setidaknya hingga kuartal ketiga 2025, sebelum mempertimbangkan pelonggaran jika Federal Reserve menurunkan suku bunga acuannya. Ketergantungan pada data dan kondisi pasar keuangan global akan menjadi panduan utama dalam pengambilan kebijakan.
Dengan keputusan menahan suku bunga ini, Bank Indonesia menegaskan posisinya sebagai penjaga stabilitas moneter di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Pasar menantikan arah kebijakan selanjutnya dari kepemimpinan baru Bank Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan.
Komentar (0)