30, 2026
Nasional

Rombongan Jurnalis Hilang 20 Hari di Anak Krakatau, Keluarga Gelar Salat Gaib

Keluarga jurnalis Bagus Khoirunas gelar salat gaib setelah 20 hari hilang di perairan Gunung Anak Krakatau.]]>

Vino Pratama
Vino Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Rombongan Jurnalis Hilang 20 Hari di Anak Krakatau, Keluarga Gelar Salat Gaib

LAMPUNG — Rombongan jurnalis yang dilaporkan hilang selama 20 hari di kawasan Gunung Anak Krakatau hingga kini belum ditemukan. Keluarga korban memilih menggelar salat gaib sebagai bentuk ikhtiar spiritual sekaligus peneguhan harapan bahwa para jurnalis tersebut masih hidup dan akan kembali dengan selamat.

Salat gaib digelar di kediaman salah satu keluarga korban di Lampung, dihadiri kerabat, rekan kerja, serta sejumlah warga yang menaruh simpati terhadap nasib rombongan jurnalis tersebut. Pelaksanaan salat gaib dilakukan setelah pihak keluarga menerima informasi bahwa operasi pencarian dan pertolongan (SAR) belum membuahkan hasil meski telah berlangsung sejak hari pertama hilangnya kontak.

Kronologi Hilangnya Rombongan

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, rombongan jurnalis bertolak menuju kawasan Anak Krakatau untuk meliput aktivitas vulkanik dan kondisi kawasan pascaerupsi. Kontak terakhir dengan tim di daratan terjadi pada hari keberangkatan. Sejak saat itu, tidak ada kabar, sinyal komunikasi tidak terjangkau, dan rombongan tidak kembali ke titik penjemputan sesuai jadwal.

Laporan kehilangan disampaikan ke pihak berwenang setelah tenggat waktu yang disepakati terlewati. Tim SAR gabungan kemudian diterjunkan ke perairan Selat Sunda yang menjadi jalur utama menuju Anak Krakatau. Pencarian melibatkan kapal patroli, nelayan setempat, serta pemantauan dari pos pemantauan gunung api.

Kendala Cuaca dan Arus Laut

Operasi pencarian menghadapi sejumlah kendala teknis. Kondisi cuaca di perairan Selat Sunda kerap berubah cepat, dengan gelombang tinggi dan angin kencang yang membatasi mobilitas kapal. Arus laut yang kuat di sekitar kawasan Anak Krakatau juga menyulitkan penyisiran di area yang diduga menjadi lokasi hilangnya rombongan.

Selain faktor alam, status aktivitas vulkanik Anak Krakatau menjadi pertimbangan tersendiri bagi tim SAR. Radius aman di sekitar kawah harus dipatuhi agar operasi pencarian tidak menimbulkan korban tambahan. Akibatnya, area penyisiran dibatasi pada zona yang dinilai relatif aman.

Hingga hari ke-20, belum ada tanda-tanda keberadaan rombongan. Tim SAR menyatakan pencarian dilakukan secara menyeluruh, mencakup daratan pesisir, pulau-pulau kecil di sekitar kawasan, serta lintasan pelayaran yang biasa dilalui. Namun, hasilnya masih nihil.

Respons Keluarga Korban

Keluarga korban menempuh jalur spiritual di tengah ketidakpastian hasil pencarian. Salat gaib dilakukan sebagai doa untuk keselamatan para jurnalis yang masih dinyatakan hilang. Salah satu kerabat menyatakan bahwa keluarga berusaha menjaga harapan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Keluarga juga meminta pemerintah dan tim SAR untuk terus mengintensifkan pencarian. Mereka berharap ada pembaruan informasi secara berkala agar keluarga tidak dibiarkan dalam ketidakjelasan. Permintaan serupa disampaikan rekan-rekan kerja korban yang menuntut transparansi proses pencarian.

Dorongan dari Kalangan Jurnalis

Organisasi profesi jurnalis mendesak agar operasi pencarian tidak dihentikan sebelum ada kejelasan status rombongan. Mereka menekankan bahwa tugas jurnalistik di kawasan berisiko tinggi memerlukan dukungan perlindungan, termasuk jaminan keselamatan saat peliputan di wilayah bencana dan kawasan konservasi.

Sejumlah pihak menilai peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya prosedur keselamatan dalam liputan lapangan. Koordinasi dengan otoritas setempat, pemantauan cuaca, serta penggunaan peralatan komunikasi cadangan dinilai menjadi langkah wajib bagi tim jurnalis yang meliput di area terpencil.

Pencarian Masih Berlanjut

Tim SAR menyatakan pencarian masih berlanjut dengan pola penyisiran yang disesuaikan kondisi cuaca. Pemantauan dari udara dan laut dilakukan bergantian, sementara informasi dari nelayan yang melintas di sekitar kawasan terus dikumpulkan. Masyarakat pesisir diminta melaporkan jika menemukan benda atau tanda-tanda yang diduga terkait rombongan tersebut.

Pemerintah daerah menyatakan akan mengawal proses pencarian hingga ada kepastian. Pendampingan bagi keluarga korban juga disiapkan, termasuk bantuan psikologis mengingat tekanan yang dialami selama masa pencarian.

Hingga berita ini diturunkan, nasib rombongan jurnalis di Anak Krakatau masih belum diketahui. Salat gaib yang digelar keluarga menjadi penanda bahwa harapan belum padam, meski waktu terus berjalan dan ketidakpastian semakin panjang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Vino Pratama

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter