Rudianto Lallo Puji Kapolri Bawa Warna Baru Penegakan Hukum Berantas Narkoba
Rudianto Lallo mendukung Kapolri dalam penegakan hukum narkoba. Ia apresiasi pengungkapan kasus besar dan dorong penyidikan mendalam untuk bongkar jaringan.]]>
# Rudianto Lallo Puji Kapolri Bawa Warna Baru Penegakan Hukum Berantas Narkoba
Rudianto Lallo menyampaikan apresiasi terhadap langkah Kapolri yang dinilai membawa warna baru dalam penegakan hukum, khususnya dalam pemberantasan narkoba. Menurutnya, warna baru itu bukan sekadar perubahan gaya komunikasi, melainkan cara pandang dan pendekatan yang lebih profesional, terukur, dan berorientasi pada hasil. Ia menilai pemberantasan narkoba membutuhkan kepemimpinan yang tegas sekaligus mampu merangkul berbagai pihak, karena persoalan narkoba tidak dapat diselesaikan hanya dengan penangkapan sporadis.
Rudianto Lallo menegaskan bahwa narkoba merupakan ancaman serius bagi generasi muda, keluarga, dan masa depan bangsa. Karena itu, penegakan hukum di bidang narkoba harus dilakukan dengan strategi yang komprehensif. Tidak cukup hanya menangkap pengguna atau pengedar kecil, tetapi juga membongkar jaringan, menelusuri aliran dana, menyita aset, serta memutus jalur distribusi hingga ke akar-akarnya. Dalam pandangannya, Kapolri telah menunjukkan arah yang lebih jelas dalam memperlakukan pemberantasan narkoba sebagai agenda prioritas yang membutuhkan kerja sama lintas lembaga.
Ia menilai “warna baru” dalam penegakan hukum berarti adanya keseimbangan antara ketegasan dan pendekatan yang humanis. Kapolri dianggap membuka ruang bagi penegakan hukum yang profesional, akuntabel, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Bandar dan jaringan besar harus ditindak tegas, tetapi pengguna yang merupakan korban perlu mendapat pendekatan rehabilitasi dan pendampingan. Dengan cara itu, penegakan hukum tidak hanya menghasilkan angka penangkapan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi upaya penyelamatan masyarakat.
Rudianto Lallo juga menyoroti pentingnya pencegahan dan edukasi. Menurutnya, pemberantasan narkoba tidak boleh berhenti pada tindakan represif. Kampanye anti narkoba harus terus dilakukan di sekolah, keluarga, lingkungan kerja, dan ruang digital. Anak-anak dan remaja perlu dibekali pemahaman tentang bahaya narkoba, sementara orang tua dan guru perlu dilibatkan dalam deteksi dini. Kapolri dinilai telah mendorong pendekatan yang lebih seimbang antara penindakan, pencegahan, rehabilitasi, dan edukasi publik.
Selain itu, ia menekankan pentingnya sinergi antara Polri, Badan Narkotika Nasional, Bea Cukai, Imigrasi, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dunia pendidikan, dan media. Jaringan narkoba bersifat lintas wilayah dan lintas negara, sehingga tidak mungkin ditangani secara sektoral. Koordinasi yang kuat akan mempercepat pertukaran informasi, memperkuat pengawasan, dan mempersempit ruang gerak pelaku. Dalam konteks itu, kepemimpinan Kapolri yang mampu membangun kolaborasi menjadi nilai positif yang perlu diapresiasi.
Rudianto Lallo juga mengingatkan agar momentum perubahan ini dijaga dengan transparansi dan pengawasan. Penegakan hukum harus bebas dari praktik penyalahgunaan wewenang, pungutan liar, dan kepentingan pribadi. Integritas personel menjadi kunci. Sistem reward dan punishment harus berjalan, sementara masyarakat dan media perlu diberi ruang untuk mengawasi. Dengan begitu, kepercayaan publik terhadap Polri dapat tumbuh, dan upaya pemberantasan narkoba tidak kehilangan legitimasi.
Di sisi lain, ia menilai dukungan terhadap kesejahteraan personel juga tidak boleh diabaikan. Tugas pemberantasan narkoba memiliki risiko tinggi dan tekanan besar. Karena itu, kebutuhan anggaran, pelatihan, teknologi, serta perlindungan hukum bagi personel yang bekerja profesional perlu dipenuhi. Menurutnya, warna baru dalam penegakan hukum harus dibarengi dengan pembenahan internal, sehingga semangat yang dibangun Kapolri dapat dijalankan sampai ke tingkat bawah.
Rudianto Lallo mengajak masyarakat untuk tidak memberi stigma berlebihan kepada korban narkoba. Pendekatan yang humanis, katanya, akan lebih efektif dalam mendorong korban untuk mencari bantuan. Keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial perlu menjadi garda terdepan dalam pencegahan. Media juga diharapkan memberitakan persoalan narkoba secara edukatif, tidak hanya menonjolkan sensasi, tetapi juga memberikan informasi yang membantu publik memahami bahaya dan cara melawan narkoba.
Pada akhirnya, Rudianto Lallo berharap warna baru yang dibawa Kapolri bukan menjadi langkah sementara, melainkan bagian dari pembangunan sistem penegakan hukum yang berkelanjutan. Keberhasilan pemberantasan narkoba perlu diukur tidak hanya dari jumlah tersangka, tetapi juga dari berkurangnya peredaran, meningkatnya kesadaran masyarakat, dan pulihnya korban. Dengan konsistensi, evaluasi, serta kolaborasi semua pihak, ia yakin upaya pemberantasan narkoba dapat berjalan lebih efektif dan memberikan rasa aman bagi masyarakat. Pujian yang disampaikan Rudianto Lallo hendaknya menjadi dorongan untuk terus bekerja, sekaligus pengingat bahwa tantangan di lapangan masih besar dan membutuhkan komitmen bersama.
← Artikel Sebelumnya
AirAsia Turunkan Harga Tiket Domestik 12 Persen Selama Nataru
Artikel Selanjutnya →
Komentar (0)