30, 2026
Ekonomi

Rupiah Dekati Rp18.000, Airlangga: Ekspor Harus Digenjot!

Pemerintah menanggapi pelemahan rupiah mendekati Rp18.000/US$. Fokus pada peningkatan ekspor dan optimis fundamental ekonomi tetap kuat.]]>

Dimas Permana
Dimas Permana Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Rupiah Dekati Rp18.000, Airlangga: Ekspor Harus Digenjot!

Nilai tukar rupiah terus melemah dan mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini menjadi sorotan pemerintah, yang menilai perlunya penguatan sektor ekspor sebagai penopang utama stabilitas ekonomi nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa ekspor harus menjadi motor penggerak untuk menahan tekanan terhadap mata uang domestik.

Rupiah di Bawah Tekanan Global

Pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat. Ketidakpastian kebijakan moneter global, terutama terkait arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat, serta ketegangan geopolitik, menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia. Aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik turut memperbesar tekanan terhadap rupiah.

Dalam beberapa pekan terakhir, Bank Indonesia dilaporkan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, upaya tersebut dianggap belum cukup apabila fundamental ekonomi, terutama dari sisi penerimaan devisa, tidak diperkuat. Devisa dari sektor ekspor menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan pasokan dolar AS di pasar domestik.

Airlangga: Ekspor Harus Digenjot

Menanggapi kondisi tersebut, Airlangga Hartarto menekankan bahwa pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan intervensi moneter. Menurutnya, ekspor harus digenjot agar devisa negara meningkat dan rupiah kembali stabil. Ia menyebut sektor ekspor sebagai penyangga utama dalam menghadapi gejolak global.

"Ekspor harus menjadi prioritas. Kita tidak bisa hanya menahan nilai tukar tanpa memperkuat sumber devisa. Ekspor harus digenjot, baik dari sisi komoditas maupun produk manufaktur," kata Airlangga dalam keterangan resminya.

Pemerintah disebut tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk mendorong kinerja ekspor, termasuk mempercepat perizinan, memperluas akses pasar ke negara nontradisional, serta mendorong hilirisasi sumber daya alam agar nilai tambah ekspor meningkat. Hilirisasi dianggap mampu mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah yang rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.

Diversifikasi Pasar dan Hilirisasi

Airlangga menilai diversifikasi pasar ekspor menjadi keharusan. Ketergantungan pada sejumlah negara tujuan utama perlu dikurangi dengan membuka pasar baru di kawasan Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin. Selain itu, produk ekspor diarahkan tidak hanya pada komoditas, tetapi juga produk olahan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Hilirisasi nikel, bauksit, tembaga, dan komoditas lain disebut telah menunjukkan hasil, meski masih perlu diperluas ke sektor lain seperti pertanian dan perikanan. Pemerintah berharap kebijakan ini mampu meningkatkan penerimaan devisa secara signifikan dalam jangka menengah.

Respons Pelaku Usaha

Kalangan pengusaha menyambut baik dorongan pemerintah untuk memperkuat ekspor. Namun, mereka mengingatkan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS seharusnya menjadi momentum bagi eksportir untuk meningkatkan daya saing. Di sisi lain, importir bahan baku justru menghadapi kenaikan biaya produksi yang dapat menekan margin keuntungan.

Pelaku usaha juga meminta pemerintah menjaga stabilitas kebijakan dan memastikan kelancaran logistik. Biaya logistik yang tinggi dan keterbatasan infrastruktur di sejumlah daerah dinilai masih menjadi hambatan utama dalam meningkatkan kinerja ekspor.

Tekanan pada Impor dan Inflasi

Pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 juga berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk bahan baku dan barang modal. Kondisi ini dapat berdampak pada kenaikan harga barang di dalam negeri dan menambah tekanan inflasi. Pemerintah diminta mengantisipasi dampak tersebut dengan menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan serta energi.

Bank Indonesia sebelumnya menyatakan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, ruang intervensi terbatas apabila tekanan global berlanjut. Karena itu, koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal, termasuk penguatan ekspor, menjadi krusial.

Langkah Selanjutnya

Pemerintah berencana menggelar rapat koordinasi lintas kementerian untuk merumuskan langkah konkret percepatan ekspor. Fokusnya mencakup pembiayaan ekspor, promosi dagang, serta penyederhanaan regulasi yang menghambat. Airlangga menegaskan bahwa target ekspor harus tercermin dalam angka, bukan sekadar wacana.

Dengan tekanan global yang belum mereda, arah kebijakan ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan ke depan akan diuji. Pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 menjadi alarm bahwa ketahanan eksternal perlu diperkuat. Ekspor, menurut pemerintah, adalah jawabannya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dimas Permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter