22, 2026
Olahraga

Segininya Arteta Kepikiran Bawa Arsenal Juara Liga Champions

Arsenal gagal jadi kampiun Liga Champions musim 2025/26 kemarin, finis sebagai runner up. Manajer Mikel Arteta kepikiran terus, sampai segininya!]]>

Intan Kusuma
Intan Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Segininya Arteta Kepikiran Bawa Arsenal Juara Liga Champions

Ambisi Mikel Arteta untuk membawa Arsenal menjuarai Liga Champions bukan sekadar retorika musim panas. Sejak kembali ke kompetisi elite Eropa pada 2023, pelatih asal Spanyol itu berulang kali menegaskan bahwa trofi Si Kuping Besar adalah target yang harus dikejar klub, bukan sekadar pelengkap perjalanan. Pernyataan itu kini menjadi semacam peta jalan: seluruh kebijakan transfer, pola latihan, hingga rotasi pemain di pentas domestik diarahkan pada satu tujuan yang selama dua dekade lebih lepas dari genggaman Arsenal.

Beban sejarah yang belum tuntas

Arsenal tidak pernah menjuarai Liga Champions atau Piala Eropa dalam format apa pun. Pencapaian terbaik mereka terjadi pada 2006, ketika tim asuhan Arsene Wenger melaju ke final di Paris dan harus mengakui keunggulan Barcelona 2-1. Saat itu Arsenal sempat unggul lebih dulu lewat gol Sol Campbell, tetapi harus bermain dengan sepuluh pemain setelah Jens Lehmann diusir wasit pada menit awal. Kekalahan itu menjadi luka yang hingga kini masih sering dikenang pendukung klub.

Arteta sendiri pernah menjadi bagian dari skuad Arsenal antara 2011 dan 2016. Ia merasakan langsung bagaimana klub dengan tradisi panjang di Inggris kerap tertahan di babak gugur Liga Champions. Pengalaman itu, menurutnya, membentuk cara pandangnya sebagai pelatih: Arsenal tidak boleh lagi sekadar puas tampil, tetapi harus punya kapasitas untuk bertahan hingga pertandingan terakhir di kompetisi tersebut.

Kembali ke jalur elite Eropa

Setelah absen selama enam musim, Arsenal kembali ke Liga Champions pada 2023-2024. Musim pertama itu berakhir di perempat final setelah tersingkir dari Bayern Muenchen dengan agregat 2-3. Meski gagal melaju, penampilan tersebut memberi gambaran bahwa skuad muda Arteta mampu bersaing dengan klub-klub berpengalaman.

Musim berikutnya menjadi lompatan besar. Arsenal menyingkirkan Real Madrid di perempat final dengan agregat 5-1, hasil yang dianggap sebagai salah satu kemenangan paling meyakinkan klub di kompetisi Eropa dalam beberapa dekade terakhir. Langkah mereka baru terhenti di semifinal oleh Paris Saint-Germain, yang menang 1-0 di London dan 2-1 di Paris. Kekalahan itu terasa getir karena Arsenal tampil dominan dalam penguasaan bola pada leg pertama, tetapi gagal memanfaatkan peluang.

Kegagalan sebagai bahan bakar

Bagi Arteta, eliminasi tersebut bukan akhir dari segalanya. Ia berulang kali menyebut bahwa timnya harus belajar dari momen-momen kecil yang menentukan hasil di fase gugur: efektivitas di depan gawang, disiplin bertahan dalam tekanan, dan kemampuan mengelola ritme pertandingan saat menghadapi lawan sekelas PSG atau Madrid. Pendekatan itu tercermin dalam cara Arsenal bermain belakangan ini, yang lebih sabar membangun serangan dan lebih rapat ketika kehilangan bola.

Investasi skuad dan pembangunan jangka panjang

Ambisi Arteta juga terlihat dari arah kebijakan transfer. Sejak 2020, Arsenal merekrut sejumlah pemain muda dengan potensi jangka panjang, seperti Martin Odegaard, Declan Rice, Kai Havertz, dan Bukayo Saka yang dibina dari akademi. Pola ini menunjukkan bahwa klub tidak mengejar solusi instan, melainkan membangun fondasi yang bisa bersaing di Eropa selama beberapa musim.

Arteta kerap menekankan pentingnya kedalaman skuad. Liga Champions menuntut rotasi yang cermat karena jadwal padat dan intensitas pertandingan yang tinggi. Pengalaman dua musim terakhir menjadi pelajaran berharga, terutama ketika Arsenal harus kehilangan beberapa pemain kunci pada momen krusial fase gugur.

Tekanan dan ekspektasi

Ekspektasi terhadap Arsenal tidak hanya datang dari dalam klub. Pendukung yang menunggu trofi Eropa sejak 1994, ketika klub menjuarai Piala Winners, kini menuntut lebih. Namun Arteta menegaskan bahwa tekanan tersebut harus diterjemahkan menjadi fokus, bukan beban. Ia menilai konsistensi di Liga Primer dan performa di Eropa saling berkaitan: tim yang mampu bersaing ketat di kompetisi domestik dianggap lebih siap menghadapi fase gugur Liga Champions.

Sejumlah pengamat menilai Arsenal masih perlu menambah pengalaman di lini depan agar lebih efektif dalam pertandingan besar. Kritik itu tidak diabaikan Arteta, tetapi ia memilih menempuh jalannya sendiri dengan mempertahankan inti skuad dan memperkuat detail permainan.

Jalan menuju trofi

Dengan skuad yang semakin matang dan pengalaman dua musim terakhir di fase gugur, Arsenal berada di posisi yang lebih baik dibanding beberapa tahun lalu. Namun Liga Champions tetap kompetisi yang paling sulit ditebak. Faktor kebugaran, undian, dan momen individu sering menentukan hasil akhir.

Yang jelas, Arteta tidak menyembunyikan tujuannya. Baginya, membawa Arsenal menjuarai Liga Champions adalah ukuran keberhasilan proyek yang ia bangun sejak 2019. Setiap keputusan di ruang ganti dan ruang transfer diarahkan pada satu pertanyaan sederhana: apakah langkah ini membawa Arsenal lebih dekat ke trofi Eropa? Selama pertanyaan itu masih menjadi kompas, ambisi Arteta akan terus menjadi bagian dari cerita Arsenal di kompetisi paling bergengsi di Benua Biru.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Intan Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter