Kekecewaan Erik ten Hag terhadap keputusan Manchester United melepas Scott McTominay kembali menjadi sorotan. Pelatih asal Belanda itu disebut menyesalkan keputusan klub menjual gelandang Timnas Skotlandia tersebut pada bursa transfer musim panas 2024, dan menilai manajemen tidak menepati kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Menurut laporan yang berkembang di sejumlah media Eropa, Ten Hag memandang penjualan McTominay sebagai keputusan yang murni didorong pertimbangan finansial, bukan kebutuhan teknis tim.
McTominay memang bukan nama yang selalu menjadi pilihan utama di lini tengah Manchester United. Namun, perannya sebagai pemain pelapis yang mampu tampil di berbagai posisi, termasuk sebagai gelandang bertahan, gelandang box-to-box, bahkan penyerang bayangan, membuatnya menjadi sosok yang diandalkan Ten Hag pada momen-momen krusial. Beberapa gol pentingnya di laga-laga menentukan menjadi bukti kontribusi nyata pemain berusia 27 tahun itu bagi tim.
Kronologi Penjualan McTominay
McTominay bergabung dengan Napoli pada akhir Agustus 2024. Kesepakatan itu disebut bernilai sekitar 25,7 juta pound sterling, atau setara lebih dari Rp500 miliar, dengan potensi tambahan berdasarkan sejumlah klausul. Bagi Manchester United, penjualan tersebut tercatat sebagai salah satu transaksi terbesar yang menghasilkan keuntungan murni karena McTominay merupakan produk akademi klub.
Dari sudut pandang keuangan, langkah itu masuk akal. Regulasi keberlanjutan finansial yang ketat menuntut klub untuk menyeimbangkan pembukuan, dan penjualan pemain akademi dihitung sebagai keuntungan penuh dalam laporan keuangan. Namun, dari sudut pandang teknis, kepergian McTominay meninggalkan celah yang tidak sepenuhnya terisi, terutama ketika lini tengah Manchester United dilanda cedera dan inkonsistensi performa.
Janji yang Dianggap Tak Ditepati
Inti kekecewaan Ten Hag, menurut laporan tersebut, adalah keyakinannya bahwa manajemen telah berjanji mempertahankan pemain-pemain yang dinilai penting bagi proyek olahraga tim. Ia disebut memahami kebutuhan klub untuk menjual pemain, tetapi berharap keputusan itu diambil setelah proses konsultasi yang matang dan setelah ada pengganti yang jelas. Dalam pandangannya, McTominay dijual tanpa jaminan bahwa lini tengah akan diperkuat dengan kualitas setara atau lebih baik.
Ten Hag juga disebut menilai bahwa penjualan tersebut memperlihatkan pergeseran arah kebijakan klub, dari yang semula menekankan pembangunan tim berdasarkan kebutuhan pelatih menjadi lebih berorientasi pada efisiensi biaya. Situasi itu diperparah oleh sejumlah keputusan transfer lain yang dianggap tidak sejalan dengan permintaan pelatih pada periode yang sama.
Dampak pada Performa Tim
Sejak kepergian McTominay, Manchester United menghadapi persoalan konsistensi di lini tengah. Kombinasi pemain yang tersedia belum mampu memberikan keseimbangan antara kekuatan bertahan dan kemampuan menerobos kotak penalti lawan, dua hal yang menjadi ciri permainan McTominay. Beberapa pertandingan memperlihatkan tim kesulitan mempertahankan intensitas, khususnya pada babak kedua.
Ketiadaan sosok seperti McTominay juga mengurangi variasi taktik. Ia kerap dimanfaatkan sebagai pemain yang masuk dari bangku cadangan untuk mengubah jalannya pertandingan, termasuk dengan kemampuannya mencetak gol dari situasi bola mati dan pergerakan tanpa bola ke dalam kotak penalti. Opsi semacam itu tidak mudah ditemukan pada skuad yang ada.
Posisi Ten Hag yang Semakin Pelik
Kekecewaan atas penjualan McTominay tidak berdiri sendiri. Isu ini muncul di tengah tekanan besar yang dihadapi Ten Hag menyusul rangkaian hasil buruk Manchester United pada awal musim 2024/2025. Sejumlah laporan menyebut hubungan antara pelatih dan manajemen mulai merenggang, terutama menyangkut pembagian kewenangan dalam perencanaan transfer dan evaluasi skuad.
Ten Hag sendiri sempat menyampaikan secara terbuka bahwa ia menginginkan skuad yang lebih dalam dan lebih berpengalaman, khususnya di lini tengah dan lini belakang. Pernyataan itu dibaca sebagai isyarat bahwa pelatih merasa kebutuhan teknis tim belum sepenuhnya terpenuhi oleh kebijakan rekrutmen klub.
Reaksi Suporter dan Pengamat
Di kalangan suporter Manchester United, penjualan McTominay sejak awal menuai perdebatan. Sebagian menilai keputusan itu realistis karena klub membutuhkan dana segar, sementara sebagian lain menyesalkan hilangnya pemain yang identik dengan semangat dan dedikasi terhadap klub. Kritik terhadap manajemen semakin menguat ketika lini tengah tampil kurang meyakinkan pada periode setelah kepergiannya.
Pengamat sepak bola Inggris menilai kasus ini memperlihatkan persoalan struktural yang lebih luas di Manchester United, yakni belum jelasnya garis kewenangan antara pelatih, direktur olahraga, dan pemilik klub dalam pengambilan keputusan transfer. Ketika kepentingan finansial dan kebutuhan teknis tidak selaras, konflik semacam ini cenderung berulang.
McTominay di Napoli
Di Napoli, McTominay justru menemukan momentum baru. Ia menjadi bagian penting dari lini tengah tim asuhan Antonio Conte dan menyumbang sejumlah gol pada musim pertamanya di Serie A. Performa tersebut memperkuat argumen bahwa pemain itu masih memiliki kualitas untuk bersaing di level tertinggi, sekaligus menambah beban bagi Manchester United dalam menjelaskan alasan di balik penjualannya.
Bagi Ten Hag, perkembangan itu kemungkinan besar hanya menegaskan keyakinannya bahwa McTominay seharusnya dipertahankan. Namun, keputusan telah diambil, dan pertanyaannya kini bergeser: sejauh mana manajemen Manchester United akan menyesuaikan arah kebijakan transfer dengan kebutuhan pelatih, dan apakah janji-janji yang dianggap belum ditepati akan kembali menjadi sumber ketegangan di Old Trafford.
Komentar (0)