Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya menyatakan dukungan penuh kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum Israel, setelah sebelumnya sempat menunjukkan keraguan di hadapan publik. Sikap tersebut disampaikan Trump dalam beberapa pernyataan kepada wartawan, yang kemudian menjadi sorotan media internasional karena posisi Washington dianggap memiliki bobot besar dalam peta politik Israel.
Dukungan itu muncul setelah Trump, pada kesempatan terpisah, memberi jawaban yang tidak tegas ketika ditanya mengenai peluang Netanyahu kembali memimpin Israel. Pernyataan bernada meragukan tersebut sempat memicu spekulasi bahwa Gedung Putih menjaga jarak dari pemimpin Likud itu, terutama setelah Netanyahu menghadapi tekanan politik domestik dan proses hukum di dalam negeri. Namun dalam waktu singkat, Trump mengubah nada sikapnya dan menyebut Netanyahu sebagai pemimpin yang telah banyak berjasa bagi hubungan kedua negara.
Dari Ragu Menjadi Dukungan Terbuka
Keraguan awal Trump terlihat ketika ia diminta mengomentari situasi politik Israel yang tengah memanas. Alih-alih langsung menyebut nama Netanyahu, Trump memilih berbicara secara umum tentang pentingnya hubungan Washington dan Tel Aviv. Jawaban itu dibaca sebagai isyarat bahwa Gedung Putih tidak ingin terlihat terlalu jauh mencampuri kontestasi internal Israel.
Namun, sikap tersebut tidak bertahan lama. Trump kemudian menyatakan bahwa Netanyahu adalah mitra yang telah membuktikan kesetiaan dalam berbagai kebijakan strategis, mulai dari penataan ulang hubungan kawasan hingga penguatan kerja sama pertahanan. Ia menegaskan bahwa dukungan Amerika Serikat terhadap Israel tidak akan berubah, siapa pun yang memenangi pemilu, tetapi secara pribadi ia mengharapkan Netanyahu tetap berada di kursi kekuasaan.
Perubahan sikap itu dinilai bukan hal yang mengejutkan. Sepanjang masa pemerintahannya, Trump memang tercatat sebagai salah satu presiden Amerika Serikat yang paling akomodatif terhadap agenda politik Netanyahu. Hubungan keduanya terbangun sejak lama dan diperkuat oleh serangkaian keputusan kontroversial yang menguntungkan Israel, antara lain pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem pada 2018.
Rekam Jejak Kebijakan yang Menguntungkan Tel Aviv
Dukungan Trump terhadap Netanyahu tidak hanya bersifat retorik. Pemerintahannya memangkas bantuan kemanusiaan kepada Palestina, menutup kantor perwakilan Organisasi Pembebasan Palestina di Washington, serta menghentikan pendanaan bagi badan PBB yang menangani pengungsi Palestina. Langkah-langkah itu memicu kecaman luas dari dunia internasional, tetapi diterima dengan baik oleh pemerintahan Netanyahu.
Pada 2019, Trump juga mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan yang dicaplok dari Suriah. Keputusan tersebut melanggar konsensus internasional yang telah bertahan selama puluhan tahun dan menjadi salah satu momen paling simbolik dalam hubungan bilateral kedua negara. Bagi Netanyahu, pengakuan itu menjadi modal politik yang kuat di hadapan pemilih domestik.
Kedekatan keduanya juga tampak dalam pendekatan terhadap Iran. Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir 2015 dan menerapkan kembali sanksi ekonomi terhadap Teheran, sebuah kebijakan yang sejalan dengan posisi Netanyahu yang lama menentang kesepakatan tersebut. Kebijakan ini menjadi salah satu pilar utama kerja sama strategis Washington-Tel Aviv di bawah kedua pemimpin.
Tekanan Politik di Dalam Negeri Israel
Dukungan Trump datang pada saat Netanyahu menghadapi ujian politik yang berat. Perdana Menteri Israel itu harus bersaing ketat dengan blok oposisi yang dipimpin mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Benny Gantz. Sejumlah survei menunjukkan elektabilitas Likud dan aliansi oposisi berada dalam kisaran yang berimbang, sehingga dukungan dari luar, terutama dari Washington, dianggap dapat memengaruhi preferensi pemilih.
Selain tekanan elektoral, Netanyahu juga menghadapi proses hukum atas sejumlah dugaan korupsi, termasuk kasus penerimaan hadiah, pengaturan pemberitaan, dan penyalahgunaan wewenang. Ia membantah seluruh tuduhan dan menyebut penyelidikan terhadap dirinya sebagai upaya politik untuk menjatuhkannya. Meski demikian, isu tersebut terus membayangi kampanye dan menjadi bahan serangan utama kubu oposisi.
Dalam konteks itulah dukungan Trump dimaknai sebagai bentuk legitimasi eksternal. Bagi pendukung Netanyahu, pernyataan presiden Amerika Serikat menjadi bukti bahwa sang perdana menteri masih mampu menjaga kepentingan strategis Israel di mata sekutu terpentingnya. Sebaliknya, kubu oposisi menilai dukungan tersebut sebagai intervensi yang tidak pantas dan berpotensi mencederai kedaulatan politik Israel.
Risiko bagi Kedua Pemimpin
Kedekatan Trump dan Netanyahu bukan tanpa konsekuensi. Di Amerika Serikat, sebagian kalangan politik menilai terlalu eratnya ikatan personal antara kedua pemimpin dapat mengaburkan kepentingan nasional Amerika di kawasan. Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat mengkritik sikap Trump yang dianggap mengabaikan dimensi hak asasi manusia dalam kebijakan terhadap Palestina.
Trump sendiri sempat menuai kontroversi ketika mengaitkan dukungan politik dengan loyalitas pemilih Yahudi Amerika. Pernyataan tersebut dikritik oleh berbagai organisasi masyarakat Yahudi di Amerika Serikat karena dianggap mereduksi identitas politik mereka. Isu ini menambah lapisan kerumitan dalam hubungan kedua negara menjelang pemilu Israel.
Bagi Netanyahu, dukungan terbuka dari Gedung Putih memiliki dua sisi. Di satu sisi, dukungan itu memperkuat citra sebagai negarawan yang memiliki akses langsung ke Washington. Di sisi lain, oposisi dapat memanfaatkannya untuk membangun narasi bahwa ia terlalu bergantung pada kekuatan asing dan kurang memperhatikan persoalan domestik, termasuk biaya hidup dan ketimpangan sosial.
Dampak terhadap Peta Politik Kawasan
Terlepas dari dinamika internal Israel, sikap Trump dipastikan tetap menjadi faktor penting dalam perhitungan politik kawasan. Negara-negara Teluk dan sejumlah pemerintahan Arab telah mengubah pendekatan terhadap Israel dalam beberapa tahun terakhir, sebagian terdorong oleh kepentingan menghadapi Iran. Dukungan Amerika Serikat terhadap Netanyahu memperkuat sinyal bahwa Washington tetap menempatkan Israel sebagai poros utama kebijakan Timur Tengahnya.
Di sisi lain, Palestina menilai dukungan tersebut sebagai bentuk keberpihakan yang memperkecil ruang negosiasi. Proses perdamaian yang telah lama mandek semakin sulit dihidupkan kembali ketika salah satu pihak merasa memperoleh dukungan tanpa syarat dari kekuatan global. Kondisi ini diperkirakan tetap menjadi sumber ketegangan, baik di lapangan maupun di forum diplomatik internasional.
Dengan pemilu yang tinggal menghitung hari, pernyataan Trump menjadi salah satu variabel yang patut dicermati. Dukungan dari pemimpin negara adidaya tidak selalu berbanding lurus dengan perolehan suara, tetapi dalam konteks politik Israel yang sangat dipengaruhi isu keamanan dan hubungan luar negeri, sikap Washington tetap memiliki bobot yang signifikan. Kini publik Israel menanti apakah dukungan tersebut cukup untuk mempertahankan Netanyahu di tampuk kekuasaan.
Komentar (0)