22, 2026
Nasional

Setelah Mondok, Ke Mana Santri Melangkah?

Eko Wibowo
Eko Wibowo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Musim kelulusan di pesantren selalu menghadirkan pertanyaan lama yang tak pernah kehilangan relevansi: setelah menamatkan pendidikan di pondok, ke mana para santri akan melangkah? Ribuan santri setiap tahun meninggalkan asrama, meninggalkan rutinitas ngaji subuh hingga malam, dan berhadapan dengan dunia luar yang jauh lebih berisik daripada halaman pesantren. Pilihan yang mereka ambil tidak tunggal, dan tidak lagi sesederhana dulu ketika lulusan pesantren diidentikkan hanya dengan dua jalur: menjadi guru mengaji atau meneruskan estafet kepengasuhan di pondok.

Bekal yang Dibawa, Dunia yang Menanti

Pesantren membekali santri dengan kompetensi yang khas: kemampuan membaca kitab kuning, pemahaman ilmu alat seperti nahwu dan sharaf, kedisiplinan menjalani jadwal harian, serta keterbiasaan hidup sederhana dan bermasyarakat. Namun, ketika berhadapan dengan dunia kerja dan pendidikan tinggi, bekal itu kerap diuji oleh tuntutan yang berbeda, mulai dari kemampuan berbahasa asing, literasi digital, hingga keterampilan teknis yang spesifik.

Kesenjangan itu tidak selalu berarti santri kalah. Banyak lulusan pesantren justru menonjol karena daya tahan belajar dan kemampuan adaptasi yang terbentuk dari ritme pondok yang padat. Persoalannya lebih pada akses informasi dan jaringan, yang di sejumlah pesantren masih terbatas, terutama di daerah dengan infrastruktur pendidikan yang belum merata.

Jalur Pendidikan Tinggi yang Semakin Terbuka

Pilihan paling banyak diambil lulusan pesantren adalah melanjutkan studi. Perguruan tinggi keagamaan Islam negeri menjadi tujuan utama, dengan jalur masuk yang memang dirancang memberi ruang bagi santri, seperti seleksi prestasi akademik, jalur mandiri berbasis hafalan Alquran, dan beasiswa yang bekerja sama dengan pesantren. Program studi yang dipilih pun tidak lagi terbatas pada tafsir, hadis, atau pendidikan agama, melainkan merambah hukum, ekonomi syariah, komunikasi, hingga sains dan teknologi.

Selain itu, sejumlah pesantren kini menyelenggarakan pendidikan tinggi sendiri, baik dalam bentuk ma'had aly, sekolah tinggi, maupun universitas yang dikelola yayasan. Model ini memungkinkan santri melanjutkan tradisi kajian kitab sambil mengambil jalur akademik formal. Bagi yang memilih kampus umum, tantangan tambahan muncul dalam bentuk penyesuaian budaya akademik dan pergaulan yang lebih longgar, sehingga kemampuan menjaga prinsip menjadi bagian dari ujian tersendiri.

Dunia Kerja dan Keterampilan Praktis

Kelompok lain memilih langsung bekerja. Sebagian menjadi tenaga pendidik di madrasah, guru bimbingan baca Alquran, pengajar di lembaga pendidikan nonformal, atau pengurus pesantren. Sebagian lagi masuk ke sektor usaha, perdagangan, dan jasa, sering kali dengan modal keterampilan yang dipelajari secara otodidak setelah keluar dari pondok.

Kebutuhan pasar terhadap lulusan pesantren sebenarnya cukup luas, terutama pada bidang yang menuntut integritas dan pemahaman keagamaan, seperti perbankan syariah, lembaga zakat dan wakaf, penyuluh agama, hingga layanan konsultasi keluarga. Namun, masih ada jarak antara kompetensi santri dan kualifikasi yang diminta dunia industri, khususnya pada penguasaan teknologi dan sertifikasi profesional. Di sinilah peran pesantren dan pemerintah diuji: apakah bekal keilmuan cukup, atau perlu dilengkapi dengan pelatihan keterampilan yang relevan.

Santripreneur dan Kemandirian Ekonomi

Dalam beberapa tahun terakhir, tumbuh geliat kewirausahaan di kalangan santri dan alumni. Banyak pesantren mengembangkan unit usaha, koperasi, minimarket, pertanian, hingga usaha kuliner yang dikelola santri sebagai sarana latihan berdagang. Program inkubasi bisnis dan pelatihan kewirausahaan juga makin sering menyasar komunitas pesantren, dengan asumsi bahwa kemandirian ekonomi akan memperkuat kemandirian lembaga pendidikan itu sendiri.

Bagi alumni, berdagang sering menjadi jalan tengah: tetap dekat dengan masyarakat, tetap bisa mengajar mengaji, sekaligus memperoleh penghasilan. Tantangannya adalah akses permodalan, literasi keuangan, dan pendampingan usaha yang berkelanjutan, yang belum merata dirasakan di semua daerah.

Jalur Dakwah dan Pengabdian

Tidak sedikit santri yang memilih jalan pengabdian: menjadi dai di daerah terpencil, pengajar di lembaga pendidikan Islam, relawan lembaga sosial keagamaan, atau penggerak kegiatan masyarakat. Jalur ini menuntut ketahanan mental karena imbalan materialnya sering tidak sebanding dengan beban kerja. Namun, di banyak komunitas, kehadiran alumni pesantren menjadi tulang punggung kegiatan keagamaan, mulai dari majelis taklim hingga pendidikan anak-anak.

Sejumlah program pemerintah dan lembaga filantropi memberi ruang bagi alumni pesantren untuk terlibat dalam penguatan layanan sosial, misalnya sebagai pendamping keagamaan di daerah rawan konflik atau wilayah dengan akses pendidikan terbatas. Keterlibatan itu memperlihatkan bahwa peran santri tidak berhenti di masjid, tetapi menyentuh persoalan sosial yang lebih luas.

Pengakuan Formal dan Tantangan Struktural

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren memberi landasan pengakuan bagi lulusan pesantren, termasuk kesetaraan hak dalam melanjutkan pendidikan dan mengakses lapangan kerja. Namun, implementasinya di lapangan belum sepenuhnya mulus. Sebagian pemberi kerja masih mempersoalkan bentuk ijazah dan kesetaraan kompetensi, sementara sebagian pesantren belum siap memenuhi persyaratan administratif yang dibutuhkan.

Selain itu, kesenjangan antara pesantren besar dengan pesantren kecil di daerah masih lebar, terutama dalam hal akses informasi beasiswa, jaringan kerja sama, dan fasilitas pelatihan. Kebijakan yang baik di tingkat pusat belum tentu sampai ke pesantren di pelosok dengan kapasitas pengelolaan yang terbatas.

Menakar Masa Depan

Pertanyaan tentang ke mana santri melangkah sejatinya bukan hanya soal pilihan individu, tetapi juga soal seberapa siap ekosistem pendidikan, dunia kerja, dan kebijakan publik menerima mereka. Pesantren telah membuktikan kemampuan bertahan dan beradaptasi selama berabad-abad, tetapi tantangan hari ini menuntut lebih dari itu: kemampuan menyiapkan lulusan yang teguh dalam ilmu agama sekaligus cakap menghadapi tuntutan zaman.

Bagi para santri, langkah setelah mondok adalah soal memilih dengan sadar, bukan sekadar mengikuti arus. Bagi pesantren, ini soal keberanian membuka diri terhadap keterampilan baru tanpa kehilangan jati diri. Dan bagi negara, ini soal memastikan bahwa setiap jalur yang dipilih lulusan pesantren mendapat ruang yang setara, baik di kampus, di pasar kerja, maupun di tengah masyarakat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eko Wibowo

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter