30, 2026
Teknologi

Status Gunung Api Anak Krakatau Resmi Turun Jadi Level II atau Waspada

Badan Geologi menurunkan status Gunung Api Anak Krakatau dari Siaga (Level III) menjadi Waspada (Level II) mulai 21 September 2026.]]>

Rizal Fahmi
Rizal Fahmi Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Status Gunung Api Anak Krakatau Resmi Turun Jadi Level II atau Waspada

Status Gunung Api Anak Krakatau Resmi Turun Jadi Level II atau Waspada

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi menurunkan status Gunung Api Anak Krakatau dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada Rabu (15/3/2023). Keputusan ini diambil setelah hasil pemantauan selama beberapa menunjukkan adanya penurunan aktivitas vulkanik gunung yang berada di perairan Selat Sunda ini.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Gempa Bumi (PVMBG) Hendra Gunawan mengatakan bahwa penurunan status dilakukan setelah terjadi penurunan signifikan pada parameter-parameter vulkanik. "Kami telah memantau aktivitas Anak Krakatau secara intensif selama beberapa pekan terakhir. Hasilnya, frekuensi gempa vulkanik, gempa tektonik, dan getaran harmonis mengalami penurunan yang signifikan," ujar Hendra dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara virtual.

Parameter Pemantauan Menunjukkan Penurunan Aktivitas

Menurut PVMBG, beberapa parameter yang menjadi dasar penurunan status tersebut antara lain frekuensi gempa vulkanik yang turun dari rata-rata 30-40 kali/hari menjadi 5-10 kali/hari. Selain itu, amplitudo getaran vulkanik juga menunjukkan penurunan dari 10-20 mm menjadi 3-5 mm. Tinggi asap yang keluar dari kawah juga mengalami penurunan dari rata-rata 200-500 meter menjadi 100-300 meter di atas puncak.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan di dalam kawah sudah berkurang dan aktivitas magma sudah lebih stabil. Namun, kami tetap waspada karena potensi erupsi masih ada," jelas Hendra.

Kondisi Terkini Anak Krakatau

Sejak terjadi letusan dahsyat pada tahun 2018 yang mengakibatkan tsunami dan menewaskan ratusan orang, aktivitas Anak Krakatau terus dipantau secara intensif. Gunung api ini terus mengalami proses pertumbuhan dan aktivitas vulkanik yang bervariasi.

Saat ini, tinggi Gunung Api Anak Krakatau diperkirakan mencapai 338 meter di atas permukaan laut. Dari pantauan visual, terlihat bahwa warna asap yang keluar dari kawah berwarna putih dengan intensitas rendah. Tidak ada laporan adahan material pijar yang keluar dari kawah dalam beberapa pekan terakhir.

Wilayah Aman Tetap Ditetapkan

Meskipun status telah diturunkan, pihak berwenang tetap menetapkan zona aman di sekitar Gunung Api Anak Krakatau. PVMBG menetapkan zona bahaya dalam radius 2 kilometer dari puncak gunung sebagai area terlarang bagi aktivitas apapun.

"Meskipun status turun, kami tetap menyarankan masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekat ke area dalam radius 2 kilometer dari puncak Anak Krakatau. Potensi erupsi masih bisa terjadi kapan saja meskipun frekuensinya sudah berkurang," tambah Hendra.

Upaya Mitasi dan Pengawasan Terus Dilakukan

Pemerintah melalui BNPB dan PVMBG terus melakukan berbagai upaya mitigasi bencana gunung api di sekitar Anak Krakatau. Salah satunya adalah dengan meningkatkan sistem pemantauan menggunakan seismograf, deformasi, dan parameter vulkanik lainnya.

"Kami juga terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat di sekitar pulau Krakatau tentang bahaya potensi erupsi dan bagaimana cara bersiap menghadapinya. Selain itu, kami juga mempersiapkan alat-alat evakuasi dan pusko darurat jika sewaktu-waktu diperlukan," ujar Kepala BNPG Suharyanto.

Rencana Pembangunan Sistem Peringatan Dini

Untuk meningkatkan kesiapan menghadapi bencana gunung api di masa depan, pemerintah berencana membangun sistem peringatan dini yang lebih canggih di sekitar Anak Krakatau. Rencananya, sistem ini akan dilengkapi dengan sensor-sensor modern yang dapat mendeteksi perubahan aktivitas vulkanik secara real time.

"Sistem peringatan dini ini akan terhubung dengan pusat pemantauan pusat di Jakarta sehingga informasi tentang aktivitas gunung api dapat segera disampaikan kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat," jelas Suharyanto.

Peran Masyarakat dalam Pengawasan

PNBPG juga mengajak masyarakat untuk turut serta dalam pengawasan aktivitas gunung api. Masyarakat di sekitar kawasan Anak Krakatau diminta untuk melaporkan setiap perubahan kondisi yang mereka amati, seperti gempa bumi yang dirasakan, bunyi letusan, atau perubahan cuaca yang tidak biasa.

"Informasi dari masyarakat sangat penting bagi kami untuk memantau perkembangan aktivitas gunung api. Dengan demikian, kami bisa lebih cepat merespon jika ada potensi bahaya," pungkas Hendra.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizal Fahmi

Menulis review produk kesehatan, suplemen, dan teknologi wearables.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter