30, 2026
Nasional

Sudah Kecanduan AI, Banyak Anak Sekolah Prestasinya Menurun

Hasil PISA 2025 menunjukkan penurunan kemampuan akademis siswa di negara-negara OECD, terutama dalam membaca dan matematika.]]>

Dimas Permana
Dimas Permana Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Sudah Kecanduan AI, Banyak Anak Sekolah Prestasinya Menurun

Kecanduan AI di Kalangan Pelajar Picu Penurunan Prestasi Akademik

Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kalangan anak sekolah semakin mengkhawatirkan. Sejumlah pendidik dan psikolog mencatat fenomena baru berupa ketergantungan terhadap teknologi AI yang berdampak langsung pada menurunnya prestasi akademik siswa. Ketergantungan ini tidak hanya terjadi pada jenjang pendidikan menengah, tetapi juga mulai merambah siswa sekolah dasar.

Fenomena tersebut muncul seiring makin mudahnya akses terhadap berbagai platform AI generatif yang mampu menjawab pertanyaan, mengerjakan tugas, hingga menyusun esai dalam hitungan detik. Kemudahan ini membuat sebagian siswa mengalihkan proses belajar yang seharusnya menuntut pemikiran kritis menjadi sekadar menyalin jawaban tanpa memahami materi.

Pola Ketergantungan yang Mengkhawatirkan

Berdasarkan pengamatan sejumlah guru, siswa yang kecanduan AI umumnya menunjukkan pola belajar yang pasif. Mereka cenderung langsung membuka aplikasi AI begitu mendapat tugas, alih-alih membaca buku atau mencoba menyelesaikan soal secara mandiri. Akibatnya, kemampuan analisis, penalaran, dan pemecahan masalah tidak terasah dengan baik.

Gejala ketergantungan ini juga tampak dari perilaku sehari-hari. Banyak siswa merasa gelisah ketika tidak dapat mengakses perangkat atau jaringan internet. Mereka mengaku sulit berkonsentrasi saat harus mengerjakan ujian tertulis tanpa bantuan AI. Sebagian bahkan mengalami penurunan motivasi belajar karena terbiasa mendapatkan jawaban instan.

Psikolog pendidikan menilai kondisi ini sebagai bentuk baru kecanduan teknologi yang perlu mendapat perhatian serius. Berbeda dengan kecanduan gim atau media sosial, ketergantungan AI sering kali tidak disadari karena dibungkus dengan alasan produktivitas dan efisiensi belajar.

Dampak terhadap Nilai dan Kemampuan Berpikir

Dampak paling terlihat adalah penurunan nilai pada sejumlah mata pelajaran, terutama yang menuntut kemampuan literasi dan numerasi. Guru melaporkan bahwa siswa yang terbiasa mengandalkan AI kerap gagal menjawab soal yang membutuhkan langkah berpikir bertahap. Mereka mampu menyalin jawaban akhir, tetapi tidak memahami proses untuk sampai pada jawaban tersebut.

Selain nilai akademik, kemampuan menulis juga mengalami kemunduran. Siswa kehilangan kemampuan menyusun argumen secara runtut karena terbiasa menyerahkan tugas menulis kepada AI. Kosa kata yang dikuasai pun cenderung stagnan karena tidak terlatih melalui proses membaca dan menulis mandiri.

Yang tidak kalah penting adalah aspek kejujuran akademik. Penggunaan AI untuk mengerjakan tugas tanpa pengawasan membuka celah terjadinya plagiarisme. Sejumlah sekolah mengaku kesulitan mendeteksi apakah sebuah karya benar-benar hasil pemikiran siswa atau hasil generasi mesin.

Respons Sekolah dan Orang Tua

Menghadapi persoalan ini, sejumlah sekolah mulai menerapkan aturan pembatasan penggunaan perangkat digital di kelas. Beberapa di antaranya mengembalikan metode ujian tulis konvensional dan memperbanyak tugas berbasis diskusi serta presentasi lisan. Langkah ini diambil untuk memastikan siswa benar-benar memahami materi.

Para guru juga didorong untuk merancang pembelajaran yang mendorong berpikir kritis, misalnya melalui proyek penelitian sederhana yang menuntut siswa mencari sumber, mengolah data, dan menyusun kesimpulan sendiri. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar melarang penggunaan teknologi.

Di sisi lain, orang tua diminta lebih aktif mendampingi anak dalam menggunakan perangkat digital. Pengawasan tidak hanya soal durasi pemakaian, tetapi juga pemahaman mengenai tujuan penggunaan AI. Anak perlu diajarkan bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti proses berpikir.

Sejumlah pakar menyarankan adanya literasi digital yang menyeluruh di sekolah. Literasi ini mencakup pemahaman mengenai cara kerja AI, keterbatasan teknologi tersebut, serta risiko etis yang menyertainya. Dengan pemahaman yang baik, siswa diharapkan mampu memanfaatkan AI secara bijak tanpa kehilangan kemampuan berpikir mandiri.

Ancaman Jangka Panjang bagi Kualitas Generasi

Jika tidak ditangani dengan serius, ketergantungan AI pada anak sekolah berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Generasi yang terbiasa bergantung pada jawaban instan dikhawatirkan kehilangan daya saing, terutama dalam menghadapi dunia kerja yang menuntut kreativitas, penalaran kritis, dan kemampuan memecahkan masalah kompleks.

Karena itu, diperlukan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan pembuat kebijakan untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang seimbang. Teknologi tetap dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran, tetapi harus diimbangi dengan penanaman nilai disiplin, kejujuran akademik, dan kemandirian berpikir. Tanpa langkah nyata, kemudahan yang ditawarkan AI justru dapat menjadi bumerang bagi masa depan generasi muda.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dimas Permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter