30, 2026
Nasional

Sudah Tidur 8 Jam tapi Tetap Lelah? Ini Kebiasaan Sederhana yang Bikin Lebih Nyenyak

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2025/10/14/68ee47be10891-ilustrasi-tidur_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Taufik Syahputra
Taufik Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Sudah Tidur 8 Jam tapi Tetap Lelah? Ini Kebiasaan Sederhana yang Bikin Lebih Nyenyak

Tidur selama delapan jam kerap dianggap sebagai standar ideal untuk mendapatkan istirahat yang cukup. Namun, banyak orang masih merasa lelah dan mengantuk keesokan harinya meski telah menghabiskan waktu delapan jam di tempat tidur. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: mengapa durasi tidur yang cukup tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas istirahat yang diperoleh?

Para ahli kesehatan tidur menilai bahwa kualitas tidur tidak semata ditentukan oleh jumlah jam. Ada sejumlah faktor yang memengaruhi seberapa nyenyak seseorang beristirahat, mulai dari kebiasaan sebelum tidur, kondisi lingkungan kamar, hingga pola aktivitas harian. Sejumlah kebiasaan sederhana yang sering diabaikan justru berperan besar dalam menentukan apakah tidur delapan jam benar-benar memulihkan energi tubuh.

Durasi Bukan Satu-satunya Tolok Ukur

Menurut sejumlah penelitian di bidang kedokteran tidur, kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda. Meski delapan jam sering dijadikan patokan umum, sebagian orang mungkin memerlukan waktu lebih sedikit atau lebih banyak. Yang lebih penting adalah siklus tidur yang dilalui, khususnya tahap tidur dalam (deep sleep) dan tidur dengan gerakan mata cepat (REM sleep), yang berperan penting dalam pemulihan fisik dan mental.

Jika seseorang sering terbangun di malam hari, sulit masuk ke tahap tidur dalam, atau mengalami gangguan pernapasan saat tidur, durasi delapan jam tidak akan memberikan efek pemulihan yang optimal. Akibatnya, tubuh tetap terasa lemas dan konsentrasi menurun pada keesokan hari.

Kebiasaan Sebelum Tidur yang Perlu Diperhatikan

Salah satu kebiasaan yang paling berpengaruh adalah penggunaan gawai atau perangkat elektronik sebelum tidur. Cahaya biru yang dipancarkan layar ponsel, tablet, atau komputer dapat menghambat produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh mengatur siklus tidur. Ketika melatonin terhambat, seseorang cenderung lebih sulit tertidur dan kualitas tidurnya menurun.

Selain itu, mengonsumsi kafein atau makanan berat mendekati waktu tidur juga dapat mengganggu proses istirahat. Kafein memiliki efek stimulan yang bertahan hingga beberapa jam di dalam tubuh, sementara makanan berat memaksa sistem pencernaan bekerja lebih keras sehingga tubuh sulit beristirahat dengan tenang.

Lingkungan Kamar yang Mendukung Istirahat

Kondisi kamar turut menentukan kualitas tidur. Suhu ruangan yang terlalu panas atau terlalu dingin, cahaya yang terlalu terang, serta suara bising dapat membuat tidur menjadi tidak nyenyak. Para ahli merekomendasikan agar kamar tidur dijaga tetap gelap, sejuk, dan tenang. Penggunaan tirai tebal, penutup mata, atau penyumbat telinga dapat menjadi solusi bagi mereka yang tinggal di lingkungan padat dan bising.

Kasur dan bantal yang tidak sesuai juga bisa menjadi penyebab tidur tidak berkualitas. Alas tidur yang terlalu keras atau terlalu lembut dapat membuat posisi tubuh tidak nyaman dan memicu terbangun tengah malam tanpa disadari.

Pola Aktivitas Harian dan Stres

Aktivitas fisik harian berpengaruh terhadap kualitas tidur. Olahraga teratur terbukti membantu tubuh lebih mudah masuk ke fase tidur nyenyak. Namun, berolahraga terlalu dekat dengan waktu tidur justru dapat membuat tubuh tetap terjaga karena meningkatnya denyut jantung dan suhu tubuh. Waktu terbaik untuk berolahraga adalah pagi atau sore hari.

Stres dan kecemasan juga menjadi faktor utama yang membuat tidur tidak berkualitas. Pikiran yang terus aktif memikirkan pekerjaan atau masalah pribadi membuat otak sulit masuk ke mode istirahat. Menulis jurnal, melakukan pernapasan dalam, atau meditasi sebelum tidur dapat membantu menenangkan pikiran.

Membangun Rutinitas Tidur yang Konsisten

Kunci lain yang sering diabaikan adalah konsistensi jadwal tidur. Tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, termasuk akhir pekan, membantu tubuh mengatur ritme sirkadian atau jam biologis internal. Ketika ritme ini terjaga, tubuh akan lebih mudah merasa mengantuk pada waktu yang tepat dan bangun dengan kondisi lebih segar.

Mandi air hangat, membaca buku, atau mendengarkan musik lembut sebelum tidur juga dapat menjadi sinyal bagi tubuh bahwa waktu istirahat telah tiba. Sebaliknya, aktivitas yang merangsang seperti bekerja atau menonton tayangan menegangkan sebaiknya dihindari mendekati waktu tidur.

Kapan Perlu Mencari Bantuan Medis

Jika seseorang telah memperbaiki kebiasaan tidur namun tetap merasa lelah meski sudah tidur cukup, ada kemungkinan gangguan tidur seperti sleep apnea, insomnia kronis, atau gangguan kesehatan lain menjadi penyebabnya. Dalam kondisi seperti ini, konsultasi dengan dokter atau spesialis tidur diperlukan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Kelelahan berkepanjangan yang tidak kunjung membaik sebaiknya tidak diabaikan. Selain menurunkan produktivitas, kurang tidur berkualitas dalam jangka panjang dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan, termasuk gangguan jantung, diabetes, dan penurunan fungsi kognitif.

Pada akhirnya, tidur yang berkualitas adalah hasil dari kombinasi durasi yang cukup, kebiasaan yang sehat, lingkungan yang mendukung, serta pengelolaan stres yang baik. Memperbaiki kebiasaan sederhana secara konsisten menjadi langkah awal yang efektif untuk mendapatkan istirahat yang benar-benar memulihkan energi.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Taufik Syahputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter