03, 2026
Teknologi

Tanpa Gerakkan Tangan, Kursi Roda Ini Melaju Pakai Sinyal Otak

Kursi roda kendali sinyal otak AiMOGA BCI juara di kompetisi brain-computer interface 2026 Hangzhou. Simak cara kerja EEG 8 kanal dan klaim akurasinya.]]>

Dian Gunawan
Dian Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Tanpa Gerakkan Tangan, Kursi Roda Ini Melaju Pakai Sinyal Otak

Kursi Roda Kendali Sinyal Otak Dikembangkan Peneliti

Terobosan baru dalam bidang teknologi asistif kembali mencuri perhatian dunia ilmiah. Sekelompok peneliti mengembangkan kursi roda yang dapat digerakkan hanya dengan sinyal otak, tanpa memerlukan gerakan tangan, sentuhan, maupun perintah suara. Teknologi ini membuka harapan baru bagi penyandang disabilitas motorik berat, termasuk mereka yang mengalami kelumpuhan total akibat cedera sumsum tulang belakang atau penyakit degeneratif saraf.

Konsep kursi roda kendali pikiran sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Namun, berbagai prototipe sebelumnya masih menghadapi keterbatasan serius, mulai dari respons yang lambat, tingkat akurasi rendah, hingga kebutuhan perangkat keras yang rumit dan mahal. Perkembangan terbaru menawarkan pendekatan yang lebih praktis, efisien, dan berpotensi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Cara Kerja Sistem Antarmuka Otak-Komputer

Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan teknologi antarmuka otak-komputer atau brain-computer interface (BCI). Pengguna mengenakan perangkat elektroda yang dipasang di kulit kepala, umumnya berupa headset electroencephalogram (EEG) non-invasif. Elektroda tersebut menangkap aktivitas listrik yang dihasilkan神经元 atau sel saraf di otak ketika pengguna membayangkan suatu gerakan tertentu.

Misalnya, ketika pengguna membayangkan menggerakkan tangan kanan, pola sinyal listrik otak yang terbaca akan berbeda dibandingkan saat membayangkan menggerakkan kaki kiri. Pola sinyal inilah yang kemudian diterjemahkan oleh algoritma pembelajaran mesin menjadi perintah navigasi, seperti maju, mundur, belok kiri, atau belok kanan.

Yang menarik, pengguna tidak perlu benar-benar menggerakkan anggota tubuh. Cukup dengan membayangkan gerakan tersebut, sistem akan mengenali niat dan mengubahnya menjadi instruksi bagi motor kursi roda. Proses ini berlangsung dalam hitungan milidetik hingga beberapa detik, tergantung pada kompleksitas algoritma dan kecepatan pemrosesan perangkat.

Pelatihan dan Adaptasi Pengguna

Agar sistem dapat bekerja optimal, pengguna biasanya menjalani sesi pelatihan awal. Pada tahap ini, algoritma mempelajari pola sinyal otak khas setiap individu, karena setiap orang memiliki karakteristik gelombang otak yang berbeda. Setelah model terbentuk, pengguna dapat mulai mengendalikan kursi roda secara mandiri dengan tingkat akurasi yang terus meningkat seiring latihan.

Beberapa penelitian juga mengintegrasikan sistem berbagi kendali atau shared control. Dalam mode ini, kecerdasan buatan membantu menyaring perintah yang ambigu dan mencegah tabrakan dengan rintangan di sekitar. Pendekatan ini penting untuk menjaga keamanan pengguna, terutama saat berada di lingkungan ramai atau medan yang tidak rata.

Tantangan yang Masih Dihadapi

Meski menjanjikan, teknologi kursi roda kendali otak masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keandalan sinyal EEG yang rentan terganggu oleh noise, seperti gerakan otot, kedipan mata, atau aktivitas listrik dari perangkat elektronik di sekitar. Hal ini dapat menyebabkan kesalahan interpretasi perintah yang berpotensi berbahaya.

Selain itu, waktu respons sistem BCI umumnya masih lebih lambat dibandingkan kontrol manual menggunakan joystick. Bagi pengguna yang membutuhkan navigasi cepat dan presisi, keterbatasan ini menjadi kendala nyata. Peneliti terus berupaya meningkatkan kecepatan pemrosesan dan akurasi klasifikasi sinyal melalui pengembangan algoritma deep learning yang lebih canggih.

Faktor lain adalah kenyamanan perangkat. Headset EEG yang dipakai dalam waktu lama dapat menimbulkan ketidaknyamanan, iritasi kulit, atau kelelahan bagi pengguna. Beberapa tim peneliti mulai mengembangkan elektroda kering yang lebih nyaman, bahkan ada yang mengeksplorasi implan mikro yang ditanamkan langsung di otak untuk mendapatkan sinyal yang lebih jernih, meski pendekatan invasif ini menimbulkan pertimbangan etis dan medis tersendiri.

Potensi Penerapan di Masa Depan

Ke depan, teknologi ini tidak hanya berpotensi membantu penyandang disabilitas, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk rehabilitasi pasien pasca-stroke. Dengan melatih kembali koneksi saraf melalui umpan balik langsung, pasien dapat mempercepat pemulihan fungsi motorik mereka. Selain itu, integrasi dengan rumah pintar memungkinkan pengguna mengendalikan lampu, pintu, atau perangkat elektronik lain hanya dengan pikiran.

Meskipun masih dalam tahap penelitian dan pengembangan, arah teknologi ini menunjukkan bahwa batas antara manusia dan mesin semakin tipis. Kursi roda kendali sinyal otak bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, melainkan langkah nyata menuju kemandirian bagi mereka yang selama ini bergantung pada bantuan orang lain untuk berpindah tempat. Dengan riset yang terus berlanjut, bukan tidak mungkin teknologi ini akan tersedia secara luas dan terjangkau dalam beberapa tahun mendatang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Gunawan

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter