Anies Baswedan Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku terdampak abu vulkanik yang berasal dari Gunung Anak Krakatau. Abu vulkanik tersebut menyebabkan kondisi udara di Jakarta dan sekitarnya menjadi buruk, bahkan hingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari termasuk Anies sendiri.
Menurut Anies, abu vulkanik yang berasal dari letusan Anak Krakatau pada Sabtu (3/2/2024) cukup signifikan hingga membuat udara di Jakarta menjadi kental. Abu vulkanik tersebut bahkan masuk ke dalam mobil dinasnya, menyebabkan kondisi mobil menjadi berdebu.
"Tadi saya lihat di mobil dinas saya, ada tulisan 'tolong bersihkan'. Mungkin itu dari abu yang menempel," ujar Anies seusai menghadiri apel di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin (5/2/2024).
Anies menjelaskan bahwa abu vulkanik dari Anak Krakatau tersebut telah menjangkau Jakarta sejak Sabtu malam. Kondisi udara yang buruk ini terus berlanjut hingga Senin pagi, meskipun sudah mulai membaik.
"Kemarin malam Jakarta masih kena abu. Tapi Alhamdulillah pagi ini udara sudah mulai bersih," jelasnya.
Anies menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi dampak abu vulkanik tersebut. Salah satunya dengan menyediakan masker gratis bagi warga yang membutuhkan.
"Kita sudah siapkan masker untuk warga. Karena abu ini bisa berbahaya jika terhirup dalam jumlah banyak," ujarnya.
Penyebab Abu Vulkanik
Abu vulkanik yang melanda Jakarta dan sekitarnya berasal dari Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda. Letusan kecil terjadi pada Sabtu (3/2/2024) dan menyebabkan material vulkanik termasuk abu terbawa angin hingga ke Jakarta.
"Letusan Anak Krakatau ini masih dalam kategori letusan kecil. Tapi karena letusan terjadi dari laut, abu bisa terbawa lebih jauh oleh angin," jelas Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Gempa Bumi (PVMBG) Gunung Anak Krakatau, Hendra Gunawan.
Hendra menjelaskan bahwa arah angin saat itu memang mengarah ke barat laut, sehingga abu vulkanik dapat menjangkau Jakarta dan sekitarnya.
"Kondisi ini berpotensi terjadi lagi jika ada letusan lebih besar dari Anak Krakatau. Kita tetap waspada dan pantau perkembangannya," tambahnya.
Dampak bagi Kesehatan
Dampak abu vulkanik terhadap kesehatan sangat bergantung pada konsentrasi dan ukuran partikelnya. Partikel abu yang berukuran kecil (PM2.5) dapat masuk ke saluran pernafasan dalam dan berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan.
Widyastuti menyarankan warga untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Selain itu, warga juga disarankan untuk lebih sering membersihkan permukaan yang terkena abu.
Upaya Pemerintah
Sebagai respons terhadap kondisi ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan sejumlah upaya. Selain menyediakan masker, pemerintah juga melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala.
Selain itu, pemerintah juga telah mengimbau sekolah-sekolah untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan jika kualitas udara buruk. Beberapa sekolah bahkan memilih untuk mengadakan pembelajaran daring untuk sementara waktu.
Warga Jakarta diminta tetap waspada dan mengikuti arahan dari pemerintah. Kualitas udara diharapkan akan kembali normal dalam beberapa hari kecuali ada letusan tambahan dari Anak Krakatau.
Komentar (0)