30, 2026
Nasional

Terganggu Abu Anak Krakatau, CFD Jakarta Berakhir Lebih Awal

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Terganggu Abu Anak Krakatau, CFD Jakarta Berakhir Lebih Awal

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan menghentikan lebih awal pelaksanaan Car Free Day (CFD) di sepanjang Jalan MH Thamrin dan Jalan Sudirman pada Minggu (25/2/2024). Keputusan tersebut diambil akibat kondisi kualitas udara yang buruk disebabkan oleh hujan abu dari letusan Gunung Anak Krakatau.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Agustino, mengatakan bahwa pihaknya secara rutin memantau kualitas udara di ibu kota. Menurut data yang mereka dapatkan, partikulat PM10 di beberapa titik di Jakarta telah mencapai tingkat yang tidak sehat.

"Kami mendeteksi bahwa konsentrasi PM10 di beberapa titik monitoring udara di Jakarta telah melebihi standar baku," ujar Agustino dalam keterangannya, Minggu (25/2/2024).

CFD yang biasanya berlangsung dari pukul 06.00 hingga 10.00 WIB tersebut, pada Minggu ini baru berlangsung hingga pukul 08.00 WIB. Penutupan ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak buruk bagi kesehatan masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi CFD.

Kondisi Kualitas Udara Jakarta Buruk

Menurut data yang dirilis oleh DLH DKI Jakarta, konsentrasi PM10 di beberapa titik di Jakarta pada Minggu pagi mencapai 118-132 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka ini jauh di atas ambang batas baku yang ditetapkan pemerintah, yaitu 75 µg/m³ untuk 24 jam.

"Kondisi ini berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru-paru," jelas Agustino.

Sumber polusi udara ini berasal dari letusan Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Sabtu (24/2/2024) malam. Menurut Badan Geologi dan Mineral Nasional (ESDM), letusan tersebut menghasilkan kolom abu setinggi 500 meter di atas puncak gunung.

Abu vulkanik dari Anak Krakatau terbawa angin dan menyebar ke beberapa wilayah di Banten dan Jawa Barat, termasuk Jakarta. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas udara di ibu kota.

Reaksi Masyarakat

Beberapa warga yang biasa berolahraga di jalur CFD menyatakan kekecewaannya atas penutupan yang lebih awal. Mereka mengaku sudah datang sejak pagi untuk menikmati suasana tanpa kendaraan bermotor.

"Saya agak kecewa karena sudah datang pagi-pagi tapi ternyata CFD ditutup lebih awal. Tapi paham juga, karena memang udaranya agak tidak enak," kata Budi, seorang warga Jakarta Pusat yang biasa berjalan kaki di jalur CFD.

Sementara itu, beberapa pengendara yang menggunakan sepeda juga harus berbalik arah sebelum sempat menikmati jalur CFD yang biasanya ramai digunakan untuk beraktivitas olahraga.

Tanggapan Pemerintah

Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta juga telah meminta masyarakat untuk mengantisipasi dampak buruk dari kualitas udara yang tidak sehat tersebut. Mereka disarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan.

Pihak berwenang juga telah mempersiapkan fasilitas kesehatan di puskesmas sekitar untuk menangani dampak kesehatan akibat paparan partikulat udara. Warga yang mengalami gejala seperti batuk, sesak napas, atau iritasi mata disarankan untuk segera mencari bantuan medis.

Prospek Kualitas Udara

Menurut prakiraan BMKG, hujan abu dari Anak Krakatau diperkirakan akan terus berdampak pada kualitas udara di Jakarta hingga Senin (26/2/2024). Pihak DLH DKI Jakarta akan terus memantau perkembangan kualitas udara dan akan memberikan informasi terbaru jika ada perubahan.

"Kami akan terus memantau perkembangan kualitas udara. Jika kondisinya membaik, kami akan kembali melaksanakan CFD pada minggu-minggu ke depan sesuai jadwal," pungkas Agustino.

CFD merupakan program rutin Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang bertujuan untuk mengurangi polusi udara di Jakarta dengan memberikan waktu bagi warga untuk beraktivitas olahraga tanpa kendaraan bermotor. Program ini biasanya dilaksanakan setiap Minggu pagi di sepanjang Jalan MH Thamrin dan Jalan Sudirman.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter