19, 2026
Ekonomi

Terinspirasi Doraemon, Pria Ini Bangun Bisnis Robot Rp 54 Triliun

Terinspirasi ketertarikannya semasa kecil pada Doraemon, Alex Zhou membangun Linkerbot menjadi produsen tangan robotik luwes terbesar kedua di China.]]>

Dewi Lestari
Dewi Lestari Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Terinspirasi Doraemon, Pria Ini Bangun Bisnis Robot Rp 54 Triliun

Nama Zhou Jian mungkin tidak sepopuler tokoh kartun yang menginspirasinya. Namun pria asal Tiongkok itu kini diperhitungkan sebagai salah satu pengusaha robot paling berpengaruh di dunia. Perusahaan yang ia dirikan, UBTech Robotics, tumbuh dari sebuah proyek kecil di Shenzhen menjadi salah satu pemain utama industri robot humanoid global, dengan nilai bisnis yang disebut menembus sekitar Rp 54 triliun.

Di balik angka itu, ada cerita masa kecil yang sederhana: seorang anak yang tumbuh dengan tontonan animasi Jepang tentang robot kucing biru dari abad ke-22 yang membantu seorang bocah sekolah bernama Nobita. Bagi banyak anak, Doraemon hanyalah hiburan. Bagi Zhou Jian, tokoh itu menjadi cetak biru imajinasi tentang mesin yang bisa hidup berdampingan dengan manusia dan membantu pekerjaan sehari-hari.

Dari Layar Televisi ke Laboratorium

Zhou Jian lahir pada pertengahan 1970-an, ketika televisi mulai masuk ke rumah-rumah di Tiongkok dan animasi impor menjadi tontonan yang dinanti anak-anak. Dalam sejumlah wawancara, ia mengaku terobsesi dengan gagasan menghadirkan robot yang bukan sekadar mainan, melainkan perangkat yang mampu bergerak, berbicara, dan mengambil keputusan.

Ketertarikan itu membawanya menempuh pendidikan di bidang teknik. Setelah menyelesaikan studi, ia bekerja sebagai insinyur dan sempat mendalami teknologi di Jepang, negara yang menjadi rumah bagi robot-robot humanoid paling maju pada era itu. Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa robot tidak harus tinggal di pabrik sebagai lengan mekanis, tetapi bisa masuk ke ruang keluarga, sekolah, dan rumah sakit.

Lahirnya UBTech Robotics

Pada 2012, Zhou Jian mendirikan UBTech Robotics di Shenzhen, kota yang saat itu tengah bertransformasi menjadi pusat manufaktur elektronik dunia. Modal awalnya tidak besar. Bersama sejumlah rekannya, ia memulai dari komponen yang tampak sederhana: servo, motor penggerak kecil yang menjadi jantung setiap gerakan robot.

Keputusan menguasai komponen inti secara mandiri menjadi salah satu faktor yang kemudian membedakan UBTech dari perusahaan robot lain. Dengan memproduksi sendiri aktuator dan sistem penggeraknya, perusahaan mampu menekan biaya sekaligus mempercepat siklus pengembangan produk.

Dari Robot Edukasi ke Humanoid

Produk pertama yang mengangkat nama UBTech adalah robot edukasi seri Alpha, yang dirancang untuk memperkenalkan pemrograman kepada anak-anak. Lini itu disusul robot layanan seperti Cruzr, yang dipakai di bandara, mal, dan rumah sakit untuk menyambut serta mengarahkan pengunjung.

Namun ambisi terbesar Zhou Jian tetap pada robot humanoid. Perusahaan mengembangkan seri Walker, robot berkaki dua yang dirancang menyerupai bentuk tubuh manusia agar bisa beroperasi di lingkungan yang dibangun untuk manusia, mulai dari tangga hingga pintu. Generasi terbaru, Walker S, diarahkan untuk kebutuhan industri, termasuk inspeksi dan pemindahan komponen di lini perakitan pabrik otomotif.

Valuasi Rp 54 Triliun dan Langkah ke Bursa

Perjalanan UBTech tidak lepas dari dukungan investor besar. Sejumlah nama seperti Tencent dan sejumlah dana investasi terkemuka tercatat pernah menanamkan modal di perusahaan ini. Suntikan dana tersebut memungkinkan UBTech memperluas riset, merekrut insinyur, dan membangun lini produksi.

Puncaknya, UBTech melantai di Bursa Efek Hong Kong pada akhir Desember 2023. Langkah itu menjadikannya salah satu perusahaan robot humanoid pertama di Tiongkok yang mencatatkan sahamnya di pasar modal. Nilai kapitalisasi pasarnya sempat bergerak di kisaran yang jika dikonversi setara dengan puluhan triliun rupiah, dan angka sekitar Rp 54 triliun kerap muncul dalam pembahasan mengenai valuasi bisnis tersebut.

Pasar yang Sedang Memanas

Langkah UBTech berbarengan dengan gelombang minat baru terhadap robot humanoid. Tesla mengembangkan Optimus, Figure AI menarik pendanaan besar, dan sejumlah perusahaan Tiongkok lain seperti Unitree serta Fourier Intelligence ikut berlomba. Pemerintah Tiongkok sendiri menempatkan robot humanoid sebagai salah satu prioritas industri masa depan.

Di tengah persaingan itu, posisi UBTech dinilai relatif mapan karena telah memiliki portofolio produk komersial, bukan sekadar prototipe. Perusahaan juga menguasai rantai pasok komponen, keunggulan yang penting ketika produksi massal menjadi kunci.

Tantangan Komersialisasi

Meski begitu, jalan menuju adopsi massal masih panjang. Harga robot humanoid masih jauh di atas daya jangkau konsumen biasa, sementara keandalan dan keamanan dalam lingkungan dinamis terus diuji. Banyak pengamat menilai bahwa tahap awal komersialisasi akan terjadi di pabrik dan gudang, tempat tugas bersifat berulang dan lingkungan relatif terkendali.

Bagi Zhou Jian, persoalan itu tampaknya bukan hal baru. Ia berulang kali menyatakan bahwa membangun robot seperti Doraemon membutuhkan kesabaran lintas generasi. Imajinasi seorang anak yang menonton animasi tiga dekade lalu kini berubah menjadi perusahaan bernilai puluhan triliun rupiah, meski wujud robot yang bisa menjadi sahabat manusia sepenuhnya masih dalam proses.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dewi Lestari

Penulis kesehatan & nutrisi. Fokus pada topik gizi keluarga dan pola hidup sehat alami.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter